Diperlukan orang sekampung untuk membesarkan seorang anak.
-Hillary Clinton
Kata-kata mantan ibu negara Amerika Serikat ini benar adanya. Bukan hanya orang tua yang memegang peranan dan pertumbuhan dan perkembangan seorang anak menjadi dewasa. Ada kakek-nenek, paman-bibi, saudara kandung, para sepupu yang ikut membesarkan dan mendidik anak Anda. Pengasuh, guru bahkan orang-orang di sekitar Anda seperti tetangga juga mempunyai peran dalam membesarkan seorang anak.
Tampilkan postingan dengan label tips untuk orang tua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips untuk orang tua. Tampilkan semua postingan
Orang Tua pun Perlu Bermain
Orang tua pun perlu bermain... bersama anak-anak.
Bermain kubangan air... Bermain pura-pura... Piknik di ruang keluarga... Tidak apa-apa rumah berantakan... Tertawa ketika anak bercerita lucu... Berkemah di halaman belakang... Pesta dansa... Bersenang-senang... Bermain lumpur... Memanjat pohon... Saling gelitik... Menciptakan karya seni bersama... Bertingkah bodoh... Bermain hujan... Ciuman gaya Eskimo... Sering-sering katakan "Ya!"... Bacakan cerita tambahan... Ekplorasi...
Nikmati saat ini, buatlah menjadi berkesan... Buat setiap saat bermakna
ANDA TAK AKAN DAPAT KEMBALI KE MASA KECIL ANAK-ANDA
TAPI ANDA AKAN KEHILANGAN MASA ITU KETIKA MEREKA TUMBUH DEWASA
Kisah Seekor Lalat
Seekor lalat terbang di dekat
sebuah rumah. Melalui sebuah pintu kaca,
dilihatnya makanan yang lezat di meja makan. Pintu kaca itu tidak tertutup
rapat sehingga lalat dapat menyelinap masuk.
Setelah kenyang makan, lalat
terbang kembali mencari pintu yang
dilaluinya tadi, tapi pintu itu sudah tertutup rapat. Ia terbang
berputar-putar, mencari celah di sekeliling pintu, tapi tidak ditemukannya.
Kadang-kadang ia menabrak pintu dengan harapan bisa menerobos keluar, tapi
tentu saja sia-sia. Hari sudah malam, lalat sudah kelelahan dan putus asa. Ia
pun jatuh ke lantai.
Esok harinya, serombongan
semut merah berjalan ke luar dari sarang untuk mencari makanan. Mereka
menemukan lalat yang sudah hampir mati. Semut-semut itu menggigit lalat hingga
mati dan beramai-ramai mengangkut bangkainya ke sarang.
“Kenapa lalat ini tidak dapat
keluar dari rumah ini, kek?” tanya seekor semut muda kepada seekor semut yang
lebih tua. “Kemarin kulihat ia terbang dan menabrak-nabrak kaca. Sekarang ia
malah jadi makanan kita.”
“Lalat ini telah berusaha
keras untuk keluar, nak. Tapi usahanya tidak juga berhasil sehingga ia kelelahan dan
putus asa,” jawab semut tua.
“Kalau ia berusaha keras...
mengapa ia tidak berhasil, kek?” semut muda itu bertanya lagi.
“Ia memang berusaha keras,
nak,” kata semut tua yang bijaksana itu. “Tak henti-henti dan tanpa menyerah, ia terbang mengelilingi
pintu kaca, tapi karena terus
menggunakan cara yang sama, ia tetap gagal.”
“Kalau saja ia mau
mengalihkan perhatiannya dari pintu kaca itu, mungkin ia melihat lubang angin
di atas pintu kaca yang dapat dilaluinya.”
“Ingat, nak,” kata kakek
semut. “Jila kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan
hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini.”
Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang
berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara-cara yang berbeda.
Sebagai
orang tua, kita sering menemui jalan buntu dalam mengasuh dan mendidik
anak-anak kita. Teruslah berusaha, karena menjadi orang tua membutuhkan waktu
dan kesabaran untuk mencapai hasil yang diharapkan. Namun, bila usaha keras
kita tidak juga membuahkan hasil yang memuaskan, berhentilah sejenak, renungkan
apa yang telah Anda usahakan selama ini. Dan menjauhlah dari masalah Anda
seperti lalat itu terbang menjauhi pintu kaca, dan mungkin Anda akan melihat
lubang angin yang dapat menjadi jalan keluar Anda!
Be
a happy and resourceful parent!
Tips Parenting, Langsung dari Anak-anak
Ingin tahu apa yang diinginkan anak-anak dari orang tuanya? Penulis JS Salt bertemu dengan lebih dari 1000 anak-anak berusia 6-12 tahun. Ia meminta anak-anak menulis “Bila aku dapat memberi tahu orang tuaku bagaimana cara membesarkan aku, aku akan mengatakan....”
Tulisan
anak-anak itu dirangkum dalam buku Always Kiss Me Goodnight:
Instructions on Raising the Perfect Parent — by 147 Kids Who Know, yang ditulis dengan
kata-kata anak-anak itu sendiri.
Berikut ini sebagian harapan anak-anak untuk orang tua mereka
1. Orang tuaku tidak
banyak berteriak dan membentak
2. Bangga terhadap anak walaupun nilai raportnya kurang bagus
3. Orang tua menceritakan
masa kecil mereka
4. Mengijinkan anak
menginap di rumah teman
5. Mengatakan, “Lebih
baik bila kamu melakukannya seperti ini” daripada “Cara kamu melakukannya
salah.”
6. Anak tidak ingin
dimanjakan tetapi kemudian disalahkan karena manja.
7. Hadir dalam peristiwa-peristiwa
istimewa anak.
8. Mengantar anak
berangkat tidur dan membacakan cerita.
9. Ketika orang tua
marah, selalu ingat untuk memaafkan anak
10. Jangan pernah lupa
memberi anak ciuman selamat malam.
Keinginan anak-anak
ini sederhana dan lugu tapi merupakan harapan besar dalam hati mereka agar orang tua menunjukkan kasih sayang yang tulus.
Anda dapat menujukkan
kasih sayang Anda kepada anak-anak Anda dengan:
·
Bersikap hormat kepada anak.
·
Menyediakan waktu untuk anak dan hadir dalam hidup anak
·
Menyelesaikan konflik dengan benar
·
Memberikan kepada anak kebebasan yang bertanggung
jawab
Tip Parenting Singkat
Yang dibutuhkan orang tua bukanlah menambah dosis kasih sayang untuk anak, namun penguasaan ketrampilan berkomunikasi. Sebuah skill yang hanya bisa dikuasai melalui latihan terus menerus.
-Andyda Meliala
Hadir Untuk Anak Anda
Mengasuh anak dengan efektif sangat memerlukan kehadiran orang tua. Bukan hanya sekedar kehadiran fisik, namun juga perhatian dan pikiran.
Salah satu hal yang paling menghambat orang tua dalam berkonsentrasi pada anak adalah pikiran negatif seperti: rasa bersalah, kemarahan, menyalahkan orang lain, ketidakpuasan.
So Ayah Bunda, berusahalah untuk hadir jiwa raga bagi anak anda dengan mengatur pikiran anda.
- Andyda Meliala
.
Mengapa Anak Nakal?
Pernahkah kita
merasa kesal ketika menghadapi kenakalan anak? Ya, anak-anak memang bisa
bertingkah mengesalkan. Mereka marah, menjerit-jerit, memukuli kakak atau
adiknya, tidak mau menurut, merusak barang, dan bersikap seenaknya. Anak-anak
selalu berusaha melawan batasan-batasan yang telah ditetapkan orang tua. Sebetulnya
mereka ingin tahu apa yang akan terjadi jika mereka marah, memukul, atau
mengucapkan kata-kata kasar.
Ada beberapa
alasan di balik perilaku buruk anak:
·
Mereka kesal atau khawatir
dengan sekolah.
·
Mereka kesal terhadap saudara
mereka.
·
Mereka ingin didengarkan.
·
Mereka ingin ditemani oleh
orang tua.
Biasanya
anak-anak bertingkah buruk semata-mata untuk mencari perhatian. Jika mereka sudah bersikap baik, tapi orang tua tetap
tidak memberi perhatian, biasanya anak akan terus “bertingkah”. Tujuan mereka
hanya satu, yaitu mencari perhatian, bahkan jika pada akhirnya perhatian yang
mereka dapatkan berupa teguran.
Dalam kasus
seperti ini orang tua perlu mencari cara untuk mengurangi suasana yang menekan di
rumah. Orang tua perlu membantu anak dalam mengendalikan perilaku dan mengatur
hidup mereka sehari-hari.
Keterlibatan Ayah dalam Perawatan Bayi
Banyak
ibu yang baru melahirkan mengeluh, suaminya tidak mau membantu merawat bayi,
misalnya mengganti popok pada malam hari atau menyiapkan botol susu. Ayah seolah tidak peduli bahwa bunda sudah
lelah seharian merawat bayi dan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga lain.
Nah,
Bunda, banyak ayah yang siap merawat bayinya begitu lahir (bahkan ada suami
yang justu mengajari isterinya cara menggendong dan membedong bayi mereka), sebetulnya lebih banyak
Ayah yang merasa canggung merawat bayi
terutama anak pertamanya, karena tidak tahu caranya!
Bisa
jadi Ayah terlalu sibuk dengan pekerjaannya, sehingga menyerahkan perawatan
bayi sepenuhnya kepada Bunda. Keterlibatan Ayah dalam merawat bayi bukan hanya
untuk kepentingan Bunda. Ayah juga perlu membangun kelekatan batin dengan si
kecil.
Orang
tua baru sering merasa takut merawat bayi yang baru lahir. Bayi tampak begitu
kecil dan lemah sehingga Bunda dan Ayah sering tidak merasa tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Anda perlu waktu,
observasi dan latihan untuk merawat bayi
yang baru lahir. Seorang ayah yang biasanya merasa bahwa ialah yang kuat dalam
keluarga, kali ini merasa tidak berdaya.
Akibatnya sering kali seorang ayah,
menarik diri, tidak ingi terlibat dalam perawatan bayi.
Silakan
coba tip melibatkan Ayah dalam perawatan bayi:
Libatkan Ayah sejak Bunda Hamil
Melibatkan Ayah dalam
perawatan bayi dimulai sejak Bunda hamil. Ayah akan lebih banyak mengamati
perkembangan bayi.
- Ajak Ayah ketika Bunda mengunjungi dokter kandungan, khususnya ketika
Anda akan melakukan pemeriksaan USG.
- Ajak Ayah mendampingi ketika Anda
- Ajak Ayah ngobrol tentang bagaimana keseharian Ayah Bunda kelak ketika
bayi sudah lahir, misalnya ketika si kecil berumur 3 bulan, 1 tahun atau
lebih besar.
- Tanyakan apakah Ayah memiliki kekhawatiran seperti tidak tahu cara
merawat bayi. Yakinkan Ayah bahwa ia akan menjadi ayah yang baik. Juga
bahwa walaupun Anda berdua perlu banyak belajar, Ayah akan dapat merawat
bayi dengan baik.
- Diskusikan bahwa Bunda akan membutuhkan bantuan Ayah dalam merawat
bayi, seperti bangun ketika bayi menangis pada malam hari, memberikan
botol susu, menyuapi, mengganti popok dan menenangkan bayi yang rewel atau
menangis.
- Katakan terus terang apa yang Bunda harapkan dari Ayah untuk terlibat dalam merawat bayi. Tentu saja Bunda perlu mengemukakan harapan yang realistis. Kemukakan alasannya, dalam hubungan dengan manfaat keterlibatan Ayah bagi bayi, dirinya sendiri, Anda dan perkawinan Anda. Jelaskan bahwa keterlibatan Ayah akan lebih mudah membentuk kelekatan batin antara Ayah dan bayi.
Ketika bayi sudah hadir dalam keluarga
- Percayalah pada kemampuan Ayah sebagai orang tua. menurut banyak
penelitian, seorang ayah memiliki kemampuan menjadi orang tua dengan kasih
sayang dan ketrampilan sama seperti seorang ibu.
- Berikan dorongan yang Ayah butuhkan karena ia sedang mempelajari
ketrampilan baru yang kadang-kadang lebih suka dihindarinya bila mungkin,
misalnya ketika harus mengganti popok. Jelaskan bahwa Bunda sendiri juga
sering mengalami kesulitan.
- Tunjukkan bahwa Bunda menghargai usaha Ayah, walaupun mungkin
cara-cara yang digunakannya berbeda dengan Anda atau ketika Ayah
mengajarkan sesuatu yang baru kepada Anda.
- Tahan diri Anda, jangan terlalu banyak memerintah, “mengajari” dan
mengkritik Ayah dalam perawatan bayi. Jangan membesar-besarkan masalah
kecil, misalnya Ayah memasangkan celana ungu dengan baju merah, Anda cukup
tersenyum sambil mengingat bahwa untuk mencocokan baju dan celana kerjanya
saja, Ayah sering minta pendapat Bunda.
- Ketika Bunda perlu memberi saran, lakukan dengan hormat dan spesifik.
Memberikan ide positif mengenai apa yang bisa ayah lakukan lebih baik
daripada melarang Ayah melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukannya
dengan baik.
- Jangan segan meminta Ayah melakukan sesuatu untuk membantu Anda. Di kemudian
hari, ketika Anda sibuk, Ayah akan tahu apa yang harus dilakukannya tanpa
disuruh.
- Beri kesempatan kepada Ayah untuk banyak berinteraksi dengan bayi.
Ketika bayi rewel, biarkan Ayah untuk menenangkan bayi tanpa campur tangan
Anda. Ketika anak sudah balita, minta Ayah sekali-kali mengenalkan makanan
baru kepada anak. Minta anak untuk meminta ayahnya bermain bersamanya,
membacakan cerita. Minta Ayah mengantar anak pergi tidur.Usahakan agar Ayah
mempunyai kesempatan besama anak-anak tanpa Anda.
- Minta Ayah ikut mengantarkan Anda membawa anak ke dokter. Usahakan agar
dokter berbicara kepada Anda berdua.
- Sebelum kehadiran bayi, mungkin Anda sering berjalan-jalan berdua.
Ajak Ayah dan bayi berjalan-jalan bertiga, Anda dapat menggunakan kereta
bayi atau minta Ayah menggendong bayi.
Walaupun mungkin
sulit bagi Ayah untuk mulai terjun dalam perawatan bayi, dengan pengalaman dan
latihan, lambat laun Ayah tidak canggung lagi dan akan makin trampil dan luwes
dalam merawat bayi.
Sumber:
Aku Senang Punya Adik Bayi
Hubungan antara kakak dengan adik bayi sangat penting. Banyak anak merasa tersisih dengan kelahiran bayi, bahkan sebelum bayi lahir. Dengan mempersiapkan anak menjadi seorang kakak dan menjaga hubungan Anda dengannya
Persiapkan anak-anak Anda menyambut kelahiran adik bayi dengan tip berikut:
Sebelum adik bayi lahir:
Sering kita melihat orang-orang yang mengolok-olok anak yang akan segera memilki adik, misalnya, “Nanti ketika adikmu lahir, mama kamu tidak sayang lagi sama kamu.” Walaupun mungkin Anda merasa kesal dengan ucapan seperti itu, Anda tidak perlu khawatir atau menegur orang itu. Persiapkan anak Anda dengan baik dan tunjukkan bahwa walaupun perhatian Anda mungkin terbagi dengan lahirnya bayi, Anda tetap menyayangi dan memperhatikan anak yang lebih besar.
Selama kehamilan, katakan kepada anak bahwa Anda sering merasa tidak sehat. Anda juga mungkin tidak dapat melakukan sebagian dari hal-hal yang biasa Anda lakukan bersama anak seperti bermain kejar-kejaran atau duduk di lantai. Anda juga menghindari menggendong anak karena perut yang membesar dan menghidari tambahan beban.Jelaskan kepada anak bahwa Anda sedang tidak enak badan, misalnya pinggang atau kaki Anda sakit, tetapi jangan mengatakan bahwa itu karena bayi dalam kandungan Anda, sehingga anak tidak merasa iri atau tersisih.
Ceritakan kepada anak masa ketika ia masih bayi, bagaimana Anda menggendong, memandikan dan sebagainya. Tunjukkan foto-foto anak ketika masih bayi
Ajak anak Anda ketika Anda memeriksakan kandungan. Ajak anak menyentuh perut Anda. Minta anak mendengarkan detak jantung bayi dan merasakan gerakan bayi dalam perut Anda. Anda juga dapat meminta anak berbicara atau menyanyi untuk adiknya.
Berikan anak sebuah boneka dan ajarkan anak Anda menggendong, memakaikan baju atau pura-pura memandikannya.
Bicarakan dengan anak, seperti apa adiknya nanti. Apa yang dilakukan bayi yang baru lahir, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh bayi.
Setelah Kehadiran adik bayi:
Atur perawatan anak Anda ketika Anda di rumah sakit untuk melahirkan. Jangan lupa membicarakannya dengan anak jauh-jauh sebelum tanggal perkiraan kelahiran.
Ketika Anda melakukan persiapan untuk melahirkan, seperti menyiapkan koper berisi pakaian, ajak anak Anda membantu.
Minta anak ikut memilih nama untuk adiknya. Bila Anda khawatir nama yang diberikan sang kakak tidak cocok dan akhirnya tidak diberikan kepada bayi, minta anak memilih satu nama dari dua atau tiga nama favorit yang sudah Anda siapkan.
Anda mungkin harus tinggal beberapa hari di rumah sakit. Minta ayah untuk mengajak kakak melihat adiknya di rumah sakit. Luangkan waktu untuk berbicara beberapa kali dengan kakak dengan telepon.
Ketika Anda pulang membawa bayi, minta ayah menggendong adik sehingga Anda dapat memeluk kakaknya.
Ajak kakak menemui tamu yang datang untuk melihat adik. Dorong anak untuk bercerita tentang adiknya kepada tamu dan keluarga.
Perawatan bayi:
Ajak anak terlibat dalam perawatan bayi dengan memintanya melakukan hal-hal yang dapat dilakukannya seperti mengambilkan popok, baju bayi, dan keperluan bayi lainnya, membantu melipat pakaian bayi
Ajak anak mengamati Anda memandikan, mengganti pakaian bayi.
Minta anak berbicara kepada bayi. Katakan bahwa adik bayi menyukai suara kakak.
Ketika bayi sudah agak besar, tanyakan kepada kakaknya apakah mau meminjamkan mainan kepada adik. Katakan bahwa tidak apa-apa bila kakak tidak mau meminjamkan mainan kesayangannya.
Ajak kakak bermain dengan adik bersama Anda
Peluk dan ajak kakak berbicara pada saat-saat Anda merasakan anak merasa cemburu atau tersisih. Pujilah sikap baik kakak kepada adik dan abaikan ketika sikapnya kurang baik. Biarkan anak ‘tidak sengaja’ mendengar Anda mengatakan kepada keluarga atau orang lain bahwa ia adalah seorang kakak yang baik. Termasuk ketika Anda berbicara kepada bayi, sebutkan betapa beruntungnya adik memiliki kakak yang baik dan sayang kepadanya.
Luangkan waktu-waktu khusus untuk berduaan dengan kakak. Misalnya ketika kakak mau berangkat tidur. Bila dulu Anda biasa mengantar kakak ke sekolah dan tidak lagi setelah adik lahir, atur agar Anda dapat mengantarnya sekali-sekali.
Tambahkan hak istimewa kepada kakak. Hak istimewa bahkan dapat berupa tugas membantu pekerjaan di rumah yang “hanya bisa dilakukan oleh kakak”. Buat anak bangga dengan peranan barunya sebagai kakak.
Sumber:
Tip Keamanan Anak, Membiasakan Anak Minta Ijin
Membiasakan anak meminta ijin sebelum pergi adalah salah satu cara menjaga keamanan anak. Anda perlu tahu ke mana anak-anak Anda pergi dan apa aktivitas yang mereka lakukan
Ajarkan anak-anak mengikuti tip berikut ini:
- Selalu meminta ijin kepada orang tua bila kamu ingin pergi.
- Katakan ke mana kamu akan pergi, dengan siapa, dan apa keperluannya. Katakan juga berapa lama kamu akan pergi.
- Beri tahu orang tua bila kamu tidak langsung pulang ke rumah dari sekolah, misalnya ke rumah teman untuk mengerjakan PR.
- Jangan pergi ke taman, mal, bioskop atau tempat hiburan lain sendirian.
- Temui orang tua atau orang lain yang ada di rumah ketika kamu pulang, sehingga mereka tahu bahwa kamu sudah pulang.
Anda perlu menekankan kepada anak-anak, bahwa Anda tidak bermaksud memata-matai atau membatasi kebebasan mereka, tetapi untuk menjaga keamanan mereka. Berikan penghargaan untuk usaha anak mengikuti saran Anda, misalnya berikan pujian bila anak-anak pulang pada waktu yang mereka janjikan dan ucapkan terima kasih ketika anak memberi tahu bahwa ia akan pulang terlambat.
Tip Keamanan Anak Di Sekolah
Sebagai orang tua, kita ingin anak-anak kita selalu aman dan selamat. Ajarkan anak-anak tip untuk menjaga keamanan ketika berangkat dan pulang dari sekolah berikut ini:
- Berjalan atau bersepeda ke sekolah bersama teman.
- Menumpang bis atau kendaraan umum lain bersama teman-teman
- Berjalanlah di trotoar atau pinggir jalan dan perhatikan kendaraan di sekitarmu.
- Selalu menyeberang jalan di tempat penyeberangan atau jembatan penyeberangan. Jangan lupa untuk melihat ke kanan dan kiri dan pastikan jalan aman, sebelum menyeberang.
- Jangan mengobrol berlebihan atau bercanda ketika berjalan bersama temanmu.
- Bila ada orang yang mengganggu ketika kamu pergi atau pulang dari sekolah, segera menghindar. Ceritakan kejadian itu kepada guru atau orang tua
- Bila orang tua selalu mengantar dan menjemputmu, Tunggulah orang tua menjemput di lingkungan sekolah.
- Jangan pulang sendiri bila orang tua terlambat menjemput.
- Bila orang tua sangat terlambat menjemput. Cari guru atau karyawan sekolah yang lain, dan minta mereka menghubungi orang tuamu.
Bayi Tidur Nyenyak Sepanjang Malam
Bayi sulit tidur, orang tua,
terutama Bunda, biasanya juga jadi kurang tidur. Apalagi bila bayi rewel atau
sering terbangun di tengah malam.
Ikuti beberapa tip manjur
untuk membantu bayi tidur nyenyak berikut ini.
Irama
Bayi yang baru lahir membutuhkan
tidur hingga 16 jam sehari, terbagi menjadi beberapa kali tidur. Pada usia 3
bulan, bayi kadang-kadang tidur hingga 5 jam setiap kali. Pada usia 6 bulan,
bayi biasanya tidur 9 – 12 jam pada malam hari.
Aktivitas
Ketika bayi tidak tidur, ajaklah bayi berbicara,
bermain dan nyanyikan beberapa lagu. Stimulasi pada siang hari dapat membantu
bayi tidur nyenyak.
Hindari
kontak mata
Sabrina James dari Babytalk memberikan sebuah tip unik. Hindari kontak mata dengan
bayi ketika menidurkan bayi, juga ketika bayi terbangun pada tengah malam. Bayi
bertatapan dengan Anda ketika berinteraksi seperti bermain atau ketika Anda
berbicara dengannya. Kontak mata akan diartikan bayi sebagai waktu untuk
bermain, bukan waktu tidur.
Rutinitas
Usahakan bayi tidur pada waktu yang sama tiap hari,
misalnya pada jam 18.30 – 19.00 tiap malam.
Lakukan aktivitas yang menenangkan bayi seperti membersihkan bayi dan
mengenakan pakaian yang bersih, menyanyi, membacakan cerita atau memutar musik
yang membuat bayi rileks. Bayi akan memahami aktivitas ini sebagai persiapan
menjelang tidur.
Perlu diingat bahwa seperti orang dewasa, bayi
memilih sendiri waktu tidurnya. Ada bayi yang tidur agak larut atau justru
sore-sore sudah tidur. Demikian juga, bila bayi sudah lelah dan mengantuk
sebelum jam tidur biasanya, biarkan bayi tidur. Bila Anda memaksakan bayi
menunda tidurnya, bisa jadi bayi malah sulit tidur dan rewel. Biarkan bayi
tidur kapan pun ia mau.
Membaringkan
bayi
Letakkan bayi di tempat tidur dalam keadaan
mengantuk namun belum tertidur. Bayi akan belajar bahwa berbaring di tempat
tidur adalah bagian dari proses tertidur. Kosongkan tempat tidur bayi.
Singkirkan benda-benda yang dapat
membuat nafas bayi terganggu seperti bantal, guling, selimut dan mainan bayi. Pastikan
sprei atau alas bayi terpasang dengan benar sehingga tidak dapat membelit tubuh
bayi atau menutupi wajahnya. Selimut yang berupa kantong atau sleeping bag lebih aman daripada selimut
yang berupa selembar kain.
Sentuhan
kasih
Bayi mungkin tidak langsung tertidur setelah
berbaring di tempat tidurnya. Mungkin ia akan menangis atau rewel sebelum
akhirnya tertidur. Biarkan ia mencari posisi yang nyaman. Bila bayi tidak juga
tertidur, ajaklah berbicara dengan suara lembut dan menenangkan. Sentuh bayi
pada kepala, perut dan lengan dengan elusan lembut. Tepuk-tepukan lembut pada
pantat bayi juga dapat membantu bayi cepat tertidur.
Jangan
sampai menangis
Bayi sering terbangun pada malam hari karena lapar
atau ngompol. Biasanya bayi lapar pada jam-jam tertentu setiap malam. Usahakan
untuk memberikan ASI atau botol susu sebelum bayi terbangun. Biasanya bayi
tetap tertidur pada saat menyusu.
Bila bayi mengenakan popok sekali pakai pada malam
hari, pilihlah popok yang memungkinkan dipakai sepanjang malam. Tentu saja ini
dapat dilakukan bila bayi tidak terlalu banyak buang air kecil. Bila bayi mudah
iritasi karena popok, tentu saja Anda harus sering mengganti popoknya. Usahakan
mengganti popok dengan cara sedemikian rupa sehingga bayi tidak perlu
terbangun.
Jangan
tidur bersama bayi
Bayi yang tidur bersama orang tuanya biasanya sulit
membiasakan tidur sendiri. Bila Anda ingin berdekatan dengan bayi ketika tidur,
tempatkan tempat tidur bayi tepat di samping tempat tidur Anda.
Suasana
tidur yang nyaman
Kamar yang panas atau terlalu dingin membuat bayi
sulit tidur. Aturlah agar kamar bayi sejuk dan nyaman.
Redupkan lampu kamar bayi. Bayi akan menghubungkan
suasana yang agak gelap dengan tidur. Ketika bayi terbangun pada tengah malam
ia akan tahu bahwa sekarang waktu tidur dan bukan waktu bermain.
Bayi tidur yang tidur nyenyak sepanjang malam pasti menjadi
idaman semua orang tua, namun mungkin tidak dapat terjadi begitu saja. Berikan
waktu kepada bayi dan diri Anda sendiri untuk menyesuaikan diri. Pahami
kebiasaan bayi dan cara-cara berkomunikasi yang tepat sehingga Anda dapat
membantu bayi tidur nyenyak.
Sumber:
Disiplin Positif
Banyak orang menganggap untuk
mendisiplinkan anak perlu menggunakan prinsip:
“Harus dikerasin, biar jadi anak yang
baik.” Bila anak melakukan suatu kesalahan atau hal yang tidak disukai orang
tua, anak dimarahi atau dihukum. Ada pula orang tua yang selalu mengingatkan
anak, “Jangan ini, jangan itu.” atau “Ga boleh begitu.” Tak sedikit juga orang
tua yang menghentikan tindakan anaknya dengan,”Jangan berteriak!” yang menggelegar
sehingga para tetangga mendengar.
Sadarkah Anda, bahwa sudah bukan jamannya
lag menggunakan cara-cara di atas? Anak-anak dapat berperilaku baik tanpa
menggunakan cara yang menyakiti hati anak dan Anda sendiri. Marah dan mengomel
hanya membuat Anda lelah. Hukuman fisik
mungkin dapat membuat anak patuh, namun pada akhirnya anak hanya takut dihukum
dan kadang-kadang tetap berperilaku kurang baik, dan menanamkan dalam diri
mereka: “Ga apa-apa asal ga ketahuan.”
Berikut ini beberapa tip mendisiplinkan anak
dengan cara-cara yang positif
1. Memahami makna di balik perilaku
anak
Walaupun kita sering menganggap
anak berperilaku buruk, sebenarnya si anak melakukan apa yang dianggapnya
terbaik. Pahami mengapa anak berperilaku tertentu. Misalnya anak memukul
adiknya hanya karena ingin mendapat perhatian dari Anda. Bila Anda menemukan penyebab perilaku anak, Anda dapat memperbaikinya dengan
menghilangkan penyebab itu atau berbicara dengan anak untuk memulihkan
emosinya. Luangkan waktu untuk merefleksi diri, apakah salah satu penyebab anak
berperilaku buruk adalah perilaku Anda sendiri? Anda terlalu sibuk, misalnya,
atau anak Anda yang lebih kecil banyak membutuhkan perhatian sehingga kakaknya
merasa diabaikan. Luangkan lebih banyak waktu bersama anak. Tanamkan pemahaman
bahwa adik membutuhkan perhatian yang lebih besar karena belum dapat melakukan
apa-apa sendiri.Dulu kamu juga begitu waktu umurmu sama dengan adik sekarang.”
2. Kendalikan diri Anda
Anda mungkin marah, kesal atau
bahkan frustasi ketika anak berperilaku buruk. Dalam kondisi emosional seperti
itu, kita sering terpancing sehingga melakukan hal-hal yang akan kita sesali
seperti memarahi bahkan memukul anak. Cobalah menarik napas dalam-dalam beberapa
kali atau menghitung sampai 10 lambat-lambat.
Bila usaha itu tidak dapat membantu menenangkan Anda, tinggalkan anak
sejenak untuk meredakan emosi Anda. Tentu
saja ini hanya bisa dilakukan bila kondisinya memungkinkan, seperti Anda sedang
ada di rumah.
3. Berikan contoh yang baik
Orang tua adalah contoh bagi
anak-anak. Bila Anda berteriak, memarahi atau memukul anak ketika berperilaku
buruk, sama saja Anda membanarkan anak untuk melakukan hal yang sama. Anak yang
dipukul cenderung memukul saudaranya, temannya atau bahkan memukul Anda
.
4. Respek
Cara terbaik untuk mengajarkan
respek kepada anak adalah dengan menunjukkan bahwa kita menghormatinya.
Berteriak kepada anak menunjukkan bahwa kita tidak menghormatinya. Dekati anak
Anda dan gunakan kalimat positif. Atau ajak anak melakukan aktivitas lain.
5. Fokus pada perilaku baik
Kadang-kadang anak berperilaku
buruk karena mencari perhatian. Selama perilaku seperti ini tidak membahayakan
anak atau dapat melukainya, Anda dapat mengabaikannya. Berpura-puralah Anda tidak melihat atau
mendengarnya. Bila anak yang mengamuk atau merengek diabaikan, lambat laun ia akan
mencari cara yang lebih baik untuk berkomunikasi dengan Anda.
Sebaliknya, berikan pujian
ketika anak melakukan perilaku yang baik. Jangan khawatir terlalu banyak
memberikan pujian kepada anak. Pujilah perilaku anak, dan bukan anaknya. Jangan
katakan misalnya “Kamu pintar!” tetapi “Bunda senang, sekarang sudah bisa bantu Bunda merawat adik.”
6. Positif
Anak yang selalu mendengar,”Jangan,”
atau “Tidak boleh,” cenderung mengabaikan larangan Anda. Kalimat positif biasanya lebih efektif
daripada larangan. Misalnya, ganti “Jangan
berteriak!” dengan “Kalau kamu berisik,
kamu akan membangunkan adik.” Atau “Ga boleh lari-larian!” dapat Anda tukar
dengan “Di dalam rumah lebih enak berjalan, kan kita tidak terburu-buru.”
7. Aturan dan konsekuensi
Tetapkan aturan sesuai dengan
ekspektasi Anda dan tentu saja sesuai usia anak Anda. Ajak anak berdiskusi
untuk menetapkan aturan dan konsekuensi yang diterima bila aturan dilanggar.
Selalu konsisten dengan aturan yang sudah disepakati. Konsekuensi bukan hukuman. Bila anak menerima keonsekuensi
karena perilakunya, pastikan bahwa anak paham bahwa ia tidak sedang dihukum.
8. Jangan menyuap anak
Menawarkan sesuatu agar anak
berperilaku baik adalah tindakan yang kurang bijaksana. Misalnya, anda ingin
mengajak anak ke rumah teman, namun Anda takut anak Anda nakal di sana. Jadi
Anda menjanjikan mainan atau makanan agar anak mau menjaga perilakunya. Apa yang terjadi bila Anda terus melakukan
ini? Anak akan berpikir, “Aku akan mendapat hadiah bila kelakuanku baik.” Anak hanya berperilaku baik karena
mengharapkan imbalan
Langganan:
Postingan (Atom)



