FAKTA TENTANG UNDERACHIEVER PADA ANAK


Seorang Ibu mengeluh, “ Kok, prestasi anak-anak saya di sekolah anjlok. Padahal  saya sudah kursuskan anak dengan pengajar-pengajar yang berkompeten". 

Tentu ada banyak orang yang tua yang menghadapi masalah ini. Namun ironisnya, lebih banyak lagi yang tidak menyadari jika anaknya mengalami underachiever.

Indikasi anak yang mengalami underachiever adalah prestasi akademisnya lebih rendah dari perkiraan berdasarkan umur, kemampuan dan potensi. Adapun ciri dari anak  yang mengalami underachiever antara lain:

          IQ lebih tinggi dari prestasi
          Prestasi tidak konsisten, kadang bagus, kadang tidak
          Tidak menyelesaikan PR
          Rendah diri
          Takut gagal (atau sukses)
          Takut menghadapi ulangan
          Tidak punya inisiatif
          Malas bahkan depresi


Diperkirakan jumlah anak yang mengakami underachiever di USA 10-40% dari populasi anak.  Namun banyak yang tidak menyadari jika hal ini timbul bukan karena faktor kecedasan rendah, melainkan berbagai masalah pribadi maupun social.

Hanya saja intervensi dini memberikan dapat hasil lebih efektif dalam menangani underachiever. Oleh sebab itu bagi orang tua yang mendapati anaknya memiliki prestasi yang tidak optimal,  ada baiknya diberikan perhatian. Apakah anak tersebut mengalami masalah personal yang membuatnya mengalami gangguan dalam belajar?

Dan penting kiranya orang tua mendapatkan saran dari pakar pendidikan anak untuk mengetahui dan melakukan penanganan terhadap anak yang mengalami underachiever.

CIRI-CIRI ANAK CERDAS BAHASA


Bakat berbahasa adalah salah satu kecerdasan yang mudah dikenali. Anak-anak dengan kecerdasan berbahasa tinggi biasanya mampu menggunakan struktur bahasa yang kompleks sebelum berumur 2 tahun. Hal-hal lain yang bisa menjadi tanda kecerdasan adalah:

Pada anak usia <4 tahun:
  • Walaupun masih bayi, tapi sudah mampu mengeluarkan bunyi sebagai respons terhadap percakapan dengan orang dewasa.
  • Mampu mengucapkan kata pertama pada usia dini.
  • Menggunakan kata-kata yang sering digunakan orang dewasa
  • Berbicara seperti orang dewasa, seolah-olah setara dengan orang dewasa
  • Mampu mengucapkan kata-kata sederhana dengan satu atau dua suku kata, menguasai jumlah kata yang banyak
  • Mampu membuat bunyi yang bermacam-macam walaupun tak ada artinya
  • Menirukan bunyi (ambulans, klakson mobil, mobil, dsb)
  • Mengenali (tidak harus membaca) huruf dan kata-kata, seperti misalnya simbol McDonald, KFC
  • Tertarik pada buku, membuka halaman dan tertarik pada isinya.
 Pada anak usia 5-7 tahun:
  • ·bicara dalam kalimat
  • mengerti dan mengikuti perintah dan permintaan
  • menirukan tindakan kita tanpa menggunakan kata-kata
  • merangkai kata-kata untuk berkomunikasi
  • berusaha menulis huruf
  • mulai membaca kata-kata
  • mengenali huruf dengan baik
  • senang membaca buku (walaupun dibacakan)
Mempelajari pengalaman saya pribadi, anak saya Jeremy yang masih berusia 2 tahun, selain fasih berbicara 2 bahasa (Ingris dan Indonesia), juga memiliki kemampuan bicara seperti anak-anak yang sudah besar. Pernyataan maupun pertanyaan yang dilontarkannya terkadang mengejutkan orang di sekitarnya, misalnya:

“Do you have energy mom? To sing a lot of songs for me?”

Jeremy juga senang sekali mencoba dan berhasil mengucapkan kata-kata sulit seperti jenis-jenis spesies Dinosaurus yang sangat disukainya, seperti:

“Euoplochephalus, Quetzalcoatlus, Dromiceiomymus, Tyrannosaurus Rex, Comsognathus, Brachiosaurus, dsb”

Dia juga peka terhadap perasaan orang lain dan sering menanyakan hal-hal seperti:

“Are you happy mom? Are you sad?”

ADA APA DENGAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA?

What's Wrong with The Early Childhood Education in Indonesia?" Begitu judul acara seminar kecil bersama Profesor Sandralyn Byrnes dari Royal Tots Academy yang digelar saat event Giggle Playgroup Day 2011, gelaran Miniapolis & Giggle Management, Jumat, 11 Februari 2011.


Apa yang salah dengan pendidikan anak usia dini di Indonesia? Saat ini sudah ada begitu banyak lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini yang berdiri di Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Mulai dari yang bersertifikasi internasional, berlatar agama, hingga lainnya. Begitu banyaknya penawaran dan embel-embel tersebut, tak heran orangtua kebingungan harus memilih yang mana yang tepat untuk anak.


Selama 7 tahun meriset dan mencari tahu mengenai proses pendidikan anak usia dini di Indonesia, Byrnes menemukan beberapa hal yang mengganjal. "Pertama, pendidikan anak usia dini tidak memiliki kurikulum yang universal," ungkap Byrnes yang merupakan kepala sekolah Royal Tots Academy, Kuningan, Jakarta. Tidak adanya standar universal membuat begitu banyak sekolah untuk anak usia dini yang bermunculan. "Belum ada yang membuat batasan, di usia anak sekian, ia harus sudah bisa melakukan apa saja. Jadi, beda sekolah, beda standar. Padahal tak sedikit yang menggunakan embel-embel 'internasional'. Embel-embel tersebut ternyata tidak menjadi jaminan kualitasnya," papar Byrnes yang diberi gelar sebagai Australia's & International Teacher of the Year.


"Namun, pada umumnya, kita semua tahu bahwa pendidikan anak usia dini itu penting, karena di usia inilah anak membentuk pendidikan yang paling bagus. Di usia inilah anak-anak harus membentuk kesiapan dirinya menghadapi masa sekolah dan masa depan. Investasi terbaik yang bisa Anda berikan untuk anak-anak adalah persiapan pendidikan mereka di usia dini," terang Byrnes yang berasal dari Australia ini.


Lebih lanjut, Byrnes mengungkapkan salah satu hal yang membuatnya kecewa adalah sering terjadi power struggle (tarik-ulur kekuatan) antara anak dengan gurunya. Ini bisa menjadi indikasi bahwa kurikulum atau cara guru mengajar membuat anak tidak merasa kerasan. Seharusnya sumber daya pengajar memiliki pengetahuan bagaimana cara menghadapi anak-anak, karena setiap anak berbeda.


Menurut Byrnes, beberapa lembaga pendidikan usia dini yang ia datangi di Indonesia tidak konsisten. Bahkan, beberapa sekolah anak usia dini yang ia temui memperbolehkan pengasuhnya ikut ke dalam kelas. "Buat saya, pengasuh mengambil alih otoritas orangtua. Saya tidak menyarankan pengasuh ke dalam ruang kelas. Ada alasannya. Anak-anak harus belajar mandiri. Saya pernah melihat dalam kelas ada seorang anak yang selalu dipangku pengasuhnya. Begitu guru mengajaknya belajar, ia malah memeluk pengasuh dan menolak diajak guru. Artinya, mereka tidak berani melakukan sesuatu. Anak-anak usia dini seharusnya pengambil risiko," terang Byrnes.


Byrnes mengungkap kembali bahwa saat ini pendidikan anak usia dini di Indonesia belum merata, bahkan sertifikasinya pun tidak menjadi jaminan. "Jika Anda mau pendidikan yang terbaik untuk anak-anak, maka pencarian sekolah pendidikan anak usia dini menjadi pekerjaan rumah terpenting para orangtua. Cari dengan hati-hati, jangan tergesa-gesa," sarannya.


Perlu diketahui lagi, ungkap Byrnes, pendidikan anak usia dini di Indonesia tidak sama, karena tidak disubsidi pemerintah seperti kebanyakan negara lain. "Karena itu, lihatlah uang sekolah untuk anak di usia dini sebagai investasi. Ketahuilah bahwa proses pendidikan anak tidak dimulai dari sekolah dasar, tetapi dari 18 bulan," ungkap Byrnes


Yang jadi masalah di lembaga pendidikan anak usia dini di Indonesia, tegas Byrnes, adalah kurangnya pelatihan guru-guru agar terus menjadi lebih baik, tak adanya kerjasama antara sekolah dengan orangtua, dan kurang kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini lainnya.


Artikel ini kami kutip agar menjadi refleksi bagi para pembaca Resourceful-Parenting

PENERIMAAN ORANG TUA DAN PERKEMBANGAN MENTAL ANAK


Orang tua menerima dan mencintai anak apa adanya, tanpa syarat”

Terbentuknya ikatan batin merupakan dasar perkembangan anak. Ikatan batin yang erat antara ibu dan anak, yang harus terbentuk segera setelah lahir, akan membuat anak tenteram dan bahagia menjadi dirinya.

Penerimaan total menjadi modal utama proses pembelajaran. Anak akan memiliki rasa aman dan menjadi antusias untuk mempelajari apapun yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Tunjukkan pada anak bahwa apa yang anda lakukan untuknya adalah berdasarkan kasih yang tulus, bukan sekedar kewajiban. Anak sangat peka untuk membedakan keduanya.

Penelitian menunjukkan, tidak terbentuknya ikatan batin sejak bayi, misalnya pada keadaan kelahiran anak yang tak diharapkan (gagal KB, bayi tanpa ayah, dll) dapat berdampak negatif yang berkepanjangan dan sulit disembuhkan.

Sebagai orang tua, kitapun perlu memupuk kasih sayang terhadap anak supaya pada saat-saat sulitpun-, misalnya ketika anak mulai belajar mandiri dan terdapat periode membangkang, -kita tetap konsisten memberi kasih sayang pada anak-anak.

PERMAINAN PERTANYAAN 20


Permainan Pertanyaan 20 mungkin adalah permainan tebak-tebakan yang paling jujur, yang dapat dimainkan oleh sesedikit atau sebanyak orang yang anda mau. Hanya dengan dua aturan sederhana, anda dapat bersenang-senang selama berjam-jam di rumah atau di perjalanan.

Tingkat kesulitan: Mudah

Yang anda butuhkan: Dua pemain atau lebih

Bermain 20 pertanyaan
1.    Tentukan  seorang pemain yang harus menjawab pertanyaan pemain-pemain lain. Pemain ini harus memikirkan sesuatu yang ada di alam semesta.  Ia hanya boleh menjawab pertanyaan pemain-pemain lain dengan Ya atau .

2.    Mulai permainan dengan pertanyaan yang bisa dijawab dengan Ya atau Tidak. Pertanyan yang terbaik ditanyakan pertama-tama misalnya “Apakah ini benda?” ini atau “Apakah benda ini unik?”
 
3.    Tanyakan sampai dengan 20 pertanyaan untuk mencoba menemukan apa yang dipikirkan penjawab. Pertanyaan klasik dalam Pertanyaan 20 ini adalah apakah obyeknya hewan, tanaman atau benda lain tetapi harap diingat bahwa benda-benda yang terbuat dari plastik atau benda buatan manusia lainnya tidak termasuk di dalamnya.

4.    Tanyakan pertanyaan seperti “Apakah benda ini hidup atau mati?” bila anda menduga obyek adalah makhluk hidup. Anda mungkin juga ingin menanyakan apakah benda itu manusia atau bukan, bila manusia apakah pria atau wanita. Pertanyaan yang bagus lainnya misalnya apakah manusia tersebut terkenal atau apakah ia adalah orang yang anda kenal.

5.    Jawablah pertanyaan yang meragukan yang tidak  dapat dijawab dengan “ya” atau “tidak” dengan mengatakan, “ Saya tidak dapat menjawab pertanyaan ini.” Anda juga dapat mengatakan “Saya tidak tahu.” bila anda tidak dapat menjawab pertanyaan.

6.    Menangkan permainan bila anda dapat menebak apa yang dipikirkan pemain pertama sebelum ke20 pertanyaan habis. Pemain penjawab menang bila pemain-pemain lain tidak dapat menebak apa yang ia pikirkan.

7.    Bermainlah dengan kelompok kecil untuk hasil terbaik. Ke20 pertanyaan akan terbagi rata di antara para pemain. Bila kelompok kecil semua pemain akan mendapat giliran bertanya.

8.    Mainkan ronde berikutnya dengan memberi kesempatan si pemenang memikirkan obyek berikutnya untuk ditebak pemain-pemain lain. Anda juga dapat mengundi atau memilih pemain yang menjawab pertanyaan.

NEUROPLASTISITAS DAN PERKEMBANGAN OTAK PADA ANAK-ANAK

Mengapa 5 tahun pertama kehidupan anak merupakan masa terpenting? 90% dari otak seorang anak berkembang pada 5 tahun pertama hidupnya. Otak bayi menyiapkan panggung bagi perkembangan intelegensi, kestabilan emosional, dan kepribadian anak. 

Riset juga menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dengan anak pada tahun-tahun awal ini berhubungan langsung dengan perkembangan kosa kata,  kematangan emosional, kesiapan membaca dan pada gilirannya pencapaian akademik.

Segera setelah lahir, milyaran sel otak mulai membentuk KONEKSI satu sama lain untuk membentuk jalur-jalur saraf di dalam sistem saraf. Masing-masing neuron mampu membentuk sebanyak 15.000 koneksi baru. Pada otak yang sehat dan kuat, koneksi-koneksi ini menjadi jaringan ataupun sirkuit yang menentukan pengalaman dan kapabilitas anak.

Otak bayi pada saat dilahirkan memiliki 100 milyar neuron. Bila otak tidak dirangsang sejak lahir, neuron-neuron ini akan layu dan mati, menghambat kemampuan anak untuk belajar dan berkembang sebagaimana mestinya. Otak bayi berumur 6 bulan sedikitnya 25% ukuran otak orang dewasa. Pada
usia 3 tahun, otak anak kira-kira seukuran dengan otak orang dewasa.

Pada tahun-tahun awal inilah pertumbuhan dan perkembangan neural otak paling plastis. Ini berarti bahwa otak paling mudah berkembang dan dibentuk pada tahun-tahun awal ini.

Fondasi apa yang ingin anda letakkan di awal kehidupan anak?

KECERDASAN MAJEMUK

Penelitian mutakhir mengenai seluk beluk OTAK makin membukakan mata kita mengenai kecerdasan otak manusia. Bahwa ternyata, kecerdasan manusia tidak dapat disimpulkan hanya dengan penilaian IQ saja. Menurut para ahli, nilai tes IQ hanya menggambarkan kualitas 2 jenis kecerdasan saja, yaitu: kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematika.

Belakangan ini makin banyak penelitian yang mengusulkan bahwa tinggi rendahnya nilai tes IQ tidak bisa dipakai untuk meramalkan sukses seseorang ketika dewasa. Tes IQ bukan mengukur kualitas yang dibutuhkan untuk sukses dalam pekerjaan, seperti kemauan keras, percaya diri, motivasi maupun kecerdasan sosial.

Tes tersebut juga tak mampu mengukur kemampuan sesorang untuk menentukan prioritas, manajemen waktu dan efisiensi. Misalnya, kreatifitas dan intuisi yang merupakan hal utama dalam ilmu pengetahuan dan seni tidak bisa dinilai dari hasil tes IQ.

Sebagai contoh, kreatifitas seringkali melibatkan kemampuan untuk melihat beberapa pemecahan dalam suatu masalah. Sementara IQ mengharuskan pilihan tunggal untuk pemecahan suatu masalah.

Menurut teori mutakhir, yaitu teori kecerdasan majemuk yang diajukan Howard Gardner, terbukti bahwa ternyata terdapat lebih banyak kecerdasan lainnya, selain IQ yang selama ini dikenal. Hingga saat ini beberapa pakar pendidikan telah berhasil menemukan minimal 9 Jenis Kecerdasan. Inilah yang kemudian dikenal dengan Kecerdasan Majemuk atau Multiple Intelligences.

Apabila dipelajari dengan seksama, model kecerdasan Gardner tersebut akan sangat membantu dalam memetakan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki setiap anak. Masingmasing jenis kecerdasan tersebut perlu dikembangkan seoptimal mungkin.

Caranya ? Ciptakanlah lingkungan yang menyenangkan dan bantulah anak menggunakan panca indra-nya untuk menumbuhkan semua kecerdasan itu. Jika anda telah mengusahakannya dengan optimal, maka bersiaplah untuk menerima hasil yang luar biasa yaitu:

Pertama, seluruh jenis kecerdasan anak akan tumbuh mencapai tingkat yang tinggi,

Kedua, bakat anak akan mudah teridentifikasi atau dikenali.

Dengan meraih kedua hal di atas, niscaya anak bertumbuh menjadi manusia seutuhnya, manusia dewasa yang mencapai potensi terbaiknya. Perlu diketahui bahwa setiap jenis kecerdasan bisa bertumbuh bersamaan hingga level yang sangat tinggi pada setiap anak, dan bahkan, dengan metode yang tepat anak bisa sampai ke pencapaian tingkat prestasi yang luar biasa.

Kecerdasan majemuk yang tinggi tersebut, jika dibarengi dengan bakat yang dirawat dengan optimal, maka akan membawa anak ke prestasi sekelas world champion namun tetap dapat menikmati hidupnya secara utuh.

Adapun 9 bentuk kecerdasan yang hingga saat ini dikenali, yang dimiliki setiap anak antara lain:
1.Kecerdasan Linguistik
2. Kecerdasan Matematis-Logis
3. Kecerdasan Visual-Spasial
4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
5. Kecerdasan Musikal
6. Kecerdasan Interpersonal
7. Kecerdasan Intrapersonal
8. Kecerdasan Naturalis
9. Kecerdasan Eksistensial

Adanya 9 kecerdasan ini menuntut orang tua dan para pengajar untuk menyesuaikan cara pendidikan anak sesuai dengan kecerdasan dominan anak. Saran saya, biarlah anak memilih aktifitas yang dia sukai, karena dengan berlandaskan rasa suka (fun) maka ia akan menyerap pelajaran dengan lebih optimal. Rasa suka itu timbul karena aktivitas tersebut sesuai dengan kecerdesan dominannya.