Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Cina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat Cina. Tampilkan semua postingan

Panci Ajaib


Tuan Haktak menemukan sebuah panci tembaga besar ketika menggali di kebunnya. Ia membawa panci itu pulang dan menunjukkannya kepada isterinya. Mereka gembira dengan penemuan panci itu karena mereka sangat miskin dan tidak punya barang berharga.

Sebelum membawa panci itu pulang, tuan Haktak memasukkan dompetnya ke dalam panci agar tidak jatuh di jalan. Dompet itu berisi 5 koin emas.

Di rumah, nyonya Haktak melongok ke dalam panci dan jepit rambutnya jatuh ke dalam panci. Ketika ia meraih jepit rambutnya, ternyata ia menemukan 2 jepit rambut dan 2 buah dompet suaminya masing-masing berisi 5 koin emas.

Suami isteri itu lalu memasukkan berbagai benda ke dalam panci dan mendapatkannya kembali 2 kali lipat. 

Pada suatu hari nyonya Haktak tak sengaja jatuh ke dalam panci. Tuan Haktak menariknya keluar dari panci dan menemukan satu lagi nyonya Haktak di dalam panci.


Tuan Haktak terkejut sekali hingga jatuh ke dalam panci. Sekarang ada dua pasang tuan dan nyonya Haktak. Mereka pun membangun sebuah rumah yang serupa dengan rumah mereka berdampingan dengan rumah lama mereka untuk tuan dan nyonya Haktak yang baru.

Kisah Shan Bo dan Ying Tai


Dahulu kala di Cina,  hanya anak laki-laki yang boleh bersekolah. Anak perempuan hanya boleh keluar rumah bila dikawal anggota keluarganya. Selain itu masyarakat mengganggap wanita tidak perlu mendapat pendidikan. Akibatnya, tidak ada anak perempuan yang pergi bersekolah.
Keluarga Zhu hidup di propinsi Zhejiang. Mereka adalah sebuah  keluarga kaya  mempunyai  beberapa anak lelaki. Satu- satunya anak perempuan mereka bernama Zhu YingTai. Ying Tai sangat haus ilmu pengetahuan dan ia iri kepada saudara-saudara lelakinya yang diijinkan bersekolah. Ia bertekad mencari cara agar dapat pergi bersekolah. Tiap hari ia meminta kepada orang tuanya agar diijinkan pergi bersekolah, tapi tentu saja mereka tidak mengijinkan.
Orang tua Ying Tai sangat menyayangi gadis itu, mereka ingin memenuhi keinginan anak gadis mereka itu untuk bersekolah.Pada suatu hari Ying Tai berdandan seperti anak laki-laki dan mmenunjukkan kepada orang tuanya bahwa ia dapat menyamar sehingga orang lain tidak tahu bahwa sebenarnya ia seorang perempuan.  Akhirnya Ying Tai diijinkan pergi ke sekolah dengan menyamar sebagai seorang pemuda.
Walaupun semua teman sekolahnya laki-laki, Ying Tai tidak merasa tidak merasa kesepian. Ia hanya tertarik untuk belajar. Teman-temannya merasa bahwa Ying Tai agak aneh, tapi mereka tidak pernah mengganggunya. Hanya satu orang saja yang berteman dekat dengan Ying Tai yaitu seorang pemuda bernama Liang Shan Bo. Shan Bo  rajin belajar dan perilakunya sangat halus. Ying Tai dan Shan Bo sering belajar bersama. Ting Tai dan Shan Bo menjadi dua orang sahabat.
Tahun demi tahun berlalu. Ying Tai merasakan perasaannya kepada Shan Bo bukan hanya sebagai sahabat belaka. Ia mencintai pemuda sahabatnya itu. Shan Bo juga merasa sangat sayang kepada Ying Tai. Ia juga merasa aneh karena sebelumnya belum pernah mempunyai sahabat yang begitu disayanginya seperti Ying Tai.
Pada suatu hari, orang tua Ying Tai mengirim seorang pelayan untuk menjemputnya. Ying Tai harus segera  pulang. Pelayan itu tidak mengatakan alasannya. Ying Tai takut sesuatu yang buruk terjadi dengan keluarganya. Apakah ayah atau ibunya sakit? Ying Tai pun langsung pulang bersama pelayan yang menjemputnya.
Setiba di rumah Ying Tai merasa lega karena ayah dan ibunya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja. Tapi betapa terkejutnya Ying Tai mendengar mengapa ayahnya  menyuruhnya segera pulang. Ying Tai akan segera dinikahkan dengan anak rekan usaha ayahnya. Pernikahan mereka sudah disiapkan.
Ying Tai merasa sedih dan putus asa. Ia menyadari bahwa ia jatuh cinta kepada Shan Bo.  Ying Tai kemudian mengirim pesan kepada Shan Bo melalui pelayan, memintanya datang ke kotanya dan menginap di penginapan.
Esok harinya, pelayan itu kembali dan mengatakan kepada Ying Tai bahwa temannyasudah menunggu di penginapan. Ying Tai menyamar lagi sebagai seorang pemuda dan pergi menemui Shan Bo.
Ying Tai mengatakan bahwa ada masalah keluarga sehingga ia tidak dapat kembali ke sekolah. Seorang sepupunya ada di rumahnya dan Ying Tai ingin mengenalkannya dengan Shan Bo. Ying Tai mengatakan bahwa Shan Bo pasti menyukai sepupunya dan meminta Shan Bo meminang gadis itu kepada orang tua Ying Tai. Ying Tai meminta Shan Bo datang ke rumahnya nanti sore.
Ying Tai kembali ke rumah dan mengganti pakaiannya dengan pakaian wanita. Ia akan berpura-pura menjadi sepupunya. Ying Tai yakin bahwa bila Shan Bo tahu bahwa ia sebenarnya seorang gadis, pemuda itu akan menyadari bahwa  perasaan cintanya.
Sore itu Shan Bo datang ke  rumah Ying Tai.  Seorang gadis  menemuinya dan memperkenalkan diri sebagai sepupu Ying Tai. Shan Bo tercengang melihat sepupu Ying Tai sangat mirip dengan pemuda sahabatnya itu.
Setelah bercakap-cakap beberapa lama, gadis itu menangis dan mengatakan bahwa ia sebenarnya adalah Ying Tai. Ia menceritakan penyamarannya agar dapat bersekolah. Ia juga mengatakan betapa ia mencintai Shan Bo.
Pada awalnya Shan Bo sangat marah karena merasa dibohongi. Tapi kemudian ia pun menyadari bahwa ia juga sangat mencintai Ying Tai. Ying Tai kemudian menceritakan rencana pernikahan yang sudah diatur orang tuanya. Ying Tai meminta Shan Bo untuk meminangnya kepada ayahnya.
Pada hari itu juga Shan Bo menemui ayah Ying Tai. Ketika Tuan Zhu mendengar Shan Bo ingin menikahi puterinya, ia hanya tertawa.
Tuan Zhu bertanya kepada Shan Bo, dari mana ia berasal, apa pekerjaan orang tuanya, berapa uang yang mereka miliki.  Orang tua Shan Bo bukan orang berada. Ibunya bekerja sebagai penenun dan ayahnya nelayan. Mereka mampu membiayai sekolah Shan Bo dengan bekerja keras dan hidup sangat sederhana. Tuan Shu menyarankan agar Shan Bo kembali ke sekolah dan mencari seorang gadis yang sederajat dengannya.
Ying Tai dilarang  bertemu lagi dengan Shan Bo, bahkan dilarang ke luar dari kamarnya. Seorang pelayan ditugaskan untuk selalu mengawasinya.
Shan Bo tinggal di penginapan. Ia tak ingin kembali ke sekolah dan ia merasa harus selalu dekat dengan Ying Tai. Ia duduk memandang ke luar jendela sepanjang hari, berharap dapat melihat Ying Tai. Selera makan Shan Bo hilang dan ia tidak dapat makan. Akhirnya ia jatuh sakit.
Ying Tai yang terkurung di rumahnya menangis sepanjang hari. Seorang pelayannya kasihan melihat gadis itu dan pergi melihat keadaan Shan Bo di penginapan tiap hari dan melapor kepada Ying Tai. Beberapa hari kemudian pelayan itu mengabarkan bahwa Shan Bo sudah meninggal.
Ying Tai makin banyak menangis, tapi orang tuanya sibuk mempersiapkan pernikahannya dan tidak terlalu memperhatikannya. Tuan Zhu yakin bahwa Ying Tai lambat laun akan melupakan kekasihnya yang miskin itu dan menjalankan kewajibannya sebagai anak  yang berbakti. Ia akan menikah dengan pilihan orang tuanya. dan menjadi isteri yang baik.
Tapi Ying Tai terus menangis. Tubuhnya menjadi kurus dan wajahnya pucat. Bahkan kemudian bukan air mata yang menetes dari matanya, tapi butir-butiran darah.
Hari pernikahan Ying Tai tiba. Sesuai tradisi, gadis itu diantar ke rumah suaminya dengan tandu untuk mengikuti upacara pernikahan. Beberapa pelayan wanita ikut dalam iring-iringan itu termasuk wanita pengasuh Ying Tai sejak kecil. Iring-iringan tandu itu melewati pemakaman tempat Shan Bo dikuburkan. Ying Tai minta rombongan  berhenti di sana dan ia pergi ke makam Shan Bo untuk berdoa. Ying Tai berlutut di depan makan Shan Bo. Tiba-tiba muncul seekor kupu-kupu dari dalam makam Shan Bo. Kupu-kupu itu berputar-putar di atas kepala Ying Tai. Ying Tai merasa kupu-kupu itu adalah penjelmaan Shan Bo. Ia mengulurkan tangannya ke arah kupu-kupu itu. Tiba-tiba ia menyadari lengannya sudah berubah menjadi  sayap kupu-kupu. Dan tubuhnya perlahan-lahan juga berubah menjadi seekor kupu-kupu.  Tubuhnya menjadi makin ringan. Ia pun terbang mengikuti kekasihnya. Kedua kupu-kupu itu terbang berputar-putar bersama-sama.
Ketika Ying Tai tidak kunjung kembali ke tandunya, para pelayan mencarinya. Tidak ada seorang pun di pemakaman itu. Para pelayan hanya melihat sepasang kupu-kupu yang terbang berputar-putar. Seekor kupu-kupu mendekati pengasuh Ying Tai dan berputar beberapa kali di atas kepalanya. Kemudian kupu-kupu itu kembali bergabung dengan pasangannya. Mereka berputar-putar  perlahan-lahan menjauhi pemakaman dan akhirnya menghilang. Pengasuh Ying Tai menitikkan air mata. Ia tahu bahwa gadis itu telah pergi untuk bersatu dengan kekasihnya.

Gadis Siput


Di dekat kota Fuzhou, pada  delta sungai Min, ada sebuah pulau yang dihuni banyak keluarga petani dan nelayan. Dahulu kala, seorang pemuda petani tinggal di pulau itu, namanya Xie Duan. Xie Duan hidup sebatang kara, kedua orang tuanya sudah lama meninggal. Xie Duan rajin bekerja dan suka membantu teman dan tetangganya.

Pada suatu sore, Xie Duan pulang dari sawah. Ia menemukan seekor siput dengan cangkang yang sangat indah. Ia membawa siput pulang dan meletakkannya di sebuah mangkuk berisi air.

Esok malamnya Xie Duan pulang. Ia terkejut karena lantai rumahnya telah disapu bersih. Tidak ada debu dan kotoran yang menempel. Sementara itu, rumah beraroma sedap. Di meja makan tersedia makanan yang masih panas.

“Dari mana makanan ini? Siapa yang membersihkan rumahku?”, tanya Xie Duan dalam hati. "Pasti tetanggaku yang membalas bantuan yang kuberikan." Xie Duan memang sering membantu tetangganya dan tidak pernah mau dibayar. Tetangga Xie Duan kemudian membalas bantuan itu dengan mengirimkan makanan.

Xie Duan bertanya kepada tetangga-tetangganya, apakah ada yang membersihkan rumahnya dan memasak makan malam untuknya. Tapi tak seorang pun melakukan itu untuk Xie Duan. Akhirnya Xie Duan makan santapan lezat itu dan pergi tidur.

Esok malamnya, sekali lagi Xie Duan mendapati rumahnya sudah bersih dan makanan lezat tersedia di mejanya. Seperti kemarin, tidak seorangpun mengaku telah melakukannya.

Esoknya, Xie Duan pulang dari sawah lebih awal. Ia sengaja tidak langsung masuk ke rumah, tapi mengintip dari jendela. Rumahnya masih seperti ketika ia pergi tadi pagi. Tak ada orang di dalam rumah. Xie Duan menunggu dengan sabar. Tiba-tiba ia melihat sesuatu yang bergerak  di mangkuk tempat ia meletakkan siput. Seorang gadis cantik keluar dari cangkang siput. Gadis itu menyapu rumah. Kemudia ia menyiapkan makan malam.

“Nona! Nona!” Xie Duan sudah masuk ke rumah. “Siapa kau? Apakah kau yang memasak dan membersihkan rumahku?”

Gadis itu mau lari, tapi Xie Duan menghalanginya. Akhirnya ia bercerita bahwa ia adalah siput sungai yang dibawa pulang oleh Xie Duan. Ia berubah menjadi seorang wanita karena ingin membantu Xie Duan yang hidup sendirian.

“Bolehkah aku tinggal di sini?” tanya gadis itu.

Kisah Dua Bersaudara


Dahulu kala, hidup dua orang bersaudara di Cina.  Kita sebut saja sang kakak Koko, dan adiknya kita sebut Titi. Koko dan Titi adalah pedagang bahan-bahan makanan.

Suatu malam, Koko menghitung persediaan beras di gudangnya. “Banyak sekali berasku,” kata Koko pada dirinya sendiri. Timbul keinginannya untuk memberikan sekarung beras kepada adiknya. Koko lalu memanggul sekarung beras kualitas nomor satu ke gudang adiknya. Kedua saudara itu saling percaya satu sama lain, Koko bisa membuka kunci gudang adiknya, begitu juga Titi bisa masuk ke gudang kakaknya dengan bebas. Koko meletakkan beras yang dibawanya di dekat tumpukan beras lainnya. Tak ingin adiknya tahu apa yang dilakukannya, Koko cepat-cepat mengunci kembali gudang itu dan pulang.

Esok malamnya, Koko menghitung lagi berasnya. Setelah ditambah beras yang dibelinya dan dikurangi jumlah beras yang terjual hari ini.... “Harusnya berasku berkurang sekarung karena kuberikan kepada Titi... tapi kok jumlahnya tetap sama?” Koko menghitung ulang, hasilnya tetap sama “Kuberikan saja sekarung lagi kepada Titi,” kata Koko dalam hati. Seperti kemarin malam, Koko membawa sekarung beras ke gudang Titi.

Besoknya, ketika dihitung lagi, beras Koko kelebihan sekarung lagi, seolah ia tidak memberikan beras kepada Titi.  “Memang rejekinya adikku,” gumam Koko. Ia membawa sekarung beras lagi ke gudang adiknya.

Dalam perjalanan, Koko melihat seseorang membawa sekarung beras dari arah yang berlawanan. "Apakah dia pencuri?" Koko bersembunyi sambil memperhatikan gerak-gerik orang itu. Setelah ia mengamati sesaat... "Orang ini rasanya aku kenal..."

“Ternyata kamu, Titi! Mau ke mana kamu?”
“Ko? Koko mau ke mana?”

Mereka berpandangan. Lalu mereka melihat keduanya membawa sekarung beras. Sekarang mereka mengerti mengapa jumlah beras mereka selalu kembali seperti semula. Mereka tertawa bersama-sama dan saling berpelukan.



Burung Phoenix Berkepala Dua


Dahulu kala, hidup dua orang sahabat. Mereka bersahabat selama bertahun-tahun dan berbagi apa saja di antara mereka. Mereka bahkan lebih dekat dari dua orang bersaudara.

Suatu saat, salah satu dari mereka sakit. Penyakitnya makin parah dan akhirnya ia meninggal. Sahabatnya sangat sedih. Tak lama kemudian ia juga jatuh sakit dan meninggal.

Beberapa waktu kemudian, kedua sahabat itu dilahirkan kembali dalam wujud seekor burung phoenix berkepala dua. Kedua kepala burung itu sama seperti kedua sahabat itu dulu. Mereka pergi bersama-sama, mencari makanan bersama.

Pada suatu hari seorang pemburu melihat burung itu. Pemburu itu sudah siap menembak burung itu, namun ketika ia melihat kedua kepala burung itu begitu saling menyayangi, ia tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia membiarkan burung itu pergi.

Pemburu menceritakan burung istimewa itu kepada teman-temannya. Tersiarlah kabar ke mana-mana bahwa ada seekor burung phoenix berkepala dua hidup di hutan. Burung phoenix adalah hewan yang jarang ada. Apalagi yang berkepala dua!

Berita itu sampai juga ke telinga raja. Raja memerintahkan agar burung itu ditangkap hidup-hidup. Akhirnya burung itu tertangkap dan dibawa kepada raja.

Raja meletakkan burung itu dalam sebuah sangkar besar. Tiap hari ia mengagumi keindahan burung itu.

Raja memberi makan salah satu kepala burung di sebelah kanan. Burung itu menerima makanan dan memberikan sebagian kepada saudaranya. Ketika raja memberikan makanan kepada kepala yang di kiri, kepala itu juga membagi makanannya kepada kepala di kanan. Demikian seterusnya.

Raja memberikan makanan lagi kepada salah satu kepala, lalu ketika kepala itu hendak membagi makanan kepada saudaranya, raja menghalanginya. Kepala yang menerima makanan tidak menelan makanannya, tapi justru membuangnya. Demikian juga dengan kepala satunya.

Raja menjadi marah. Ia merasa burung itu tidak mematuhi perintahnya. Raja lalu memanggil penasihat dan menyuruhnya memisahkan kedua kepala itu.

Penasihat tidak mau bagaimana melakukan tugas itu. Ia berusaha mengulur waktu dengan minta raja megijinkannya membawa burung itu pulang dan minta waktu selama sebulan. Raja setuju dan penasihat membawa burung itu pulang. Raja berjanji memberikan setengah kerajaannya jika penasihat berhasil menyelesaikan tugasnya

Selama berhari-hari penasihat mengamati burung itu dan tidak menemukan cara untuk memisahkan kedua kepala itu. Bagaimana caranya?

Pada suatu hari, penasihat melihat kedua kepala itu menghadap ke arah yang berlawanan. Itu terjadi beberapa kali dalam sehari. Penasihat mendapat akal.

Ketika kepala-kepala burung menghadap ke arah yang berbeda, penasihat berbisik kepada kepala di sebelah kanan, “Tu... tu... tu... tu... tu...” lalu ia pergi dan mengintip dari kejauhan.
Kepala burung yang kiri bertanya kepada saudaranya, “Apa yang dikatakannya kepadamu?”

Saudaranya menjawab, “Bukan apa-apa, kok.”

Pada waktu lain penasihat membisikkan lagi “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan. Kepala kiri bertanya lagi, dan mendapat jawaban, “Bukan apa-apa. Sesuatu yang tak ada artinya.”  Kepala kiri mulai merasa tidak senang, tapi ia diam saja.

Begitu seterusnya, penasihat membisikkan “Tu... tu... tu...tu ... tu” kepada kepala kanan, kepala kiri bertanya dan kepala kanan menjawab, “Bukan apa-apa,” atau “Tak ada artinya.”

Kepala kiri makin marah dan penasaran. Hingga akhirnya ketika penasihat membisiki kepala kanan lagi, ia bertanya. “Apa sih yang ia katakan tadi? Juga kemarin?"

Kepala kanan mengatakan, “Aku sudah bilang, ia mengatakan sesuatu yang tak ada artinya.”

“Bisa saja kau bohong,” kata kepala kiri. Setelah bertahun-tahun bersahabat, baru sekarang mereka saling curiga.

“Jadi kau tak percaya kepadaku?” Kepala kanan berteriak, “Saudaramu sendiri?”

“Mengapa kau tidak mau mengatakannya kepadaku?”

“Baiklah, ini yang dia bisikkan selalu kepadaku ‘Tu... tu... tu...tu ... tu.’”

“Kau pikir aku percaya?”

“Saudaraku, hanya itu yang dikatakannya.”

“Kalau hanya itu, mengapa ia datang berkali-kali kepadamu? Dan hanya kepadamu? Pasti kau menyembunyikan sesuatu dariku.”

Kepala kanan menjadi sangat marah. “Aku menghormatimu lebih dari saudara. Tapi kau tidak percaya kepadaku.”

Kepala kiri tak kalah panas. “Kau memang saudaraku, tapi menurutku kau  tidak dapat dipercaya."

Akhirnya mereka bertengkar. Makin lama makin sengit. Mereka saling berteriak, gaduh sekali. Penasihat mengamati dari kejauhan.

Tak lama kemudian kedua kepala itu saling menyerang sambil berteriak-teriak. Mereka saling mematuk dan mendorong. Penasihat bersiap-siap untuk menghentikan perkelahian itu. Kalau burung itu terluka dan mati, ia akan mendapat hukuman berat.

Perkelahian makin seru. Mereka saling mendorong sambil berkata, “Pergi, kau!” dan “Aku tidak mau punya sahabat sepertimu.”

Tiba-tiba terdengar suara letusan keras, dan ajaib, burung itu sudah menjadi dua ekor burung phoenix, masing-masing punya satu tubuh, satu kepala, dua sayap, dua kaki dan  seperti layaknya dua ekor burung. Mereka saling menjauh dan membelakangi. Penasihat cepat-cepat memindahkan satu burung ke sangkar yang lain.

Esok harinya, penasihat membawa kedua burung itu kepada raja. Ia sangat senang dan puas. Tugasnya berhasil dilaksanakan dengan baik walaupun ia harus malakukan tindakan tidak terpuji.  Sekarang ia akan minta hadiah yang dijanjikan raja, setengah kerajaan. Berkat kecerdikannya, sebentar lagi ia akan menjadi raja.

Raja senang sekali. Ia mengambil kedua sangkar burung itu dan menyuruh penasihat pergi.

“Maaf...Yang Mulia...?” kata penasihat. Ia harus meminta hadiahnya sekarang juga.

“Ya, penasihat,” kata raja. “Kau boleh pulang dan beristirahat.”

“Tapi Tuanku...,” kata penasihat gugup, “Mengenai perjanjian kita...”

“Perjanjian apa?” kata raja sambil terus memandangi burung-burung phoenix.

“Perjanjian tentang...” kalimat penasihat tidak pernah selesai.

“Apakah aku pernah membuat perjanjian denganmu?” kata raja. “Mengenai apa? Aku tidak ingat.”

“Begini saja,” lanjut raja. “Aku tahu kau lelah sekali. Sekarang pulanglah. Pergilah berlibur.”

“Baik, tuanku.” Penasihat pergi dengan sangat kecewa.

Raja sangat senang dengan kedua burung phoenix itu. Burung-burung itu sekarang tidak saling membagi makanan atau apa pun lagi, mereka bahkan tidak saling berbicara. Persahabatan yang berlangsung begitu lama hancur berantakan karena mereka membiarkan orang lain mengadu domba mereka.

Sementara, penasihat mendapatkan apa yang pantas menjadi hadiahnya. Raja tidak mengakui pernah menjanjikan  setengah kerajaannya kepada penasihat.

Telur Ayam Jago

Dahulu kala, di Cina hiduplah seorang tuan tanah yang kejam. Ia sering menyuruh pekerjanya melakukan pekerjaan yang aneh. Bila sang pekerja tidak dapat memenuhi penrintahnya, hukuman berat menantinya.

Pada suatu hari, tuan tanah memanggil seorang pengawalnya. "Aku ingin makan telur ayam jago," kata tuan tanah. "Kuberi waktu tiga hari, bawakan aku tiga telur."

"Tapi, tuan...." kata pengawal.

"Tapi apa? Kau tidak sanggup mencari tiga butir telur dalam tiga hari?" kata tuan tanah. "Atau kau lebih suka dihukum?"

Sang pengawal pulang dengan perasaan kacau. "Di mana aku bisa mendapat telur ayam jago? Sejak kapan ayam jantan bertelur?"

Isteri pengawal itu bingung melihat suaminya tidak mau makan dan tidak bisa tidur. Ia juga tidak pergi bekerja. Tiap kali ia bertanya, suaminya tidak mau menjawab.

Pada malam kedua, pengawal yang kebingungan itu akhirnya mengaku kepada isterinya. "Tuan menyuruhku membawa tiga telur ayam jago," katanya sedih. "Ia memberiku waktu tiga hari, besok aku harus membawa telur itu. Entah hukuman apa yang akan menimpaku."

Isterinya mendengarkan dengan sungguh-sungguh. "Tenang saja, pak." kata wanita itu. "Besok aku akan membawakan telur ayam jago itu untuk tuan. Kau tinggal saja di rumah."

"Dari mana kau mendapat telur ayam jago?"

"Percayalah padaku," jawab isterinya. "Sekarang makanlah."

Walaupun tidak tahu bagaimana isterinya mencari telur ayam jago, pengawal itu tidak dapat berbuat apa-apa.

Esok harinya isteri pengawal manghadap tuan tanah.

"Mengapa kau datang ke sini?" tanya tuan tanah. "Mana suamimu?"

"Maaf tuan," kata isteri pengawal. "Suami saya tidak dapat bekerja selama beberapa hari. Ia baru saja melahirkan."

"Mana mungkin seorang laki-laki melahirkan?" tuan tanah marah.

"Begitu pula halnya, tuan," jawab wanita itu dengan berani, "Mana mungkin ayam jantan bertelur?"

Tuan tanah membuka mulutnya untuk berbicara, tapi menutupnya lagi tanpa mengatakan apa-apa.

"Baiklah," kata tuan tanah setelah beberapa saat. "Katakan kepada suamimu, silakan beristirahat di rumah. Ia boleh bekerja lagi minggu depan, dan aku tidak akan menghukumnya."




Kisah Hok Li dan Orang-orang Kerdil



Dahulu kala di sebuah kota kecil hiduplah seorang ptia bernama Hok Li. Hok Li hidup seorang diri, tidak punya  keluarga.

Hok Li sangat rajin. Ia bekerja mencari uang dan mengerjakan pekerjaan di rumah karena tidak memiliki isteri.

Tapi ada satu hal yang tidak diketahui para tetangganya. Ia bekerja keras sepanjang hari. Pada malam hari, ketika semua orang tidur, Hok Li pergi bersama teman-temannya masuk ke rumah orang-orang kaya dan mengambil barang apa saja yang bisa mereka bawa.

Pada suatu ketika, seorang teman perampok Hok Li tertangkap dan dihukum. Kejadian itu membuat kegemparan di mana-mana, tapi tak ada yang curiga bahwa Hok Li juga anggota komplotan perampok itu. Hok Li sudah mengumpulkan banyak uang dari hasil merampok. Tapi orang-orang hanya mengenalnya sebagai Hok Li, orang paling rajin bekerja di seluruh negeri.

Pada suatu pagi, Hok Li ke luar rumah untuk pergi ke pasar. Tetangganya menyapa,”Hok Li, mengapa wajahmu bengkak?”

Pipi kanan Hok Li bengkak, hingga besarnya dua kali pipi kirinya. Sekarang pipi yang bengkak itu mulai terasa sakit.

Hok Li mencoba berbagai obat untuk menyembuhkan pipinya, namun justeru makin bengkak dan sakit. Bahkan ia tidak tahu mengapa pipinya bengkak. Tetanga-tetangganya mengejeknya karena pipi kanannya sekarang sama besar dengan kepalanya.

Mengapa Anjing dan Kucing Bermusuhan?


Dahulu kala di Cina, hidup seorang laki-laki tua.  Ia tidak mempunyai keluarga. Hanya seekor anjing dan seekor kucing yang menemaninya.

Rumah laki-laki tua itu ada di sebuah lembah, di dekat tebing. Tak ada orang lain yang tinggal di tempat itu.  Bahkan jarang sekali ada orang yang lewat di lembah itu.

Pada suatu hari, seorang pencuri melihat rumah di dekat tebing yang sepi. Rumah itu dikelilingi kebun. Bukan seperti kebun umumnya, kebun itu penuh batu-batu indah besar-besar dan beraneka warna. Melihat rumah dan kebun yang aneh itu, pencuri itu ingin mencari sesuatu yang bisa dicurinya.  Ia mencari celah di dinding rumah supaya bisa mengintip ke dalam.

Di dalam rumah banyak sekali barang mewah. Semuanya pasti dapat dijual dengan harga tinggi.  Seorang laki-laki tua sedang duduk di depan sebuah meja besar yang terbuat dari batu pualam. Anjingnya duduk di sebelahnya, dan seekor kucing melingkar di pangkuannya.

“Waktunya makan malam,” kata pak tua kepada anjingnya. “Kamu mau makan apa?” 

Anjing menggonggong satu kali dan tuannya mengangguk. Lalu ia mengeluarkan sebuah tongkat berwarna keperakan dan mengucapkan sesuatu. Seketika di depan si anjing muncul sebuah mangkuk besar berisi kaldu yang aromanya sedap sekali. Anjing itu makan dengan lahap.

“Nah, kamu mau makan apa?” kata pak tua kepada kucingnya. Kucing itu hanya menjilat tangan tuannya.  Pak tua mengatakan sesuatu kepada tongkatnya dan muncullah ikan besar yang segera dimakan oleh kucing.

Setelah itu pak tua minta makanan yang diinginkannya kepada tongkat perak. Meja makan itu langsung penuh dengan makanan yang lezat.

Setelah semua makan, pak tua mengeluarkan tongkatnya lagi dan meminta agar semua sisa makanan dibersihkan.  Kemudian ia mengajak anjing dan kucingnya pergi ke kamar tidur.

Esok harinya, pak tua menyadari tongkat ajaibnya lenyap. Ada pencuri masuk ke rumah dan mengambil tongkat itu.

“Bagaimana kita bisa hidup tanpa tongkat ajaib?” keluhnya kepada kedua sahabatnya.

“Aku sudah tua, aku tidak kuat lagi pergi mencari tongkat itu. Kalian berdua pergilah mencarinya.”

Anjing memandangi tuannya sesaat. Kucing itu menjilat-jilat tangan pak tua. Kemudian mereka  pergi.

Anjing dan kucing pergi berkelana selama berbulan-bulan. Anjing mencari sisa makanan di tempat sampah dan memakannya bersama kucing. Kadang-kadang kucing masuk ke dapur orang dan mencuri makanan. Kucing makan sampai kenyang dulu, setelah itu ia membawa sisa-sisa makanan untuk anjing.

Pada suatu hari mereka mendengar orang-orang ramai membicarakan sebuah istana yang muncul tiba-tiba. Padahal tak seorang pun melihat istana itu dibangun. Di dalam istana itu tinggal seorang kaya raya.

Anjing dan kucing tahu bahwa mereka sudah menemukan pencuri  tongkat ajaib pak tua. Mereka mencari istana itu. Istana berdiri megah di seberang sungai yang lebar. Beberapa penjaga tampak di sekitar istana. Ada seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat mewah. Ia memegang tongkat ajaib.

“Kamu bisa berenang,” kata kucing kepada anjing. “Kamu menyeberang sungai, aku akan naik di punggungmu.”

“Apa pun akan kulakukan untuk mengambil kembali tongkat tuan kita,”  kata anjing. “Tapi jangan kamu cakar punggungku, ya.”

Mereka menyeberang sungai bersama-sama. Air sungai besar itu sangat deras sehingga anjing kelelahan ketika tiba di seberang. Kucing langsung melompat dan merebut tongkat ajaib dari pencuri. Ia langsung lari membawa tongkat dan bersembunyi. Kemudian kucing minta kepada tongkat ajaib untuk membawanya pulang ke rumah tuannya. Tak sedikitpun niatnya untuk menunggu si anjing. Kucing dalam sekejap sudah kembali ke rumah tuannya. Ia menyerahkan tongkat kepada pak tua.

Sementara itu anjing hampir tertangkap oleh penjaga. Ia berhasil melarikan diri, tapi terluka cukup parah. 
  
“Mana temanmu? Mengapa kamu pulang sendirian?”

Kucing tidak menjawab. Walaupun ia senang kucing dan tongkat ajaib sudah kembali, ia merasa kecewa pada anjing.  Pak tua mengira anjing tidak  mencari tongkat, malah pergi entah ke mana.

Beberapa bulan berlalu. Anjing tiba kembali di rumah pak tua. Kakinya pincang dan bekas-bekas luka masih kelihatan di tubuhnya. Ia mengira pak tua akan senang melihatnya, tapi pak tua malah mengusirnya.

“Teman,” kata anjing kepada kucing. “Ceritakan pengalaman kita kepada tuan.”
Kucing hanya memandang anjing dengan tatapan menghina dan pergi.

Pak tua menyeret anjing ke luar dari rumah. “Kamu tidak mau bersusah payah, hanya mau enak saja.  Kamu menunggu sampai tongkatku kembali baru kamu kembali ke sini. Pergi! Aku tidak mau melihatmu lagi!”

Anjing merasa sangat sedih dan kecewa. Ia juga marah sekali kepada kucing. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia pergi dan tidak pernah kembali lagi.
Keturunan sang anjing tidak pernah lupa pada apa yang dilakukan kucing. Mereka sangat membenci keturunan kucing. Sampai sekarang, tiap melihat kucing, anjing akan mengejarnya.