Tampilkan postingan dengan label Fakta tentang Otak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fakta tentang Otak. Tampilkan semua postingan

Keriput yang Membuat Kita Cerdas


Kerutan pada wajah sama sekali tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kita. Tapi keutan pada permukaan otak kita sangat erat hubungannya dengan kecerdasan. Permukaan otak manusia dipenuhi celah-celah,alur-alur yang lebih kecil yang disebut sulci, gunung-gunung yang disebut gyri. Permukaan otak ini disebut cerebral cortex dan merupakan rumah dari sekitar 100 milyar  neuron atau sel saraf.
Permukaan otak yang berlekuk-lekuk memungkinkan otak mengepak  lebih banyak area permukaan dan tentu saja lebih banyak kemampuan memproses ke dalam ruangan dalam tengkorak yang terbatas. Sepupu kita, para primata menunjukkan berbagai jenis keriput yang bervariasi pada otak mereka, demikian juga hewan cerdas lain seperti gajah. Penelitian yang dilakukan neuroscientist Lori Marino dari Emory University menemukan bahwa lumba-lumba memiliki otak yang lebih berkerut merut daripada manusia.


Sumber: http://www.livescience.com/12916-10-facts-human-brain.html


Otak Bersifat Kompetitif Bahkan Terhadap Dirinya Sendiri


Otak manusia memiliki potensi yang sangat menakjubkan. Banyak orang berhasil melatih otak mereka untuk melakukan prestasi yang mengagumkan pada memori dan penghitungan. Para pendeta Budha belajar mengubah suhu tubuhnya dengan mengendalikan gelombang otak melalui meditasi. Orang yang mengalami kerusakan pada otak mendapatkan kembali kemampuan otaknya yang hilang.
Pernah mendengar istilah “Use it or Lose It”? Artinya bahwa kita akan kehilangan kemampuan kita bila tidak terus dilatih sehari-hari. Otak mengubah strukturnya berdasarkan bagaimana kita paling sering menggunakannya dan perubahan struktur ini mengubah kinerja kita. Kemampuan kita meningkat ketika berlatih dan kita dapat kehilangan kemampuan yang kita abaikan.  
Pada pelajar, “use it or lose it” sangat terasa. Misalnya seorang pelajar membaca 30 menit tiap hari pada hari sekolah. Ketika liburan panjang tiba, ia hanya membaca 30 menit dalam seminggu. Otak pelajar itu berpikir bahwa koneksi neuron yang digunakan untuk membaca tidak diperlukan lagi. Otak akan mengubah koneksi neuron dan lebih mementingkan aktivitas yang dilakukan si pelajar pada saat liburan misalnya berolah raga, menonton TV dll. Ini disebut plastisitas kompetitif.
Perubahan ini bagus ketika pelajar menikmati liburannya, tapi tidak demikian ketika ia harus kembali bersekolah. Banyak anak mengalami penurunan kemampuan membaca atau bahkan kehilangan kemampuan matematikanya setelah liburan. Lambat laun, penurunan ini dapat terakumulasi. Prestasi pelajar SMU/SMK berkaitan erat dengan aktivitas pembelajaran yang dilakukan selama liburan. Pelajar yang mencapai prestasi tinggi saat lulus SMU/SMK biasanya meluangkan waktu selama liburan dengan belajar untuk menjaga atau meningkatkan kemampuan akademisnya

Sumber http://www.scilearn.com

Aduh, Saya Terlalu Banyak Pikiran!


Judul artikel ini sering diucapkan ketika orang sedang memikirkan beberapa hal bersamaan. Tahukah Anda, bahwa kita mempunyai rata-rata 70.000 pikiran dalam sehari? Menakjubkan, bukan?


Menurut  Laboratory of Neuro Imaging at the University of Southern California, rata-rata orang mempunyai 48,6 pikiran dalam semenit, yang berarti hampir 1 pikiran tiap detik, tapi tidak semua pikiran kita sadari hanya sebagian kecil saja.  

Kita hanya menggunakan 10% otak kita?

Anda mungkin pernah membaca bahwa kita hanya menggunakan 10% dari seluruh otak kita. Tapi itu mitos.

Fakta  yang benar adalah kita secara virtual menggunakan seluruh otak kita. Misalnya ketika membaca artikel ini, kita menggunakan  frontal lobe dan occipital lobe  untuk melihat dan memahami isi artikel. Kita menggunakan hippocampus untuk mengingat. Sementara itu batang otak dan otak kecil membantu kita tetap dapat duduk, bernafas, mengedarkan darah ke seluruh tubuh dan mencerna makanan kita. Kelenjar pituitary  dan hypothalamus tetap bekerja untuk menjalankan fungsi lain dalam tubuh seperti pengaturan hormon, suhu tubuh dan banyak lagi.
Sumber: http://www.brainhq.com/

Mengapa Kita Menggaruk?




Menggaruk bagian tubuh yang gatal adalah  respon biologis yang agak membingungkan, karena alih-alih menyembuhkan gatal, menggaruk malah bisa menyebabkan luka atau memperparah luka yang sudah ada.

Sebuah teori tentang mengapa kita menggaruk adalah  garukan menstimulasi otak melepaskan endorphin, hormon yang mampu menghilangkan rasa sakit. Menggaruk memang membuat kulit lecet, namun endorphin yang dilepaskan otak akan mengurangi rasa sakit pada luka.

Sumber: http://www.brainhq.com/brain-resources/brain-facts-myths/brain-facts

Otak Mampu Menyalakan Bola Lampu


Otak kita terdiri atas sekitar 100 milyar sel mikroskopis yang disebut neuron. Dibutuhkan waktu lebih dari 3000 tahun untuk menghitung semua sel otak. Ketika kita tertawa, bermimpi, berpikir, melihat, atau bergerak, zat kimia dan sinyal listrik bergerak di antara neuron.melalui jutaan “jalan raya” di otak.

Aktivitas otak tidak pernah berhenti. Pesan-pesan lalu lalang di otak dengan kecepatan tinggi. Neuron membuat dan mengirim pesan lebih banyak dari semua hubungan telepon di seluruh dunia. Sebuah neuron menghasilkan sedikit listrik, namun semua neuron bersama-sama dapat menghasilkan listrik yang mampu menyalakan sebuah bola lampu berkekuatan watt kecil.

Sumber: http://kids.nationalgeographic.com/explore/science/your-amazing-brain