Tampilkan postingan dengan label Mengenal Emosi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Emosi. Tampilkan semua postingan

Belajar Mengenali dan Mengatasi Emosi Dengan Kolase

Anak-anak perlu belajar mengenal emosi yang mereka rasakan dan menghadapi emosi negatif seperti marah, sedih dan kecewa.

Salah satu cara mudah dan sederhana untuk mengajarkan anak tentang emosi dan menangani emosi dengan baik adalah dengan membuat kolase atau poster emosi.

Ajarkan anak mengenali emosi, misalnya ketika anak murung, Anda dapat mengatakan, "Kamu kecewa ya, karena nenek tidak jadi datang?" atau "Pasti kamu senang karena ayah membelikan mobil mainan yang kamu inginkan."

Setelah anak dapat mengenali emosi, Anda dapat mengajaknya  membuat kolase atau poster emosi. Sediakan kertas putih (misalnya ukuran HVS), kertas berwarna-warni dan lem. 

Ajak anak mengekspresikan emosinya dengan menempelkan sepotong kertas berwarna pada kertas putih. Anak dapat memilih warna tertentu untuk sebuah emosi, misalnya merah untuk marah, orange untuk gembira, biru untuk sedih dan sebagainya. Setiap anak merasakan emosi tertentu anak dapat menempelkan kertas berwarna pada kertas putih sesukanya. 

Ketika anak mengalami emosi negatif, anak dapat "membuang" emosi tersebut dengan menempelkannya pada kolase emosinya. 

Persilakan anak mengisi kolasenya hingga penuh. Berisikan kertas yang baru ketika anak memerlukannya. 

Setelah kolase penuh terisi, Anda dan anak dapat menempelkannya di dinding. Anda dapat melihat emosi apa yang sering dialami anak Anda dari kolase emosi.

Aktivitas ini sangat efektif membantu menangani emosi negatif. Anda pun dapat membuat kolase emosi Anda sendiri . 

Permainan Menggambar Emosi



Yuk,  ajak anak mengenali emosi. Mintalah anak menggambar sebuah  lingkaran sebagai wajah. Kemudian minta anak menggambar mata, hidung, dan mulut membentuk sebuah wajah dengan sebuah emosi misalnya, senang, sedih, marah, malu, takut, bosan,  dan  sebagainya.

Setelah gambar selesai, tanyakan  kepada anak tentang gambar yang dibuatnya, misalnya, “Mengapa gambar orang marah seperti ini?”, “Oh, kalau sedih, ada air matanya ya?” Lanjutkan dengan pertanyaan mengenai emosi yang ditunjukkan oleh gambar itu, misalnya “Apa yang kamu ingin kamu lakukan ketika senang?”, “Coba ingat-ingat, kapan kamu terakhir marah, dan apa penyebabnya?”

Anak perlu mengenali emosinya untuk dapat mengendalikannya. Permainan sederhana ini membantu anak mengembangkan kecerdasan emosionalnya.

Takut




Kapan terakhir kali kamu merasa takut? Mungkin kamu mendengarkan temanmu bercerita tentang hantu. Atau kamu mendengar suara mencurigakan di rumahmu dan setelah agak lama kamu baru tahu bahwa itu suara kucing kamu mencakar-cakar pintu.

Apakah kamu ingat bagaimana perasaanmu? Perasaan itu disebut takut.

Ketika kamu merasakan adanya bahaya, otak kamu mengirim sinyal yang menyebabkan perubahan pada tubuh kamu. Detak jantung kamu menjadi lebih cepat dan kamu bernafas lebih cepat juga. Mungkin keringat juga keluar dari pori-pori kamu untuk menyejukkan kulit kamu sementara darah dipompa ke otot-otot kamu untuk mempersiapkan diri menghadapi bahaya. Sebenarnya reaksi tubuh kamu akan rasa takut disebut tanggapan melawan atau kabur.

Walaupun perasaan takut tidak menyenangkan, perasaan itu mungkin berguna suatu saat nanti. Rasa takut mempersiapkan dirimu untuk meindungi diri atau melarikan diri pada saay terjadi bahaya.

Sumber: www.whyzz.com