Tampilkan postingan dengan label kecerdasan musikal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kecerdasan musikal. Tampilkan semua postingan

TIPS MEMPERKENALKAN ALAT MUSIK PADA ANAK


Setiap anak kecil mempunyai kehausan mendalam untuk belajar. Dengan rasa keingintahuan yang tinggi, mereka terbuka menerima setiap pengalaman baru, apalagi jika disajikan dengan menarik. Banyak sekali cara yang menyenangkan dan kreatif untuk membangun kecerdasan musik anak. Tidak perlu banyak uang untuk melakukannya, cukup dengan kreatifitas dan imajinasi.

Cara sederhana untuk memperkenalkan alat musik dan konsep musik (misalnya ritme) pada anak adalah menggunakan barang-barang rumah tangga. Penggorengan, panci, sendok kayu, sumpit, botol-botol kaca yang diisi air dengan ketinggian berbeda, merupakan alat musik yang menyenangkan bagi anak. Untuk menciptakan bermacam-macam suara gunakan: pensil, pena, penggaris, dan semacamnya.

Anak bisa menciptakan alat musik sendiri dengan menggunakan barang-barang bekas. Misalnya memasukkan biji-bijian atau beras ke dalam botol plastik, atau membuat gitar dari kardus bekas dan karet. Wow..anak belajar musik, mencipta alat,  dan sekaligus belajar akan pentingnya daur ulang!

Memainkan alat perkusi merupakan kegemaran anak dimanapun dia berada. Biarkan anak memainkan alat perkusi dan alat musik dengan nada seperti lonceng dan triangle. Anak akan mengamati bahwa cara-cara memukul yang berbeda akan menghasilkan suara yang berbeda pula.

Mendengarkan musik dari berbagai kebudayaan, baik musik tradisional maupun musik dari negara lain akan memperkaya pengetahuan musik anak. Demikian pula musik dari berbagai periode waktu.

Sambil mendengarkan musik, orang tua bisa bermain game. Minta anak untuk menyebutkan alat musik apa saja yang mereka kenali. Atau ajak anak menciptakan tarian untuk musik yang didengarkan. Untuk melatih memori, orang tua menyanyikan beberapa not awal kemudian anak menebak judulnya, semacam “berpacu dalam melodi”

Begitu banyak alat musik yang tersedia, orang tua bisa memperkenalkan bentuknya dengan membeli buku dengan gambar berbagai instrumen musik. Lebih bagus lagi jika anak yang mewarnainya.
Ayo bermain musik!  

SETIAP ANAK MEMILIKI BAKAT MUSIK?

Ketika saya  mengatakan dalam sebuah seminar “ Semua anak memiliki bakat musik,  dan merupakan pencipta musik alami hingga ketika ia berumur 2 tahun”. Sejenak para peserta tertegun.

Di akhir seminar salah seorang peserta mendatangi saya dan bertanya. “ Saya sedikit ragu dengan pernyataan Ibu. Menurut keyakinan saya, masing-masing anak memiliki bakat yang berbeda-beda. Seperti kurang meyakinkan saya, jika Ibu berpendapat semua anak memiliki bakat bermain musik? ”.

Mungkin pendapat saya di atas bisa dianggap terlalu provokatif sehingga seorang Ibu meragukannya. Sampai-sampai harus mengklarifikasi langsung kepada saya. Namun fakta menunjukkan demikian.

Bahwa sebenarnya dalam struktur otak anak tersedia jaringan yang memungkinkannya mahir bermain musik. Tinggal bagaimana, sebagaimana konsep plastisitas otak yang pernah kami sajikan, jaringan ini perlu dikembangkan agar memiliki struktur yang kompleks.

Menurut saya, jika sebagian besar anak bisa berbahasa dan membaca buku dengan baik. Maka sebagian anak seharusnya bisa bermain musik. Tentu tidak ada orang tua yang kemudian mengatakan, “Sepertinya anak saya tidak berbakat berbahasa”.

Atau “Maaf, bu, tolong anak saya jangan dipaksa belajar membaca karena ia tidak berbakat”. Karena setiap anak bisa melakukan itu dengan memanfaatkan potensi yang ada, dari fungsi-fungsi yang disediakan otaknya secara inheren.

Jadi secara natural, setiap anak memiliki potensi untuk bermain musik karena jaringan pada otak yang memungkinkan itu. Nah, sekarang tugas orang tua bagaimana mendorong agar jaringan ini menjadi lebih kompleks.

Caranya jelas, dengan mendorong bagian-bagian syaraf yang berhubungan dengan keahlian bermain musik, diaktifkan dalam jangka waktu yang panjang. Sehingga mendorong terbentuknya jaringan-jaringan baru yang lebih kompleks pada otak.

Jadi kelak si anak menjadi maestro, bukan lebih karena ia berbakat atau tidak, namun karena orang tuannya memprakondisikannya baik secara psikologi atau secara biologis si kecil untuk menjadi pemusik. So, tunggu apa lagi, segera kembangkan potensi musik anak Anda saat ini juga.

CARA BELAJAR MUSIK YANG BAIK BAGI ANAK


Kecocokan dengan guru adalah tiket sukses berlatih instrumen.Ada baiknya  guru yang Anda pilih selain memiliki  keahlian musik, juga yang memahami jiwa anak. Guru yang baik menguasai berbagai metode musik dan memahami karakter anak. Sehingga bisa memilih metode yang tepat untuk masing-masing karakter anak.

Selain guru yang tepat, perhatikan juga tanda-tanda kesiapan anak untuk berlatih secara reguler, berupa:

-          Mampu mengikuti jadwal
-          Memahami petunjuk lisan dan tertulis
-          Menyadari kesalahan dan mau mengoreksinya
-          Mau mengulang tugasnya untuk menyempurnakannya

Jika Anda siap untuk belajar musik, kemudian berapa lama waktu efektif anak berlatih setiap harinya?

Kapan dan lamanya latihan bergantung sepenuhnya pada anak. Jika anak anda bak kupu-kupu yang suka terbang dari satu bunga ke bunga lain, 15 menit sekali berlatih mungkin sudah lebih dari cukup. Latihan bisa diulang 2-3 kali sehari.

Namun jika anak anda adalah tipe yang menyukai keteraturan, ia bisa duduk berlatih lebih lama dan jam latihan juga teratur setiap hari, misalnya di pagi hari.    

FAKTAR MENARIK TENTANG MUSIK


Musik dan aktivitas manusia adalah sesuatu yan tidak dipisahkan. Bahkan musik tidak hanya menjadi aktivitas menyenangkan, karena konon 6 % anak Amerika ingin menjadi Presiden namun 13% ingin menjadi pemusik. Melainkan juga memiliki berbagai dampak luar biasa bagi manusia.

Oleh sebab itu ada beberapa fakta menarik tentang music terkait dengan kehidupan kita, yakni

Fakta pertama, ditemukan bahwa musik dapat mengubah perilaku. Jenis musik yang tepat dapat mengubah depresi menjadi kegembiraan, kemarahan menjadi tenang, benci menjadi cinta, ketakutan menjadi keberanian. Musik yang indah mempengaruhi orang dan dapat menenangkan dan menghilangkan perasaan frustasi dan marah. Musik tidak diragukan lagi membuat perbedaan dalam mengurangi ketegangan. (L. Clarke, 2006)

Fakta kedua, musik mempunyai kekuatan untuk menenangkan, menambah energi dan memotivasi.

Fakta ketiga, janin di dalam kandungan memberikan respons yang besar terhadap rangsangan musik.

Fakta keempat, pada tahun 2000, Ketika “Child Care”, sebuah kampanya layanan publik di Rochester , Minnesota bertanya kepada 800 anak apa yang paling mereka sukai pada saat mereka ada di tempat penitipan anak atau dalam perawatan keluarga, lebih dari 40% menjawab menyanyi. Lebih dari 60% menjawab memainkan alat musik.

Tentu ada banyak lagi fakta-fakta tentang music, namun dari informasi di atas cukup mengambarkan bagaimana luar biasanya efek dan daya tarik music bagi kehidupan manusia.

APA KATA PENELITIAN TENTANG EFEK MUSIK PADA OTAK ANAK?


 

Membiasakan bermain musik pada anak tidak hanya memberikan kesenangan namun juga memiliki berbagai manfaat. Adapun manfaat tersebut, berdasarkan bukti-bukut penelitian, antara lain:

Musik
dan Kemampuan Spasial Anak. 
Kemampuan spasial berguna untuk memahami dunia visual secara akurat, membayangkan gambar obyek, mengenali variasi obyek. Bermain puzzle, memanipulasi lego ataupun balok memerlukan kemampuan spasial.  

Kemampuan spasial sangat berguna bagi fungsi luhur otak seperti musik, catur, dan matematika kompleks. Seperti kita ketahui, banyak hal yang sulit diterangkan lewat kata-kata oleh para insinyur, tapi bisa diterangkan dengan jelas melalui gambar. 

Pelajaran musik meningkatkan prestasi anak di sekolah. Setelah mengikuti 8 bulan pelajaran keyboard, anak-anak prasekolah menunjukkan 46% peningkatan kemampuan spasial.
(penelitian Dr. Rauscher di University of California) 

Musik dan Belajar
Bermain musik juga meningkatkan kecepatan belajar kosa kata baru. Bahkan lebih dari itu, musik meningkatkan kecepatan belajar secara permanen. Kalau dilihat dari cara kerja otak, hal ini sangat masuk akal.   

Untuk bisa memainkan musik, anak harus membaca not balok dan mengartikannya agar bisa digunakan oleh jari-jari yang menyentuh tuts piano. Beberapa bagian otak bekerja aktif sekaligus untuk mengerjakan prose input dan output tersebut. Proses yang sama diulang berkali-kali sampai akhirnya terjadilah perubahan di otak yang sifatnya permanen. 

Bermain instrumen membantu anak belajar disiplin, sebuah karakter yang sangat berguna bagi kehidupan anak di sekolah maupun dalam bermasyarakat.

Otak Pemusik Lebih Besar.
Setelah diteliti, ternyata korteks (otak bagian berpikir) pianis profesional 30% lebih besar dibanding orang yang cerdas namun tidak punya pengalaman bermain musik. Para insinyur dan desainer teknik di Silicon Valley yang terkenal cerdas ternyata, hampir tanpa perkecualian, adalah pemusik. 
 
Jadi, apakah musik sudah menjadi bagian dari hidup anak anda, di sekolah atau di rumah?

MENGEMBANGKAN KECERDASAN MUSIKAL


Musik merupakan faktor genetik. Bayi dibawah umur 2 tahun mampu berespon terhadap musik. Coba perhatikan bagaimana bayi dengan otomatis bergoyang dan mengikuti tempo musik yang didengarnya.

Bahkan menurut penelitian, anak-anak berumur 2 tahun  secara spontan membuat musik, mencipta 2-6 lagu per jam setiap harinya. Kecerdasan Musik ini muncul sebelum anak bisa berbicara.

Namun sayangnya, kebanyakan anak kehilangan kecerdasan ini ketika menginjak umur 5 tahun. Pada saat itu anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dan mengabaikan musik.

Ternyata, tanpa dukungan dari lingkungan, kemampuan bermain musik secara spontan akan lenyap. Orang tua mengira anaknya “tidak mempunyai bakat musik,” padahal bakat musik anak muncul dan hilang karena tidak dipupuk dengan sengaja.

Lalu apa yang perlu dilakukan oleh orang tua dan guru?

Jadikan gerak dan lagu bagian dari kegiatan anak sehari-hari. Bantu anak menemukan “si artis” di dalam dirinya. Ajak anak untuk bereksplorasi, mendengarkan suara-suara yang ada di sekitarnya. Bernyanyi dan menari bersama. Ciptakan “syair baru” dari lagu-lagu anak-anak yang sering didengar, misalnya “Balonku”