Quotation
There really are places in the heart you don't even know exist until you love a child. - Anne Lamott, Operating Instructions: A Journal of My Son's First Year
Ada tempat -tempat di hati Anda yang tidak Anda sadari kebberadaannya hingga Anda mencintai seorang anak. - Anne Lamott
Tikus Makan Besi
Dahulu kala hidup seorang pedagang
bernama Naduk. Karena usahanya merugi, Naduk memutuskan untuk menjual semua
barang miliknya untuk membayar hutang-hutangnya. Ia akan meninggalkan kota
tempat tinggalnya dan mencari peruntungan di tempat lain.
Naduk masih mempunyai satu batang besi
yang besar dan berat. Naduk membawa besi itu kepada sahabatnya, Lakshman. Ia
meminta sahabatnya itu untuk menyimpankan besi itu untuknya.
Naduk pergi mengunjungi temannya,
Lakshman. Setelah berbicara beberapa saat, Naduk berkata, “Teman, aku ingin
mengambil besi yang dulu kutitipkan kepadamu.”
Lakshman tidak ingin mengembalikan besi
itu karena dapat dijualnya dengan harga mahal, maka ia mengatakan, “Besi itu
kusimpan di gudang, tapi sekarang sudah habis dimakan tikus.”
Naduk tidak mengatakan apa-apa. Tak
lama kemudian ia berpamitan dan berkata, “Ada hadiah untukmu di rumah. Suruh
anakmu Ramu ikut denganku untuk mengambilnya.”
Ramu ikut dengan Naduk ke rumahnya.
Setiba di rumahnya, Naduk mengajak Ramu ke ruangan bawah tanah dan menguncinya
di sana. Malam itu Lakshman khawatir karena Ramu tidak juga pulang.
Ia pergi ke rumah Naduk.
"Di mana anakku?" tanya Lakshman.
“Oh, tadi dalam perjalanan ke rumahku, seekor
burung rajawali menyambar anakmu Ramu dan membawanya pergi,” kata Naduk.
“Kau bohong,” kata Lakshman. “Mana
mungkin seekor rajawali dapat membawa anakku yang berumur lima belas tahun?”
Mereka bertengkar dan akhirnya perkara
itu dibawa ke pengadilan.
Hakim mendengarkan pengaduan Lakshman dan menyuruh
Naduk mengembalikan anak itu kepada ayahnya.
Tapi Naduk berkeras, “Anak Lakshman
tidak ada di rumahku. Ia dibawa pergi oleh burung rajawali.”
“Seekor rajawali tidak mungkin dapat
membawa anak sebesar itu,” kata hakim.
“Kalau sebatang besi yang besar bisa
dmakan tikus,” kata Naduk, “Seekor rajawali juga bisa membawa anak sebesar itu.”
Naduk menceritakan kejadiannya dari
awal sampai akhir. Semua orang di ruang pengadilan itu tertawa. Akhirnya hakim
memerintahkan Lakshman mengembalikan besi kepada Naduk dan Naduk mengembalikan
anak Lakshman.
Gambar: http://a2.mzstatic.com/us/r30/Publication6/v4/26/93/7c/26937cb2-08c6-d114-7ad7-7b5530ef9267/Screen_Shot_1.480x480-75.jpg
Kakek dan Singa
Seorang kakek tinggal di sebuah rumah
kecil di tepi hutan bersama isterinya. Pada suatu hari, kakek melihat seekor
singa berjalan ke arah rumah mereka. Singa itu tampak lapar.
“Isteriku,” kata kakek gemetar. “Ada
seekor singa berjalan kemari. Ia pasti akan menyerang kita!”
“Katakan saja kau akan berburu singa yang
gemuk untuk makan malam,” kata isterinya.
Nenek memberikan sebutir telur bebek dan
mengajari kakek apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi singa itu.
Kakek ke luar dari rumah dan bertemu
dengan singa.
“Pak tua!” kata singa, “Mau ke mana kau?”
Kakek berhenti berjalan. “Aku ingin daging singa yang gemuk untuk makan malam. Kebetulan kau datang, aku tak perlu berburu.”
"Kau ingin makan dagingku?” kata singa, “Aku jauh lebih kuat darimu.Aku dapat menghancurkanmu dengan mudah.”
“Kalau begitu,” kata kakek. “kita berlomba. Siapa yang lebih kuat menjadi majikan. Yang lemah harus melakukan apa yang diperntahkan majikannya.”
"Baik!” kata singa.
Mereka pergi ke tempat terbuka. Kakek menunjuk sebuah batu. “Coba kauhancurkan batu itu.” Singa menghancurkan batu dengan satu sapuan cakarnya yang kuat.”
Kakek menunjukkan telur angsa yang dibawanya. “Lihat batu ini! Aku akan menggunakan dua jariku untuk menghancurkannya.” Kakek meremas telur itu dan membiarkan cairan telur jatuh ke tanah.
Singa terkejut. “Pak tua itu bisa memeras batu!” katanya dalam hati.
Singa mengaku kalah. Kakek memasang pelana di punggung singa dan gelang besi di hidungnya untuk memasang tali kendali. Jadilah singa tunggangan sang kakek.
Pada suatu hari, kakek menuruh singa mengantarnya ke hutan. Di hutan, kakek mencari kayu untuk dbuat busur panah. Ia menemukan kayu yang diinginkannya, tapi ia tak dapat mematahkan kayu itu walaupun mengerahkan seluruh tenaganya.
Kakek berhenti berjalan. “Aku ingin daging singa yang gemuk untuk makan malam. Kebetulan kau datang, aku tak perlu berburu.”
"Kau ingin makan dagingku?” kata singa, “Aku jauh lebih kuat darimu.Aku dapat menghancurkanmu dengan mudah.”
“Kalau begitu,” kata kakek. “kita berlomba. Siapa yang lebih kuat menjadi majikan. Yang lemah harus melakukan apa yang diperntahkan majikannya.”
"Baik!” kata singa.
Mereka pergi ke tempat terbuka. Kakek menunjuk sebuah batu. “Coba kauhancurkan batu itu.” Singa menghancurkan batu dengan satu sapuan cakarnya yang kuat.”
Kakek menunjukkan telur angsa yang dibawanya. “Lihat batu ini! Aku akan menggunakan dua jariku untuk menghancurkannya.” Kakek meremas telur itu dan membiarkan cairan telur jatuh ke tanah.
Singa terkejut. “Pak tua itu bisa memeras batu!” katanya dalam hati.
Singa mengaku kalah. Kakek memasang pelana di punggung singa dan gelang besi di hidungnya untuk memasang tali kendali. Jadilah singa tunggangan sang kakek.
Pada suatu hari, kakek menuruh singa mengantarnya ke hutan. Di hutan, kakek mencari kayu untuk dbuat busur panah. Ia menemukan kayu yang diinginkannya, tapi ia tak dapat mematahkan kayu itu walaupun mengerahkan seluruh tenaganya.
“Ke mana tenagamu?” tanya singa. “Kau tak
bisa mematahkan kayu kecil itu.”
Kakek berjalan pulang. “Singa itu melihat bahwa aku tidak sekuat yang dikiranya. Ia pasti datang kemari mencariku.”
“Tenang saja,” kata isterinya. “Kalau singa itu datang, ia akan melongok di pintu. Pada saat itu, tanyakan apa yang kumasak untuk makan malam.”
Benar saja. Singa datang dan melongok ke dalam rumah.
Pura-pura tidak melihat singa itu, kakek berteriak, “Isteriku, apa makan malam kita?”
“Seperti permintaanmu,” kata nenek. “Aku membuat kaldu dari sisa daging singa kemarin. Kutambahkan tulang pundak singa muda.”
Kakek berjalan pulang. “Singa itu melihat bahwa aku tidak sekuat yang dikiranya. Ia pasti datang kemari mencariku.”
“Tenang saja,” kata isterinya. “Kalau singa itu datang, ia akan melongok di pintu. Pada saat itu, tanyakan apa yang kumasak untuk makan malam.”
Benar saja. Singa datang dan melongok ke dalam rumah.
Pura-pura tidak melihat singa itu, kakek berteriak, “Isteriku, apa makan malam kita?”
“Seperti permintaanmu,” kata nenek. “Aku membuat kaldu dari sisa daging singa kemarin. Kutambahkan tulang pundak singa muda.”
Singa langsung berbalik dan lari ke hutan.
Ia bertemu dengan seekor rubah.
“Hai singa!” kata rubah, “Mengapa kau lari
ketakutan?”
Singa malu karena rubah melihatnya
ketakutan, Ia berhenti berlari dan mendatangi rubah. “Aku sedang terburu-buru.”
“Kulihat ada gelang besi di hidungmu?”
kata rubah, “Kau jadi mirip unta penarik kereta.”
Singa lupa pada rasa malunya. Ia bercerita
tentang lelaki tua yang bisa memeras batu dan isterinya yang suka memasak
daging singa.
“Orang-orang itu menipumu!” kata rubah. “Tak mungkin mereka cukup kuat untuk menangkap dan memakan singa.”
“Orang-orang itu menipumu!” kata rubah. “Tak mungkin mereka cukup kuat untuk menangkap dan memakan singa.”
“Bawa aku ke rumah mereka. Kuajari kau
cara menangkap mereka. Aku cukup puas dengan sisa daging mereka.”
Singa diikuti rubah pergi ke rumah kakek. Kakek melihat mereka berdua dari kejauhan dan tahu bahwa ada bahaya datang.
“isteriku!” katanya ketakutan “Sekarang singa itu datang bersama seekor rubah.”
"Kau tenanglah, kakek tua,” kata isterinya. “Dengar....”
Ketika kedua hewan sudah di depan rumah, kakek berkata dengan suara dalam dan kasar.”Rubah bodoh, aku menyuruhmu membawa singa muda yang gemuk, bukan singa tua kurus yang sudah sakit-sakitan begitu!”
Singa diikuti rubah pergi ke rumah kakek. Kakek melihat mereka berdua dari kejauhan dan tahu bahwa ada bahaya datang.
“isteriku!” katanya ketakutan “Sekarang singa itu datang bersama seekor rubah.”
"Kau tenanglah, kakek tua,” kata isterinya. “Dengar....”
Ketika kedua hewan sudah di depan rumah, kakek berkata dengan suara dalam dan kasar.”Rubah bodoh, aku menyuruhmu membawa singa muda yang gemuk, bukan singa tua kurus yang sudah sakit-sakitan begitu!”
“Kau penipu,” kata singa kepada rubah.
“Penghianat” Singa memukul rubah dengan cakarnya hingga melayang di udara dan
jatuh dengan sangat keras ke tanah.
Singa lari kembali ke hutan, meninggalkan
rubah yang terbaring kesakitan. Singa itu tidak pernah terlihat lagi di daerah
itu.
“Kekuatan tidak ada di otot tapi di otak kita.” kata kakek kepada nenek.
“Kekuatan tidak ada di otot tapi di otak kita.” kata kakek kepada nenek.
Isterinya tersenyum dan mengajak kakek
menikmati makan malam, yang tentunya bukan kaldu daging singa.
Tip Parenting Singkat
Yang dibutuhkan orang tua bukanlah menambah dosis kasih sayang untuk anak, namun penguasaan ketrampilan berkomunikasi. Sebuah skill yang hanya bisa dikuasai melalui latihan terus menerus.
-Andyda Meliala
Hadir Untuk Anak Anda
Mengasuh anak dengan efektif sangat memerlukan kehadiran orang tua. Bukan hanya sekedar kehadiran fisik, namun juga perhatian dan pikiran.
Salah satu hal yang paling menghambat orang tua dalam berkonsentrasi pada anak adalah pikiran negatif seperti: rasa bersalah, kemarahan, menyalahkan orang lain, ketidakpuasan.
So Ayah Bunda, berusahalah untuk hadir jiwa raga bagi anak anda dengan mengatur pikiran anda.
- Andyda Meliala
.
Langganan:
Postingan (Atom)


