Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat India. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Rakyat India. Tampilkan semua postingan

Kisah Tiga Ikan



Di sebuah kolam terletak jauh dari jalan raya, hiduplah tiga ekor ikan dengan damai dan bahagia. Salah seekor ikan selalu akalnya, ikan kedua kadang-kadang menggunakan akal sehatnya, sedangkan ikan ketiga tidak pernah menggunakan akal sehatnya. Pada suatu hari dua orang nelayan datang ke kolam itu dan melihat ketga ikan itu yang besar dan gemuk.

 “Cepat, ayo  mengambil jala di rumah!" kata mereka “Tangkapan bagus.”

Ketika ketiga ikan mendengar berita itu, mereka ketakutan. Tak lama kemudian,  ikan yang selalu menggunakan akalnya langsung menemukan  apa yang harus dilakukannya. Tanpa bicara kepada saudara-saudaranya, ia segera berenang ke jalan keluar kolam dan keluar dari bahaya.

Para nelayan segera kemballi  ke kolam. Mereka melihat bahwa salah satu ikan sudah menghilang. Mereka juga melihat jalan keluar dari kolam dan segera menutupnya. Sekarang ikan-ikan itu tidak dapat melarikan diri lagi.

Dengan putus asa, ikan yang kadang-kadang menggunakan akalnya, pura-pura mati dan mengapung di permukaan air.  Para nelayan mengambil dan memeriksannya. Mereka melemparkannya kembali ke kolam karena mereka kira ia sudah mati. 

Sementara ikan yang tak pernah menggunakan akalnya meyelam ke dasar kolam dimana ia mudah ditangkap.,  dan hari itu juga ia disajikan di meja makan sang raja.


Burung Gereja dan Gajah


Dahulu kala, hiduplah sepasang burung gereja di sebuah pohon beringin. Mereka membangun sarang di pohon itu dan so betina bertelur. Pada suatu siang yang panas, seekor gajah liar berteduh di bawah pohon beringin itu. Merasa marah karena kepanasan, gajah itu mematahkan sebatang dahan pohon beringin di mana pasangan burung gereja itu bersarang. Burung malangh itu selamat, tapi mereka tidak dapat menyelamatkan telur-telur mereka. Semua jatuh dan pecah. Burung gereja betina sangat sedih dan berduka.

Seekor burung pelatuk, sahabat burung gereja betina sangat prihatin mendengar kejadian itu. “Ada seekor lalat,” kata pelatuk, “ia dapat membantumu membalaskan perbuatan gajah itu.”

Burung gereja dan pelatuk pergi menemui sang lalat. “Ini sahabatku,” kata pelatuk kepada lalat. “seekor gajah memecahkan telur-telurnya. Kami membutuhkan bantuanmu. Bantu kami membalas perbuatan gajah itu.”

“Ayo kita pergi menemui katak, sahabatku,” kata lalat. Mereka bertiga pergi menemui katak untuk minta bantuan.

“Lakukan apa yang kukatakan kepadamu,” kata katak. “Lalat, pergilah mendekati gajah pada suatu siang yang panas. Mendekatlah pada telinganya dan gumamkan lagu yang indah di telinganya. Ketika gajah tidak menyadari apa yang terjadi, kau pelatuk, patuk kedua matanya.dengan demikian, ia menjadi buta. Ketika ia haus, ia akan mencari sumber air. Aku akan menunggunya di rawa-rawa dan berkoak. Ketika ia mendengar suaraku, ia mengira telah tiba di sumber air. Ia akan masuk ke rawa dan tenggelam di sana.

Esok siangnya, matahari bersinar terik. Lalat, burung pelatuk dan katak menjalankan rencana mereka. Karena buta, gajah itu masuk ke rawa dan tenggelam

Pendeta dan Tikus

Seorang pendeta merawat sebuah kuil di sebuah desa kecil. Ia hidup dari sedekah dan membagikannya kepada beberapa orang yang membantu membersihkan kuil.

Ada seekor tikus di kuil itu yang sering mencuri makanan sang pendeta. Tikus itu benar-benar menjadi masalah bagi sang pendeta. Sudah berbagai cara dilakukan pendeta untuk mengusir tikus dari kuil, tapi tidak berhasil. Pendeta bahkan menyimpan makanan dalam sebuah wadah dari tanah liat yang digantung di langit-langit. Tikus itu tetap bisa mencurinya. 

Kesal dan putus asa, sang pendeta meminta saran dari temannya, yang menasihatinya untuk mencari persediaan makanan si tikus dan menghancurkannnya.
Sang pendeta melakukan pencarian yang cermat di kuil. Akhirnya ia menemukan setumpuk makanan yang disembunyikan tikus. Pendeta segera menghancurkannya. 
Tikus kehilangan persediaan makanannya. Sang pendeta telah menyembunyikan semua makanan  di dalam wadah tanah liat yang digantung di langit-angit. Tikus tidak menemukan makanan. Ia kelaparan. Ia tidak mampu melompat atau memanjat untuk mencapai wadah makanan di langit-langit.
Pada suatu hari, sang pendeta menemukan tikus yang sudah lemas. Pendeta  dengan mudah menangkapnya  dan membuangnya jauh dari kuil. Tikus terluka dan tidak pernah kembali ke kuil itu.

Kisah Kura-kura dan Kalajengking


Seekor Kura-kura bersahabat dengan seekor kalajengking. Mereka berjanji untuk tidak pernah berpisah dan selalu bersama. Pada suatu hari mereka sepakat untuk pindah ke  daerah lain. Tapi belum terlalu jauh berjalan, sampailah mereka di sebuah sungai yang lebar dan airnya deras.

“Bagaimana ini?” kata kalajengking. “Kau bisa berenang, tapi tak mungkin aku menyeberangi sungai yang luas ini.”

“Jangan kuatir,” kata kura-kura. “Naiklah ke punggungku. Aku akan membawamu ke  seberang.”

Kalajengking naik ke punggung kura-kura dan mereka pun mulai menyeberangi sungai. Tak lama kemudian, kura-kura merasakan ketukan dan gesekan aneh di punggungnya

"Kalajengking,” kata kura-kura, “Apa yang kamu lakukan?”
“Oh,” kata kalajengking. “Aku sedang mencoba sengatku, bisa  tidak ya, menembus batokmu yang tebal?”

“Kamu teman yang tidak tahu berterima kasih," kata kura-kura. “Selamat tinggal.” Lalu kura-kura menyelam ke dalam air, sehingga kalajengking terlepas dari punggungnya.



ISteri Yang Pintar


Dahulu kala hiduplah seorang laki-laki yang sangat malas. Ia tidak mau bekerja, selalu mencari cara yang mudah untuk mendapatkan makanan. Suatu hari ia lewat di depan sebuah kuil. Di halaman kuil itu ada sebatang pohon mangga yang sedang berbuah lebat. Laki-laki itu memanjat tembok pagar kuil dan mencuri mangga.

Ternyata di bawah pohon mangga itu ada sebuah kolam penuh dengan ikan besar-besar. Ia segera memetik mangga dan menangkap seekor ikan besar. Lalu ia segera lari pulang.

“Isteriku,” teriaknya ketika tiba di rumah. “Lihat! Aku membawa makanan lezat untukmu!”

Isterinya senang melihat ikan dan mangga yang dibawa suaminya. Tapi... “Suamiku  tidak mau bekerja. Dari mana ia mendapat mangga dan ikan sebesar ini?”

“Sayang,” kata sang isteri, “Di mana kamu beli mangga dan ikan ini?”

“Oh, aku tidak membelinya,” kata suaminya bangga. “Aku mengambilnya dari kuil di sudut jalan itu. Gratis!”

Isterinya marah sekali. “Ia bukan hanya malas. Sekarang ia malah mencuri!” katanya dalam hati.

“Sudah lama kita tidak makan ikan ya? Kalau begitu aku akan memasaknya sekarang. Lebih baik kamu pergi mandi.”

Laki-laki itu pergi ke sungai untuk mandi. Isterinya menyiapkan bumbu-bumbu dan menumisnya sehingga seluruh rumah berbau sedap.

Ketika mendengar suara langkah kaki suaminya mendekati rumah, sang isteri mengacak-acak rambutnya. Ia berteriak dengan suara berat, “Hai, kau! Beraninya kau mencuri ikan dari kolam kuilku!”        
“Kuilmu?” kata laki-laki itu kaget.
“Ya, kuilku! Kaupikir tidak ada yang tahu kau mengambil mangga dan ikanku?”
“Tapi...”
 “Aku dewi dari kuil itu. Aku tahu perbuatanmu. Aku merasuki tubuh isterimu. Sekarang aku akan membunuhmu.”
“Mohon ampun, dewi, mohon ampun.”
“Baiklah, aku akan mengampunimu. Tapi kau harus berjanji tidak akan malas lagi. Kau akan bekerja keras dan tidak akan mencuri lagi!”
“Aku berjanji! Aku berjanji!”
“Sekarang kembalikan ikan ini ke kolamku!”

Laki-laki itu segera membawa kembali ikan itu dan melepaskannya di kolam kuil. Sejak itu ia bekerja keras untuk menafkahi keluarganya dan tidak pernah mencuri lagi. 

Kucing Kurus dan Kucing Gemuk


Dahulu kala, hidup seorang wanita tua yang miskin. Tubuhnya kurus karena ia hanya makan seadanya. Wanita itu memelihara seekor kucing yang sama kurusnya.

Pada suatu hari, si kucing kurus bertemu dengan seekor kucing yang gemuk, dengan bulu yang tebal dan indah. “Hai, teman”, kata si kurus. “Kau gemuk dan sehat. Pasti kau ini kucing yang paling bahagia di seluruh dunia. Jangan-jangan kau berpesta tiap hari.””

Kucing gemuk memperhatikan kucing kurus yang baru ditemuinya itu. “Benar,” katanya.”Aku makan dari meja makan raja. Kau tahu, makanan apa saja ada di sana.’

“Kau peliharaan raja?” tanya si kurus kagum.

“Oh, bukan,” kata si gemuk. “Tapi tiap kali makanan dihidangkan di meja makan raja, aku mengambil sedikit makanan yang kusukai.

“Kadang-kadang aku mendapat ayam goreng, daging sapi asap atau ikan bakar. Malah aku pernah minum kaldu dari mangkuk  raja.”

Kucing kurus membayangkan meja makan yang penuh hidangan lezat yang belum pernah dilihatnya. Ia ingin dapat merasakan makanan itu. “Besok aku ajak kau ke sana,” kata si gemuk.

Kucing kurus bercerita kepada majikannya dengan penuh semangat. Tapi wanita tua itu malah menjadi sedih. “Jangan pergi ke istana dan mencuri makanan raja. Kalau tertangkap, pasti kau celaka,” kata wanita itu.

Monyet dan Kacang Polong


Dahulu kala, seorang raja memerintah sebuah kerajaan yang besar. Sang raja suka sekali bepergian. Ia tidak suka mengunjungi negaranya sendiri, tapi lebih suka pergi ke negara lain. 

Pada suatu hari sang raja membawa pasukan tentara berlibur di sebuah negara yang jauh.
Raja berjalan-jalan di hutan sepanjang pagi. Kemudian ia dan tentaranya beristirahat di kemah. Kuda-kuda mereka juga perlu melepas lelah. Mereka diberi makan kacang polong. 

Seekor monyet yang tinggal di hutan itu mengawasi rombongan itu dari kejauhan. Ketika ia melihat kacang polong yang diberikan kepada kuda, segera ia turun dari pohon dan mengisi mulut dan tangannya dengan kacang polong banyak-banyak. Lalu ia naik lagi ke pohon dan makan.

Tiba-tiba, sebutir kacang terlepas dari tangan monyet dan jatuh ke tanah. Monyet yang serakah itu langsung melemparkan semua kacang dalam genggamannya dan turun dari pohon untuk mencari kacang yang jatuh itu. 

Kacang itu tidak ditemukannya. Monyet memanjat pohon lagi dan baru menyadari ia kehilangan semua kacangnya. Dengan sedih, ia berkata pada dirinya sendiri, “Demi sebutir kacang, aku membuang semua kacangku.”

Raja diam-diam memperhatikan tingkah laku monyet itu. “Aku tidak mau seperti monyet itu. Ia kehilangan banyak sekali demi keuntungan kecil. Aku akan kembali ke negeriku dan menikmati apa yang sudah kumiliki.”
Raja kemudian mengajak tentaranya pulang ke negaranya sendiri.

Moral: Hargai apa yang kaumiliki


Baca juga: Wanita Yang Menyamar Menjadi Pria Demi Menjadi Dokter

Pangeran Monyet Yang Bijaksana

Dahulu kala ada sebuah kerajaan monyet di pegunungan Himalaya. Raja monyet takut, suatu hari nanti salah satu anak laki-lakinya akan mengantikannya sebagai raja. Ia mempunyai beberapa isteri. Tiap isterinya melahirkan anak laki-laki, raja monyet menggigit sang bayi sehingga menjadi cacat dan lemah. Dengan demikian anak monyet itu tidak dapat merebut kerajaan darinya.

Salah satu isteri raja mengandung. Ia ingin melindungi anaknya dari perbuatan jahat sang raja. Ia melarikan diri ke hutan yang jauh dari kerajaan itu. Tak lama kemudian, ia melahirkan anak laki-laki. Anak laki-laki itu tumbuh menjadi monyet muda yang rupawan dan kuat. 

Pada suatu hari, monyet muda bertanya kepada ibunya, "Ibu, di mana ayahku?"
"Ayahmu adalah raja di kerajaan monyet di Himalaya. Tempat itu sangat jauh dari sini."
"Jadi aku anak raja, bu?"
"Benar nak, kau pangeran monyet."
"Mengapa tinggal di sini, bu?"

Sang ibu dengan sedih menceritakan raja monyet yang selalu mencelakakan anak-anak laki-lakinya sendiri agar tidak bisa merebut kerajaan.

Monyet muda itu ingin menemui ayahnya. Ketika ibunya tidak mau membawanya ke istana, monyet muda itu mengatakan bahwa ibunya tidak perlu takut.

Akhirnya mereka pergi menemui sang raja. Raja langsung mengenali anaknya dan ingin membunuhnya. Ia berpura-pura memeluk pangeran monyet, padahal ia sengaja memeluk monyet muda itu kuat-kuat agar tidak bisa bernapas dan mati. Tapi usahanya tidak berhasil. Pangeran monyet dapat menghindar dari bahaya.

Raja berpikir keras agar ia dapat menyingkirkan anaknya. Ia teringat sebuah kolam di dekat kerajaannya. Kolam itu dihuni setan air yang akan membunuh semua orang yang masuk ke kolamnya. 

Raja memanggil pangeran. "Anakku, sudah waktunya aku menyerahkan kerajaan ini kepada orang yang lebih muda. Aku memutuskan untuk menyerahkannya kepadamu. Sekarang pergilah ke kolam di sebelah timur kerajaan ini, kumpulkan bunga teratai di sana untuk penobatanmu besok."

Pangeran pun berangkat ke kolam yang ditunjukkan ayahnya. Kolam itu dipenuni bunga teratai indah beraneka warna. Tapi kolam itu terlihat sepi, tidak ada satu pun orang atau hewan di dekatnya. Ia memperhatikan di sekitar kolam, ada banyak jejak kaki hewan dan orang. Semua jejak mengarah ke kolam, tapi tidak ada jejak yang meninggalkan kolam itu. Tahulah dia bahwa ada sesuatu yang berbahaya di dalam kolam itu dan ayahnya ingin mencelakakannya.

Pangeran melihat ada bagian kolam yang tidak terlalu lebar. Ia melompat menyeberangi kolam sambil memetik bunga teratai. Ia kemudian melompat kembali sambil memerik bunga lagi. Setelah melompat bolak balik berkali-kali ia mengumpulkan banyak bunga teratai tanpa harus masuk ke kolam.


Setan air diam-diam memperhatikan dari dasar kolam. Kemudian ia muncul ke permukaan dan menyambut pangeran monyet. "Tuanku raja monyet, Belum pernah aku melihat manusia atau hewan seperti dirimu.
Kau memiliki kekuatan yang membuatmu tak terkalahkan. Kau tangkas, berani dan bijaksana."

"Tuanku, mengapa kau mengumpulkan bunga-bunga itu?"

"Ayahku akan menobatkanku sebagai raja di kerajaannya. Ia memintaku mengumpulkan bunga untuk upacara penobatan."

"Kau terlalu mulia untuk membawa bunga-bunga ini. Ijinkan aku membawakannya."

Raja monyet melihat pangeran kembali, setan air mengikutinya membawa bunga teratai. "Aku menyuruhnya pergi mengumpulkan bunga agar setan air membunuhnya. Ternyata ia dapat mengalahkan setan air."

Raja monyet ketakutan. Tiba-tiba ia tidak dapat bernapas. Ia terjatuh dan mati.

Rakyat monyet tidak suka kepada raja mereka yang jahat dan kejam. Mereka justru senang rajanya meninggal. Pangeran monyet dinobatkan sebagai raja. Ia memerintah dengan bijaksana


Raja Monyet Yang Berhati Mulia


Di tepi sungai Gangga, ada sebatang pohon mangga yang tinggi dan besar. Di sekitar pohon itu, hidup delapan puluh ribu ekor monyet. Mereka dipimpin raja mereka yang bertubuh besar. Di tepi sungai itu tumbuh sebatang pohon mangga yang besar dan tinggi.

Monyet-monyet itu makan mangga ketika sudah masak. Raja mereka memperingatkan, jangan sampai ada buah mangga yang jatuh ke sungai. Karena mangga yang jatuh ke sungai akan terbawa arus ke pemukiman manusia. Manusia akan mencari asal buah itu dan menemukan kerajaan monyet itu. Mereka akan mengganggu ketentraman para monyet.

Pada suatu hari, tanpa sepengetahuan mereka, satu tangkai mangga yang tersembunyi di belakang sarang semut jatuh ke sungai dan hanyut ke selatan, ke kota Benares.

Nelayan menemukan buah itu di jaring mereka, dan menyerahkannya kepada raja Brahmadutta yang sedang mandi di sungai Gangga. Raja menanyakan apa nama buah itu dan dari mana asalnya, tapi tentu saja para nelayan tidak tahu. Mereka hanya tahu buah itu terbawa aliran sungai.

Mereka mengupas mangga-mangga itu dan raja memakannya bersama permaisuri dan para menteri. Raja sangat menyukai rasa buah yang keemasan dan manis itu. Ia ingin mencari pohonnya.

Raja memerintahkan untuk membuat beberapa perahu.. Raja ditemani beberapa prajurit dan nelayan berlayar ke arah hulu sungai untuk mencari pohon mangga.

Cukup lama mereka berlayar hingga menemukan pohon mangga itu. Raja menikmati buah mangga sepuasnya. Malam itu raja berbaring di dekat api unggun di bawah pohon mangga.

Tengah malam tiba, para monyet datang dan mengambil semua mangga yang masih ada di pohon. Suara mereka membuat raja terbangun. Raja segera memerintahkan prajurit untuk menembak beberapa monyet.

Monyet lari dan melapor kepada raja mereka. Raja monyet mengambil sebatang bambu panjang. Ia mengikat ujung bambu ke sebatang pohon  dan mengikatkan ujung yang satu lagi ke tubuhnya sendiri. 

Raja monyet lalu melompat ke pohon mangga, sehingga bambu itu menjadi jembatan. Tapi bambu itu kurang panjang, sehingga raja monyet harus berpegangan pada pohon mangga dengan bambu terikat di tubuhnya. 

Raja monyet memerintahkan seluruh rakyatnya naik ke punggungnya dan menyeberang melalui bambu itu. Delapan puluh ribu ekor monyet menyeberang satu per satu melalui punggung raja monyet dan pergi ke tempat yang aman.

Seekor monyet yang selama ini tidak menyukai rajanya, sengaja melompat ke punggung raja monyet sehingga punggung raja patah. Kemudian lari ke seberang. Beberapa monyet di belakang monyet jahat itu mengerumuni raja mereka yang terluka, tapi raja monyet memaksa mereka pergi. Ia menunggu sampai semua monyet menyeberang dan tetap berpegangan pada pohon mangga.

Raja Brahmadutta melihat seluruh kejadian itu dan memerintahkan prajuritnya untuk menurunkan raja monyet. Ia memerintahkan prajuritnya untuk membersihkan tubuh raja monyet dan membungkusnya dengan kain kuning yang lembut.

“Aku menyesal membuatmu celaka," kata raja Brahmadutta. "Tapi mengapa kau melakukan itu? Kau bisa menyelamatkan dirimu sendiri.”

“Aku pembimbing dan pemimpin mereka,“ kata raja monyet. “Mereka itu anak-anakku. Sudah menjadi tugasku untuk menjaga keselamatan mereka.”

“Tuanku, sebagai raja, kau pun harus memperhatikan kesejahteraan  seluruh rakyatmu,” kata raja monyet, “walaupun untuk itu kau harus mengorbankan dirimu sendiri.”

Setelah mengatakan itu, raja monyet meninggal dengan tenang. Raja Brahmadutta tertegun. Betapa bijaknya raja monyet. 

Atas perintah raja Brahmadutta, raja monyet dimakamkan dengan upacara pemakaman seperti raja-raja. Raja juga mendirikan tugu peringatan untuk raja monyet.


Ketika raja kembali ke Benares, ia juga mendirikan tugu untuk raja monyet dan menceritakan kisah monyet yang berhati mulia itu kepada rakyatnya. Raja Brahmadutta tidak pernah melupakan kata-kata terakhir raja monyet. Ia memimpin rakyatnya dengan bijaksana dan selalu memperhatikan kebutuhan mereka.

Gambar: http://ecx.images-amazon.com/images/I/81Myqp1e4SL._SL500_AA300_.png

Singa Besar dan Kelinci Kecil


Dahulu kala hidup seekor singa besar di hutan. Tiap hari ia berburu dan membunuh banyak hewan untuk dimakan. Hewan lain khawatir bahwa lama-lama tidak ada lagi hewan yang selamat. Mereka memutuskan untuk menemui sang singa.

Ketika singa melihat hewan-hewan mendatanginya, ia sangat gembira. Dikiranya tak perlu lagi susah payah berburu. Ia akan membunuh semua hewan itu sekaligus.

Para hewan itu memohon agar diperbolehkan bicara dulu. “Tuan singa,” kata salah satu hewan, “kau raja kami dan kami rakyatmu. Kalau kau membunuh kami semua, kau tidak punya rakyat lagi. Selain itu, bila tidak ada lagi hewan di hutan ini, tuanku harus berburu ke tempat yang jauh”

“Ijinkan kami mengirimkan persembahan kepadamu, tuan,” lanjutnya. “Tiap hari satu dari kami akan datang kepadamu.”

Singa setuju, dengan satu syarat. Bila pada suatu hari hewan-hewan itu tidak mengirimkan santapan untuknya, ia akan membunuh mereka semua.

Sejak saat itu, tiap hari seekor hewan datang ke sarang singa. Singa sangat senang.

Pada suatu hari, tibalah giliran seekor kelinci kecil untuk pergi kepada singa. Kelinci itu berpikir dan berpikir agar tidak menjadi santapan singa. Ia membuat rencana yang akan menyelamatkan dirinya dan  juga hewan-hewan lain di hutan itu.

Kelinci pergi ke sarang singa. Ia sengaja datang terlambat. Singa berjalan mondar mandir di sarangnya. Ia sudah lapar sekali dan santapannya belum datang. Ia tambah marah ketika melihat hanya seekor kelinci kecil yang datang.

“Tuanku jangan marah,” kata kelinci takut-takut. “Sebenarnya aku datang bersama saudara-saudaraku. Kami berenam.”
“Enam?” geram singa. “Ke mana lima kelinci itu? Mengapa hanya kau yang datang ke sini?”

“Ketika kami pergi ke mari,” kata kelinci. “kami diserang seekor singa yang besar dan kuat. Hanya aku yang dilepaskannya.”

“Mengapa kau dilepaskan?” tanya singa

“Singa itu menyuruhku menyampaikan pesan kepadamu, tuan,” kata kelinci. “Ia menantangmu untuk membuktikan siapa raja hutan yang sebenarnya.”

 “Apa?” geram singa. “Di mana singa itu? Tunjukkan kepadaku!”

Kelinci kecil itu membawa singa ke sebuah sumur.

"Singa itu ada di sana, tuanku.”

Singa melongok ke dalam sumur dan melihat bayangannya di air sumur. Ia mengira bayangannya  adalah singa yang menantangnya. Ia menggeram. Suara geramannya terpantul di dinding sumur sehingga terdengar lebih keras dan menyeramkan. Singa segera melompat ke dalam sumur. Kepalanya terbentur keras pada batu besar dan ia tenggelam.


Kelinci segera pergi menemui hewan-hewan lain untuk mengabarkan bahwa singa yang kejam itu sudah mati.

Gambar adalah prangko yang diterbitkan negara India berdasarkan cerita ini

Tikus Makan Besi


Dahulu kala hidup seorang pedagang bernama Naduk. Karena usahanya merugi, Naduk memutuskan untuk menjual semua barang miliknya untuk membayar hutang-hutangnya. Ia akan meninggalkan kota tempat tinggalnya dan mencari peruntungan di tempat lain.

Naduk masih mempunyai satu batang besi yang besar dan berat. Naduk membawa besi itu kepada sahabatnya, Lakshman. Ia meminta sahabatnya itu untuk menyimpankan besi itu untuknya.

Naduk pergi berkelana selama bertahun-tahun. Ia menjadi kaya lagi. Ia pulang ke kota asalnya dan membeli rumah baru. Ia juga membuka usaha lagi.

Naduk pergi mengunjungi temannya, Lakshman. Setelah berbicara beberapa saat, Naduk berkata, “Teman, aku ingin mengambil besi yang dulu kutitipkan kepadamu.”

Lakshman tidak ingin mengembalikan besi itu karena dapat dijualnya dengan harga mahal, maka ia mengatakan, “Besi itu kusimpan di gudang, tapi sekarang sudah habis dimakan tikus.”

Naduk tidak mengatakan apa-apa. Tak lama kemudian ia berpamitan dan berkata, “Ada hadiah untukmu di rumah. Suruh anakmu Ramu ikut denganku untuk mengambilnya.”

Ramu ikut dengan Naduk ke rumahnya. Setiba di rumahnya, Naduk mengajak Ramu ke ruangan bawah tanah dan menguncinya di sana. Malam itu Lakshman khawatir karena Ramu tidak juga pulang. Ia pergi ke rumah Naduk.

"Di mana anakku?" tanya Lakshman.

“Oh, tadi dalam perjalanan ke rumahku, seekor burung rajawali menyambar anakmu Ramu dan membawanya pergi,” kata Naduk.

“Kau bohong,” kata Lakshman. “Mana mungkin seekor rajawali dapat membawa anakku yang berumur lima belas tahun?”

Mereka bertengkar dan akhirnya perkara itu dibawa ke pengadilan.

Hakim mendengarkan pengaduan Lakshman dan menyuruh Naduk mengembalikan anak itu kepada ayahnya.

Tapi Naduk berkeras, “Anak Lakshman tidak ada di rumahku. Ia dibawa pergi oleh burung rajawali.”

“Seekor rajawali tidak mungkin dapat membawa anak sebesar itu,” kata hakim.

“Kalau sebatang besi yang besar bisa dmakan tikus,” kata Naduk, “Seekor rajawali juga bisa membawa anak sebesar itu.”

Naduk menceritakan kejadiannya dari awal sampai akhir. Semua orang di ruang pengadilan itu tertawa. Akhirnya hakim memerintahkan Lakshman mengembalikan besi kepada Naduk dan Naduk mengembalikan anak Lakshman.


Gambar: http://a2.mzstatic.com/us/r30/Publication6/v4/26/93/7c/26937cb2-08c6-d114-7ad7-7b5530ef9267/Screen_Shot_1.480x480-75.jpg