Tampilkan postingan dengan label Fabel Aesop. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fabel Aesop. Tampilkan semua postingan

Kisah Kelinci dan Katak



Semua kelinci di sebuah hutan diundang ke sebuah pertemuan. Para tetua mereka telah memutuskan untuk bertemu untuk membicarakan nasib mereka yang buruk. Mereka punya terlalu banyak musuh. Manusia, anjing, hewan buas dan burung pemangsa semua memburu mereka untuk dimakan, dan mereka tidak punya senjata untuk membela diri. Mereka tidak punya rahang penuh gigi yang tajam seperti anjing dan serigala. Mereka juga tidak memiliki cakar dengan kuku tajam, atau duri di punggung seperti landak yang menghalangi pemangsa. Para kelinci putus asa dan tidak tahan lagi selalu diburu. Satu-satunya jalan keluar menurut mereka adalah melakukan bunuh diri masal. Di dekat hutan itu ada sebuah kolam yang dalam, mereka akan melompat bersama-sama ke dalamnya dan tenggelam, mengakhiri penderitaan mereka.


Sekelompok besar katak tinggal di kolam itu, beberapa dari mereka berjemur di tepi kolam, ketika rombongan kelinci bergegas ke kolam dengan suara gemuruh. Terkejut dan ketakutan, para katak berkoak-koak dan melompat ke dalam air dan bersembunyi. Salah satu kelinci yang tua dan bijaksana, yang memimpin rombongan kelinci melihat katak-katak itu lari, berhenti. Ia mengangkat kaki depannya ke udara, ‘Teman-teman!” teriaknya “Berhenti!” mari kita pikirkan lagi. Yang terjadi tidak seburuk yang kita kira.  Makhluk-makhluk ini takut kepada kita, jadi kita bukan yang terendah.”

Rubah dan Bangau



Rubah bertemu dengan bangau dan mengundangnya untuk makan malam.

“Dengan senang hati,” kata bangau.

Ketika mereka tiba di rumah rubah, makan malam sudah dihidangkan. Bangau kelihatan tidak begitu senang. Rubah menghadangkan sup panas yang lezat di piring yamg ceper. Bangau yang malang hanya dapat memandangi rubah makan. Rubah mengangggap hal itu lucu.

Esok harinya bangau balas mengundang rubah ke rumahnya untuk makan malam. Bangau mengeluarkan sup yang sedap dalam botol dengan leher yang tinggi dan sempit.

Bangau berkata. “Rubah temanku, selamat menikmati. Semoga hidangan malam ini sama lezatnya dengan masakanmu semalam.” Kemudian ia menuangkan separuh sup ke dalam mangkuk dan menghidangkannya untuk rubah.

Rubah yang licik merasa samgat malu hingga ia tidak pernah menatap wajah orang lain sejak hari itu.




Rubah dan Tukang Kayu

Seekor rubah dikejar-kejar anjing pemburu. Rubah tak henti-henti berlari. Ia bertemu dengan tukang kayu. Rubah memohon kepada tukang kayu untuk memberikan tempat bersembunyi. Tukang kayu menunjukkan pondok miliknya. Rubah yang sudah letih segera menyelinap dan bersembunyi di sudut pondok.
Para pemburu tiba di pondok tukang kayu. Mereka bertanya apakah tukang kayu melihat seekor rubah. Tukang kayu menjawab, “Tidak,” tapi jarinya menunjuk sudut rumahnya tempat rubah bersembunyi. Para pemburu tidak menangkap petunjuk tukang kayu dan pergi.
Setelah merasa aman, rubah diam-diam meninggalkan tempat persembunyiannya.
Tukang kayu melihatnya dan menegur,”Oh, begitu ya, caramu meninggalkan tuan rumahmu, yang telah menolongmu? Tidak tahu berterima kasih...”
“Tuan rumah yang baik!” kata rubah. “Seandainya jarimu sama jujurnya seperti lidahmu, tak mungkin aku pergi tanpa berpamitan.”