Tampilkan postingan dengan label .Cerita anak dengan pelajaran moral. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label .Cerita anak dengan pelajaran moral. Tampilkan semua postingan

Rubah dan Bangau



Rubah bertemu dengan bangau dan mengundangnya untuk makan malam.

“Dengan senang hati,” kata bangau.

Ketika mereka tiba di rumah rubah, makan malam sudah dihidangkan. Bangau kelihatan tidak begitu senang. Rubah menghadangkan sup panas yang lezat di piring yamg ceper. Bangau yang malang hanya dapat memandangi rubah makan. Rubah mengangggap hal itu lucu.

Esok harinya bangau balas mengundang rubah ke rumahnya untuk makan malam. Bangau mengeluarkan sup yang sedap dalam botol dengan leher yang tinggi dan sempit.

Bangau berkata. “Rubah temanku, selamat menikmati. Semoga hidangan malam ini sama lezatnya dengan masakanmu semalam.” Kemudian ia menuangkan separuh sup ke dalam mangkuk dan menghidangkannya untuk rubah.

Rubah yang licik merasa samgat malu hingga ia tidak pernah menatap wajah orang lain sejak hari itu.




Kisah Kerbau dan Buaya


Pada suatu hari, seekor buaya berjemur di tepi sungai. Tiba-tiba sebatang pohon besar roboh dan menimpanya. Buaya tidak terluka karena kulitnya yang keras, tapi pohon itu besar sekali, sehingga ia terhimpit dan tidak bisa pergi.

Buaya lapar sekali, tapi ia tak bisa mendorong pohon yang menindihnya. Seekor kerbau muda datang untuk minum. Buaya memohon kepada kerbau untuk membebaskannya dari himpitan pohon.

“Pohonnya besar sekali,” kata buaya. “Aku tidak kuat mengangkatnya.’
“Tolonglah,” kata buaya. “Kalau kau tak mau menolongku, aku akan mati.”

Buaya merasa iba. Ia mengerahkan seluruh tenaganya mengangkat pohon itu dengan bahunya yang kuat. Pohon itu berhasil diangkat, dan buaya bebas. Kerbau yang terengah-engah beristirahat sejenak. Tapi tiba-tiba “Hap!” buaya menggigit kakinya.

“Buaya!” teriak kerbau. “Lepaskan kakiku!”

Kerbau memohon-mohon agar buaya melepaskannya. Buaya malah mulai menariknya ke sungai. Karena kerbau berat, buaya agak kesulitan menyeret kerbau ke sungai. Beberapa hewan yang datang ke sungai tidak mau menolong kerbau, mereka takut menjadi mangsa buaya. Mereka cepat-cepat lari.

Untunglah, tak lama kemudian datanglah kancil. “Hai kerbau, sedang apa kamu di situ?” Kerbau pun menceritakan buaya yang tidak tahu berterima kasih itu mau memakannya setelah ditolong.

“Kau bilang, kau mengangkat pohon untuk menolong buaya?” tanya kancil. “Pohon yang mana?”
Kerbau menunjukkan pohon yang roboh itu. Kancil mengamati pohon besar itu.
“Besar sekali pohonnya,” kata kancil. “Tak mungkin kau kuat mengangkatnya.”
“Benar, kancil, aku tadi mengangkatnya” kata kerbau. “Kau tanya saja sama buaya.”
“Heeh,” kata buaya tanpa membuka mulutnya, takut kerbau terlepas.
“Aku tidak percaya,” kata kancil. “Kau bisa buktikan?”
“Buaya, lepaskan kerbau itu. Biar dia buktikan kata-katanya. Aku jamin dia tidak bisa lari dengan kakinya luka parah begitu.”

Buaya yang kelaparan tidak bisa berpikir lagi. Makin cepat masalah ini selesai, makin cepat ia bisa makan kerbau muda itu. Ia melepaskan kaki kerbau, lalu kembali ke tempat ia tertindih pohon.

“Kerbau, letakkan pohon itu di atas buaya,” kata kancil. “Lalu buktikan bahwa kamu kuat menolongnya mengangkat pohon itu.”

Kerbau dengan susah payah mengangkat pohon lalu meletakkannya di atas tubuh buaya.

“Benar begitu?” tanya kancil kepada kerbau dan buaya,
“Iya,” kata kerbau
“Benar,” kata buaya. “Ayo kerbau, cepat singkirkan pohon ini.”

Kerbau bersiap-siap mengangkat pohon itu sekali lagi. “Hai kerbau! Apa yang kau lakukan?”
“Kan kau mau aku buktikan...”
“Jadi kau mau jadi makanan buaya?”
“Oh, iya ya...”
“Ayo kita pergi!”
“Tapi...” kata kerbau dan buaya bersamaan.
“Biarkan saja dia.”
“Terima kasih, cil. Kau menyelamatkan aku dari buaya jahat itu.

Mereka berdua berjalan kembali masuk ke hutan. Sementara buaya hanya bisa menunggu sampai ada yang mau menyelamatkannya.





Bawang Merah dan Bawang Putih


Dahulu kala hiduplah seorang pedagang bersama isteri dan puteri tunggal mereka yang bernama Bawang Putih. Mereka hidup berbahagia bertiga. Tapi malang, sang ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Tak jauh dari rumah Bawang Putih, hidup seorang janda dan anak perempuannya, Bawang Merah. Setelah  ibu Bawang Putih meninggal, Bawang Merah dan ibunya sering datang berkunjung. Mereka sering membawakan makanan. Mereka juga menemani Bawang Putih ketika ayahnya pergi berdagang ke luar kota  Mereka  memperlakukan Bawang Putih seperti anak dan adik mereka sendiri.

Ayah Bawang Putih sangat bersyukur dengan kehadiran Bawang Merah dan ibunya di tengah keluarga mereka.  Ia sering memikirkan Bawang Putih yang sudah tak mempunyai ibu. Akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan ibu Bawang Merah.

Bawang Merah dan ibunya menyayangi bahkan memanjakan Bawang Putih. Tapi  itu hanya bila ayah Bawang Putih sedang ada di rumah.  Ketika ayahnya pergi ke luar kota, Bawang Putih disuruhnya  mengerjakan tugas yang berat-berat, sementara ia dan Bawang Merah bermalas-malasan. Bawang Putih tidak pernah menceritakan hal itu kepada ayahnya.

Pada suatu hari, ayah Bawang Putih pulang dalam keadaan sakit parah. Beberapa bulan kemudian ayah Bawang Putih meninggal.  Tinggallah Bawang Putih hidup sebatang kara. Ibu dan kakak tirinya makin kejam kepadanya. Tapi Bawang Putih tidak dapat berbuat apa-apa. Ia terpaksa menuruti semua perintah ibu dan kakak tirinya.

Pada suau hari, Bawang Putih disuruh mencuci setumpuk pakaian di sungai. Setelah selesai mencuci, Bawang Putih baru sadar bahwa baju merah ibu tirinya hilang.

“Baju kesayanganku kau hilangkan?” tanya ibu. “Pasti hanyut di sungai. Pergi cari! Jangan kembali sebelum baju itu ketemu.”

Legenda Batu Menangis


Dahulu kala, seorang janda hidup di sebuah desa di Kaimantan Barat bersama anak gadisnya.
Sejak suaminya meninggal, sang ibu bekerja keras menjadi buruh tani. Ia membantu mengerjakan sawah orang lain karena ia tidak mempunyai sawah sendiri.

Anak gadisnya sudah beranjak dewasa dan mempunyai wajah yang cantik rupawan. Sayang, perilaku gadis itu tidak secantik parasnya. Ia tidak pernah mau membantu ibunya bekerja. Membersihkan rumah atau mencuci baju, sama sekali tak mau dikerjakannya. Apalagi membantu ibunya di sawah. Ia hanya merias wajahnya saja, kemudian pergi ke rumah teman-temannya.

Ketika ibunya menerima upah untuk jerih payahnya di sawah, sang gadis sudah menunggu di rumah. Begitu ibunya tiba di rumah, ia langsung meminta dibelikan baju atau alat kecantikan.  Kadang-kadang seluruh uang hasil kerjanya ibunya habis sehingga tidak ada uang lagi untuk membeli makanan atau keperluan lain.

Pada suatu hari, sang ibu pulang dari sawah. Ia merasa heran mengapa puterinya tidak meminta uang. Si ibu berharap anaknya sudah mulai sadar dan merasa iba pada ibunya.

Ternyata tidak demikian. “Bu, besok ibu pergi ke pasar ya bu,” kata gadis itu.

“Ibu besok bekerja di sawah, nak,” jawab ibunya. “Sudah musim tanam, ibu harus bekerja tiap hari.”
“Sehari saja ibu tidak ke sawah kan tidak apa-apa, bu,”  kata gadis itu lagi. “Ibu pergi ke pasar saja, belikan aku bedak yang baru datang di kota. Semua temanku sudah membelinya.”

“Kau ajaklah temanmu ke pasar, nak. Ibu tidak tahu bedak seperti apa yang kau inginkan.” Ibu itu tahu, bila ia salah membelikan bedak, anak gadisnya akan marah dan membuang bedak itu. Dan ia akan meminta ibunya membeli bedak yang diinginkannya.

“Aku tidak mau pergi bersama temanku,” kata gadis itu sambil cemberut. “Nanti mereka tahu bahwa uangku hanya sedikit,”

“Kalau begitu besok kau ikut ibu ke kota.”

Gadis itu tidak mau ikut ke pasar di kota tapi ibu memaksanya. Karena ingin membeli bedak itu, akhirnya ia mau juga pergi dengan ibunya.

Esok harinya, mereka berdua berangkat ke kota. Sang gadis memakai bajunya yang paling bagus, sedangkan ibunya memakai baju yang sudah tua.

Perjalanan ke kota cukup jauh. Hari makin siang dan matahari makin terik. Si gadis berpayung agar terlindung dari panas matahari. Ibunya dibiarkannya kepanasan.

Mereka berpapasan dengan seorang pemuda. “Nona,” kata pemuda itu, “mengapa kau memakai payung sendiri saja? Lihat ibumu kepanasan.”

“Oh, tidak apa-apa,” kata gadis itu sambil mempercepat langkahnya sehingga ibunya tertinggal di belakang.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan orang dari desa tetangga mereka. Orang itu mengenal gadis itu tapi tidak pernah bertemu dengan ibunya. Ia menyapa, “Berjalanlah perlahan sedikit, nona. Ibumu tertinggal.”

“Kau kira ia ibuku?” gadis itu tertawa. “Bukan, ia bukan ibuku.”

“Kukira kalian pergi bersama-sama.”

“Dia memang bersama-sama, tapi dia bukan ibuku.”

“Bukan ya?” kata orang itu lagi. “Wajah kalian mirip.”

“Masa kami mirip?” kata gadis itu, ia mulai kesal. “Dia kan pembantuku.”

Gadis itu makin  mempercepat langkahnya sampai setengah berlari. Setelah orang tadi tidak terlihat lagi, ia berteriak pada ibunya. “Ayo bu, cepatlah sedikit. Aku ingin segera ke pasar lalu pulang. Ibu membuatku malu saja!”

Ibu terkejut dan sedih sekali mendengar kata-kata anaknya. Ia berhenti berjalan dan hanya berdiri diam. Dalam hati ia memohon kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka.

Gadis itu tiba-tiba sadar bahwa ibunya tidak mengikutinya. Ia sangat marah. Ia berkata, “Sudah ibu pulang saja. Berikan uangnya, aku sendiri saja ke pasar.”

Ia ingin menghampiri ibunya dan meminta semua uangnya. Tapi ia tidak dapat mengangkat kakinya. Kedua kakinya kaku dan tidak dapat bergerak. Bahkan kakinya mulai menghitam. Ia menyentuh kakinya yang sudah berubah menjadi batu.
“Ibu!” jeritnya ketakutan. “Kenapa kakiku,bu? Kakiku jadi batu!”

Sekarang ia tahu bahwa ia mendapat hukuman karena durhaka kepada ibunya. “Ibu, tolong! Ampuni aku.”

“Aku akan menjadi anak baik, bu... Ampuni aku.”

Sang ibu sangat menyesal. Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Perlahan-lahan seluruh tubuh gadis itu berubah menjadi batu. Ia menangis. Bahkan ketika tubuhnya sudah membatu seluruhnya, ia masih menitikkan air mata.

Kisah ini masyarakat setempat dianggap benar-benar terjadi. Batu yang dipercaya merupakn penjelmaan gadis cantik yang durhaka kepada ibunya itu masih ada sampai sekarang dan disebut Batu Menangis.



Kisah Katak dan Tikus



Seekor tikus bersahabat dengan seekor katak. 
Pada suatu hari katak ingin berbuat nakal pada tikus. Ia mengikat satu kaki tikus ke kakinya sendiri. 
Katak membawa tikus ke kolam tempat tinggalnya. Katak melompat ke dalam kolam dan berenang dengan gembira. Tikus yang malang terseret ke dalam kolam. Tak lama kemudian tikus mati lemas.

Katak masih berenang sambil sesekali menyelam. Seekor elang melihat tubuh tikus terapung-apung di kolam. Elang segera menyambar tikus dan memakannya. Katak yang terikat pada tikus pun ikut menjadi santapannya.

Moral cerita: jangan berbuat jahat, salah-salah kamu terkena perbuatanmu sendiri