Tampilkan postingan dengan label Legenda Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda Indonesia. Tampilkan semua postingan

Legenda Batu Menangis


Dahulu kala, seorang janda hidup di sebuah desa di Kaimantan Barat bersama anak gadisnya.
Sejak suaminya meninggal, sang ibu bekerja keras menjadi buruh tani. Ia membantu mengerjakan sawah orang lain karena ia tidak mempunyai sawah sendiri.

Anak gadisnya sudah beranjak dewasa dan mempunyai wajah yang cantik rupawan. Sayang, perilaku gadis itu tidak secantik parasnya. Ia tidak pernah mau membantu ibunya bekerja. Membersihkan rumah atau mencuci baju, sama sekali tak mau dikerjakannya. Apalagi membantu ibunya di sawah. Ia hanya merias wajahnya saja, kemudian pergi ke rumah teman-temannya.

Ketika ibunya menerima upah untuk jerih payahnya di sawah, sang gadis sudah menunggu di rumah. Begitu ibunya tiba di rumah, ia langsung meminta dibelikan baju atau alat kecantikan.  Kadang-kadang seluruh uang hasil kerjanya ibunya habis sehingga tidak ada uang lagi untuk membeli makanan atau keperluan lain.

Pada suatu hari, sang ibu pulang dari sawah. Ia merasa heran mengapa puterinya tidak meminta uang. Si ibu berharap anaknya sudah mulai sadar dan merasa iba pada ibunya.

Ternyata tidak demikian. “Bu, besok ibu pergi ke pasar ya bu,” kata gadis itu.

“Ibu besok bekerja di sawah, nak,” jawab ibunya. “Sudah musim tanam, ibu harus bekerja tiap hari.”
“Sehari saja ibu tidak ke sawah kan tidak apa-apa, bu,”  kata gadis itu lagi. “Ibu pergi ke pasar saja, belikan aku bedak yang baru datang di kota. Semua temanku sudah membelinya.”

“Kau ajaklah temanmu ke pasar, nak. Ibu tidak tahu bedak seperti apa yang kau inginkan.” Ibu itu tahu, bila ia salah membelikan bedak, anak gadisnya akan marah dan membuang bedak itu. Dan ia akan meminta ibunya membeli bedak yang diinginkannya.

“Aku tidak mau pergi bersama temanku,” kata gadis itu sambil cemberut. “Nanti mereka tahu bahwa uangku hanya sedikit,”

“Kalau begitu besok kau ikut ibu ke kota.”

Gadis itu tidak mau ikut ke pasar di kota tapi ibu memaksanya. Karena ingin membeli bedak itu, akhirnya ia mau juga pergi dengan ibunya.

Esok harinya, mereka berdua berangkat ke kota. Sang gadis memakai bajunya yang paling bagus, sedangkan ibunya memakai baju yang sudah tua.

Perjalanan ke kota cukup jauh. Hari makin siang dan matahari makin terik. Si gadis berpayung agar terlindung dari panas matahari. Ibunya dibiarkannya kepanasan.

Mereka berpapasan dengan seorang pemuda. “Nona,” kata pemuda itu, “mengapa kau memakai payung sendiri saja? Lihat ibumu kepanasan.”

“Oh, tidak apa-apa,” kata gadis itu sambil mempercepat langkahnya sehingga ibunya tertinggal di belakang.

Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan orang dari desa tetangga mereka. Orang itu mengenal gadis itu tapi tidak pernah bertemu dengan ibunya. Ia menyapa, “Berjalanlah perlahan sedikit, nona. Ibumu tertinggal.”

“Kau kira ia ibuku?” gadis itu tertawa. “Bukan, ia bukan ibuku.”

“Kukira kalian pergi bersama-sama.”

“Dia memang bersama-sama, tapi dia bukan ibuku.”

“Bukan ya?” kata orang itu lagi. “Wajah kalian mirip.”

“Masa kami mirip?” kata gadis itu, ia mulai kesal. “Dia kan pembantuku.”

Gadis itu makin  mempercepat langkahnya sampai setengah berlari. Setelah orang tadi tidak terlihat lagi, ia berteriak pada ibunya. “Ayo bu, cepatlah sedikit. Aku ingin segera ke pasar lalu pulang. Ibu membuatku malu saja!”

Ibu terkejut dan sedih sekali mendengar kata-kata anaknya. Ia berhenti berjalan dan hanya berdiri diam. Dalam hati ia memohon kepada Tuhan agar menghukum anaknya yang durhaka.

Gadis itu tiba-tiba sadar bahwa ibunya tidak mengikutinya. Ia sangat marah. Ia berkata, “Sudah ibu pulang saja. Berikan uangnya, aku sendiri saja ke pasar.”

Ia ingin menghampiri ibunya dan meminta semua uangnya. Tapi ia tidak dapat mengangkat kakinya. Kedua kakinya kaku dan tidak dapat bergerak. Bahkan kakinya mulai menghitam. Ia menyentuh kakinya yang sudah berubah menjadi batu.
“Ibu!” jeritnya ketakutan. “Kenapa kakiku,bu? Kakiku jadi batu!”

Sekarang ia tahu bahwa ia mendapat hukuman karena durhaka kepada ibunya. “Ibu, tolong! Ampuni aku.”

“Aku akan menjadi anak baik, bu... Ampuni aku.”

Sang ibu sangat menyesal. Tapi tidak ada yang dapat dilakukannya. Perlahan-lahan seluruh tubuh gadis itu berubah menjadi batu. Ia menangis. Bahkan ketika tubuhnya sudah membatu seluruhnya, ia masih menitikkan air mata.

Kisah ini masyarakat setempat dianggap benar-benar terjadi. Batu yang dipercaya merupakn penjelmaan gadis cantik yang durhaka kepada ibunya itu masih ada sampai sekarang dan disebut Batu Menangis.



Legenda Situ Bagendit



Dahulu kala, hidup seorang janda yang sangat kaya bernama Nyi Endit. Ia hidup sendiri karena suaminya sudah meninggal dan ia tidak memiliki anak.

Walaupun sudah memiliki harta yang sangat banyak, Nyi Endit masih ingin menjadi lebih kaya lagi. Ia membeli hasil bumi dari petani-petani di desanya dengan harga sangat murah. Pada masa-masa panen tidak berhasil dengan baik, para petani terpaksa membeli beras dari Nyi Endit. Nyi Endit memasang harga yang jauh lebih tinggi dari harga belinya.

Nyi Endit juga sangat pelit, ia tidak pernah mau memberi sedekah. Pada suatu hari, seorang pengemis datang ke rumah Nyi Endit. Pengemis itu sudah tua sekali, badannya kurus dan lemah. Ia berjalan dengan menggunakan tongkat.
Kakek itu meminta sedekah kepada Nyi Endit. Ia belum makan dan belum mendapat uang. Nyi Endit tidak memberikan uang atau makanan, justeru menyuruh kakek itu pergi dari halaman rumahnya.

Keesokan harinya, kakek itu datang lagi. Ia minta sedekah  dan Nyi Endit mengusirnya lagi. Kakek itu memohon, memperingatkan Nyi Endit agar mau menolong sesama yang membutuhkan. Tapi Nyi Endit tetap menyuruhnya pergi.

Pada hari ketiga, kakek pengemis datang lagi. Sebelum ia mengatakan apa-apa, Nyi Endit sudah mengusirnya. Kakek itu sama sekali tidak menjawab. Ia menancapkan tongkat yang dibawanya di halaman rumah Nyi Endit  dan pergi begitu saja.

Nyi Endit tidak suka melihat tongkat yang menancap di halamannya. Ia berusaha mencabutnya, tapi tidak berhasil. Ia menyuruh para pelayannya mencabut tongkat itu, tidak ada yang bisa melakukannya. Akhirnya warga desa berdatangan. Semua orang mencoba mencabut tongkat itu, tapi tongkat itu tetap menancap kokoh di tanah.

Tiba-tiba kakek pengemis muncul lagi. Ia mencabut tongkat itu dengan mudah sekali. Lalu ia pergi entah ke mana. Dari lubang bekas menancapnya tongkat memancar air, makin lama makin banyak. Desa itu tergenang. Semua warga desa segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.

Nyi Endit tidak mau kehilangan hartanya. Ia juga tidak mau minta bantuan orang lain karena takut hartanya hilang. Makin lama air makin tinggi, seluruh desa tenggelam, termasuk Nyi Endit dan seluruh hartanya.

Tempat itu menjadi genangan air yang luas membentuk danau.Danau itu sekarang menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi orang. Lataknya di dekat kota Garut, Jawa Barat. Orang-orang menyebutnya Situ Bagendit. Situ artinya danau dan nama Bagendit diambil dari nama Nyi Endit.