Tampilkan postingan dengan label Pancatantra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pancatantra. Tampilkan semua postingan

Gagak Tua yang Cerdik


Dahulu kala, berdiri sebatang pohon beringin di tepi sebuah kota kecil. Ribuan burung gagak tinggal di pohon itu. Di dekat puhon beringin itu ada sebuah gua di mana tinggal ribuan gurung hantu.

Raja burung hantu ditemani pengawal-pengawalnya berburu burung gagak di malam hari. Dalam waktu singkat ribuan gagak tewas. Alasannya karena gagak tidak dapat dengan jelas di malam hari sehingga tidak dapat menghindar dari serangan burung hantu. Sedangkan penglihatan burung hantu pada malam hari lebh baik dari pada siang hari.

Raja gagak sangat berduka karena banyak rakyatnya yang tewas.  Ia memanggil rakyatnya untuk membicarakan cara menghentikan masalah itu.

Setelah pembicaraan yang panjang. Para gagak setuju untuk melakukan sebuah sandiwara agak jauh dari gua burung hantu. Pada hari berikutnya, seekor gagak  tua ditemukan dalam keadaan luka parah oleh pwngawal raja burung hantu. Para burung hantu tidak tahu bahwa gagak itu hanya pura-pura. Burung gagak itu mengatakan bahwa ia  disiksa oleh teman-temannya para gagak karena ia mengatakan  bahwa para burung hantu lebih cerdas, dan kuat, mereka layak menjadi raja bangsa burung.

“Kita harus membantu gagak itu sampai ia senbuh dari luka-lukanya,” kata raja burung hantu. “setelah itu kita dapa memanfaatkan gagak tua itu untuk menghancurkan bangsa gagak.”

Gagak tua itu segera menemukan tempat di kerajaan burung hantu. Banyak menteri burung hantu menjadi temannya, hanya satu atau dua menteri burung hantu yang tidak suka padanya karena menganggapnya tetap dari bangsa musuh. 

Gagak tua itu tetap tinggal di gua burung hantu walaupun ditentang oleh bebrapa menteri burung hantu.

Pada suatu siang ketika para burung hantu tidak dapat melihat dengan jelas, gagak tua itu menumpuk balok-balok kayu di mulut gua dan menyalakan api.  Api menyala hebat dan semua burung hantu terbakar.


Burung Gereja dan Gajah


Dahulu kala, hiduplah sepasang burung gereja di sebuah pohon beringin. Mereka membangun sarang di pohon itu dan so betina bertelur. Pada suatu siang yang panas, seekor gajah liar berteduh di bawah pohon beringin itu. Merasa marah karena kepanasan, gajah itu mematahkan sebatang dahan pohon beringin di mana pasangan burung gereja itu bersarang. Burung malangh itu selamat, tapi mereka tidak dapat menyelamatkan telur-telur mereka. Semua jatuh dan pecah. Burung gereja betina sangat sedih dan berduka.

Seekor burung pelatuk, sahabat burung gereja betina sangat prihatin mendengar kejadian itu. “Ada seekor lalat,” kata pelatuk, “ia dapat membantumu membalaskan perbuatan gajah itu.”

Burung gereja dan pelatuk pergi menemui sang lalat. “Ini sahabatku,” kata pelatuk kepada lalat. “seekor gajah memecahkan telur-telurnya. Kami membutuhkan bantuanmu. Bantu kami membalas perbuatan gajah itu.”

“Ayo kita pergi menemui katak, sahabatku,” kata lalat. Mereka bertiga pergi menemui katak untuk minta bantuan.

“Lakukan apa yang kukatakan kepadamu,” kata katak. “Lalat, pergilah mendekati gajah pada suatu siang yang panas. Mendekatlah pada telinganya dan gumamkan lagu yang indah di telinganya. Ketika gajah tidak menyadari apa yang terjadi, kau pelatuk, patuk kedua matanya.dengan demikian, ia menjadi buta. Ketika ia haus, ia akan mencari sumber air. Aku akan menunggunya di rawa-rawa dan berkoak. Ketika ia mendengar suaraku, ia mengira telah tiba di sumber air. Ia akan masuk ke rawa dan tenggelam di sana.

Esok siangnya, matahari bersinar terik. Lalat, burung pelatuk dan katak menjalankan rencana mereka. Karena buta, gajah itu masuk ke rawa dan tenggelam

Pendeta dan Tikus

Seorang pendeta merawat sebuah kuil di sebuah desa kecil. Ia hidup dari sedekah dan membagikannya kepada beberapa orang yang membantu membersihkan kuil.

Ada seekor tikus di kuil itu yang sering mencuri makanan sang pendeta. Tikus itu benar-benar menjadi masalah bagi sang pendeta. Sudah berbagai cara dilakukan pendeta untuk mengusir tikus dari kuil, tapi tidak berhasil. Pendeta bahkan menyimpan makanan dalam sebuah wadah dari tanah liat yang digantung di langit-langit. Tikus itu tetap bisa mencurinya. 

Kesal dan putus asa, sang pendeta meminta saran dari temannya, yang menasihatinya untuk mencari persediaan makanan si tikus dan menghancurkannnya.
Sang pendeta melakukan pencarian yang cermat di kuil. Akhirnya ia menemukan setumpuk makanan yang disembunyikan tikus. Pendeta segera menghancurkannya. 
Tikus kehilangan persediaan makanannya. Sang pendeta telah menyembunyikan semua makanan  di dalam wadah tanah liat yang digantung di langit-angit. Tikus tidak menemukan makanan. Ia kelaparan. Ia tidak mampu melompat atau memanjat untuk mencapai wadah makanan di langit-langit.
Pada suatu hari, sang pendeta menemukan tikus yang sudah lemas. Pendeta  dengan mudah menangkapnya  dan membuangnya jauh dari kuil. Tikus terluka dan tidak pernah kembali ke kuil itu.