Dapatkah Kamu Menemukan Panda?

Temukan panda pada gambar ini




Origami Penguin




Sumber:origamiwithrachelkatz.com

Permainan Cari Kata - Nama Bunga

Carilah nama-nama bunga ini di dalam kotak
Nama bunga dapat tertulis mandatar, menurun atau diagonal

Yuk lihat jawabannya

Amankan Rumah Anda Sebelum Bayi Mulai Merangkak


Ketika bayi mulai merangkak, rumah mungkin menjadi tempat yang kurang aman. Lakukan langkah-langkah pengamanan rumah jauh sebelumnya, bahkan disarankan memulainya sebelum bayi lahir. Orang tua sering mengabaikan pentingnya mengamankan rumah sampai waktunya bayi mulai berdiri dan merangkak dan mereka menjadi panik karena begitu banyaknya yang harus dilakukan.
Ambil posisi merangkak dan pandanglah dunia sekitar dari sudut pandang bayi dan pastikan Anda tidak melewatkan sesuatu. Dalam dua tahun ke depan Anda akan mengamati si kecil merangkak, berjalan dan berlari.

Berikut ini beberapa tips mengamankan rumah Anda untuk bayi:

Colokan dan kabel listrik
Segala sesuatu menarik bagi bayi termasuk colokan listrik di dinding. Bayi mungkin ingin memasukkan sesuatu ke lubangnya, termasuk jari-jarinya yang kecil. Tutuplah colokan dengan penutup dari plastik. Atau tutup rapat colokan yang jarang dipakai dengan plakban.  Anda juga dapat mengganti colokan dengan yang berpenutup. Atau tempatkan furnitur di depan colokan.
Jauhkan kabel listrik dari bayi. Tempelkan kabel rapat di dinding sehingga bayi tidak dapat menarik atau mengunyahnya. 


Amankan diri Anda
Anda mungkin perlu mengubah kebiasaan Anda begitu bayi dapat meraih dan bergerak, dimana semua benda di sekitarnya ingin diraihnya. Letakkan gelas air minum, piring, sendok garpu dll jauh dari tepi meja dan dari pangkuan Anda.
Lepas anting-anting panjang Anda dan ganti dengan giwang. Lupakan kalung Anda dan simpan sementara bayi ada pada fase ini. Ganti kacamata Anda dengan lensa kontak.

Pagari tangga
Pasang pagar pengaman pada puncak tangga sebagai langkah minimum. Sebuah pagar di dasar tangga dapat mencegah pendaki kecil Anda memanjat dan jatuh berguling-guling. Pagar juga dapat dipasang dimana-mana untuk mencagah bayi masuk ke ruangan atau area tertentu seperti dapur, kamar mandi, halaman rumah dll.


Singkirkan tanaman dari dalam rumah
Tanaman hias bisa jadi beracun bila dimakan. Pindahkan tanaman hias Anda ke luar rumah atau ke rak-rak yang tinggi. Pindahkan tanaman yang berukuran besar walaupun tidak berbahaya, ke ruangan yang tidak dapat dicapai bayi. Bisa jadi bayi ingin memanjat tanaman atau memasukkan tanah ke mulut.

Jaga kebersihan lantai
Dengan bayi yang menjelajah seluruh lantai, penting menjaga lantai tetap bersih dan bebas bahaya. Semua benda kecil harus disingkirkan agarbayi tidak memasukkannya ke mulut. Gunakan gulungan bekas tisu sebagai panduan.  Bila suatu benda dapat masuk ke dalam gulungan tisu, jauhkan dari bayi. Buat aturan: lepas alas kaki ketika masuk ke rumah. yang dapat membantu residu pupuk dan kuman masuk ke rumah. Selalua sapu, pel dan gunakan vacuum cleaner dengan teratur

Furnitur yang Kukuh
Bayi Anda akan segera menggunakan furnitur alat bantu berjalan. Pastikan furnitur yang berat berdiri stabil dan tidak akan jatuh menimpa bayi. Gunakan penahan furnitur untuk menjaga agar rak buku, lemari dan meja yang menempel ke dinding tidak jatuh. Gunakan pelindung sudut pada meja, rak TV, kusen jendela dan benda lain yang sudutnya tajam.
Dan apakah Anda benar-benar memerlukan taplak meja? Bayi dapat meraih taplak meja dan menariknya hingga lepas dan melemparkan semua benda di atasnya dan dapat membahayakan bayi.


Simpan zat berbahaya di tempat terkunci
Simpan semua benda yang berbahaya misalnya bahan rumah tangga seperti pembersih, cat, sabun cuci, juga obat-obatan, vitamin, alkohol harus diletakkan di tmpat yang tidak terjangkau oleh bayi dan disimpan dalam lemari yang tinggi dan terkunci.

Pasang kunci lemari
Bayi akan segera menunjukkan kepintarannya membuka laci dan lemari, dan mengeluarkan isinya. Kunci lemari dan laci agar si kecil tidak dapat membukanya dan mengambil benda di dalamnya. Laci yang ditarik terlalu jauh dapat jatuh dan menimpa bayi. Bila Anda tidak dapat memasang kunci pada laci, Anda dapat mengganjalnya sehingga bayi tidak dapat membukanya. 
Pertimbangkan menyediakan lemari kecil khusus untuknya, isi dengan wadah-wadah plastik, sendok kayu dll. Letakkan di sudut dapur yang jauh dari kompor. Si kecil pun dapat memuaskan diri membongkar lemarinya sendiri.



Singkirkan mainan kecil
Mainan saudaranya yang lebih besar bisa jadi menimbulkan bahaya tersedak bagi bayi. Semua benda yang dapat masuk ke gulungan tisu dapat tak sengaja ditelan oleh bayi, maka simpanlah benda-benda kecil dalam ruangan yang tidak dapat dimasuki bayi. Ajarkan kakak-kakak si bayi tentang bahaya meninggalkan benda kecil di area yang dapat dicapai bayi.

Jauhkan tali dari bayi
Tali di rumah dapat menimbulkan bahaya bagi bayi karena dapat membelit bayi dan mencekiknya. Singkirkan gantungan-gantungan dari box bayi ketika bayi mulai duduk. Kabel listrik harus di tutup dan dijauhkan dari jangkauan bayi karena bayi mungkin menariknya dan mengunyahnya. Tali gorden harus dibungkus dan ditempel rapat ke dinding.

Selalu Awasi Bayi Anda

Tidak ada langkah pengamanan yang dapat menggantikan pengawasan pada bayi terus menerus. Anda perlu selalu tahu di mana bayi Anda berada setiap saat. Bila Anda perlu beberapa saat untuk meninggalkan bayi Anda, misalnya menyelesaikan sesuatu atau menerima telepon, letakkan bayi di tempat yang Anda tahu aman, misalnya dalam box.


Berikan Edukasi Sedini Mungkin

Orang tua sering melakukan kesalahan karena berpikir bahwa bayi terlalu muda untuk memahami kata “tidak” atau “jangan” sehingga tidak mau repot-repot mengatakan tentang  situasi yang berpotensi berbahaya. Anda perlu menetapkan disiplin pada bayi Anda. Gunakan kalimat seperti “Bahaya”, “Jangan sentuh” atau bahkan, “Itu milik Bunda” ketika mengalihkan anak dari sesuatu yang berbahaya. Meskipun anak Anda masih terlalu kecil untuk memahami artinya sekarang, lambat laun ia akan mengerti.

Sumber:

Yuk Menggambar Unta!



Sumber: http://pictureofposters.weebly.com/

Apakah Aku?

Warnaku putih
Aku digunakan untk memotong dan menggiling
Bila aku rusak, manusia membuangku atau menutup bagian tubuhku yang rusak
Aku juga sangat berguna bagi sebagian besar hewan.
Apakah aku?

Jawabannya di sini


Kisah Putera Petani dan Penyihir


Kian bekerja keras untuk menghidupi dirinya bersama ibunya yang janda dan sudah tua. Ia mengolah tanah pertanian warisan ayahnya.  Ia bekerja dari matahari terbit hingga terbenam, mengurus ternak dan menanam biji-bijian dan rumput untuk makanan mereka.
Pada suatu hari, Kian mengatakan kepada ibunya bahwa ia telah bertemu dengan seeorang gadis yang ingin dinikahinya. Mereka bertemu di kota ketika Kian pergi ke sana untuk menjual ternaknya. Kian meminta ibunya untuk menemui orang tua gadis pujaannya dan melamar.
Sang ibu bahagia mendengar puteranya sudah berniat untuk berumah tangga. Ia menanyakan nama gadis itu. Betapa terkejutnya sang ibu mendengar bahwa Kian ingin melamar sang puteri, anak satu-satunya dari raja. Ibu Kian berusaha membujuk Kian untuk mengurungkan niatnya menikahi puteri, karena raja tidak akan menerima lamarannya. Tapi Kian tetap pada pendiriannya. Janda tua itu akhirnya memberanikan diri pergi ke istana untuk menemui raja.
Ibu itu memohon untuk menemui raja. Raja menerimanya dengan baik, dengan sabar mendengarkan alasan sang ibu datang kepadanya. Para pejabat dan pengawal yang hadir di sana terkejut mendengar ibu tua itu melamar puteri raja satu-satunya untuk puteranya, tapi raja tidak menunjukkan perasaan apa-apa.
Setelah berpikir sejenak, raja menjawab, “Aku mengenal suamimu. Ia jujur dan pekerja keras. Puteramu Kian mengikuti jejak ayahnya dan telah membuktikan diri sebagai anak yang berbakti. Tapi ia masih sangat muda. Ia tidak mempunyai pendidikan dan keahlian. Ia belum pernah melihat ke luar dari dari peternakan kalian.”
“Puteramu boleh menikahi puteriku setelah dapat membuktikan bahwa ia pantas.”
Kian mendengar berita itu dari ibunya dan patah hati. Ia bertekad mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang akan membuat sang raja bangga kepada dirinya.
Esok harinya Kian pergi untuk belajar sebanyak-banyaknya tentang dunia. Ibunya membujuknya untuk tidak pergi tapi sia-sia saja.
Kian berjalan menuruni lembah, melintasi hutan dan naik ke puncak-puncak gunung, melalui kota dan desa dan belajar tentang apa saja yang ditemuinya.
Ia tiba di tepi sebuah sungai dan memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah bayang-bayang pohon kenari.  “O-ah-o!” teriaknya seolah dapat melepaskan penat tubuhnya. “Aku lelah berjalan ke sana ke mari, tapi aku hanya tahu bahwa semua sama saja kemana pun aku pergi.”
Baru Kian menutup mulutnya, seorang laki-laki bertubuh kecil muncul di jalan setapak  menuju pohon kenari. Tubuhnya hanya setinggi lutut Kian tapi jenggotnya begitu panjang hingga menyapu tanah. Ia memakai turban hijau raksasa berbentuk seperti buah kenari. Sandalnya terbuat dari kulit kayu.
“Salam, temanku yang kelelahan, apa yang membawamu kemari? Dan mengapa kau memanggilku?”
“Aku tidak memanggilmu dan aku tidak tahu siapa dirimmu,” kata Kian, terkejut melihat pria yang aneh itu.
“Namaku O-ah-o. Kau jelas-jelas menyebut namaku ketika duduk di bawah pohon ini,” kata pria kecil itu. “Kau datang dari mana?”
“Dari dunia ini, tentu saja.” kata Kian. “Karena tidak ada dunia yang lain.”
“Apa yang kauinginkan?” kata O-ah-o. “Mungkin aku dapat membantumu.”
Kian berpikir beberapa saat, lalu menceritakan kisahnya. Ketika Kian selesai bercerita O-ah-o tertawa keras. “Kalau begitu kau datang ke tempat yang tepat. Aku O-ah-o, penyihir terhebat yang pernah ada dan aku sedang mencari orang yang dapat membantuku. Aku akan menunjukkanmu dunia-dunia yang lain kepadamu, tapi hanya kalau kau mengikutiku ke dalam pohon kenari ini.”
O-ah-o melambaikan tongkatnya ke pohon kenari, sebuah celah terbuka pada pohon itu. Sebuah cahaya terang keluar dari celah itu dan O-ah-o masuk ke dalam celah, sambil memberi tanda agar Kian mengikutinya.
Kian ragu mengikuti orang itu, tapi ia dapat melihat pemandangan indah di dalam pohon itu. Ada senuah rumah kecil dari kulit kenari. Rumah itu bersih dan rapi, berdiri di antara bukit-bukit yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan dan bunga yang aneh. Sebuah sungai kecil mengalir di dekat rumah kecil itu. Seorang gadis cantik berpakaian dari daun-daunan sedang bermain di air. Rasa ingin tahu Kian masuk ke dalam pohon. Celah itu menutup ketika Kian dan O-ah-o sudah masuk ke dalam pohon kenari.
Gadis itu menyambut mereka. O-ah-o berkata, “Ini Pari, puteriku.” Pari mengajak Kian mengikuti mereka masuk ke rumah. Ia membatu ayahnya melepas turban dan sandalnya. Kemudian ia menyiapkan makanan untuk mereka.
O-ah-o pergi untuk membersihkan diri. Pari bertanya kepada Kian, “Mengapa kau mengikuti ayahku kemari?” Ketika Kian menceritakan petualangannya dan keinginannya untuk menjadi pembantu O-ah-o, Pari menjadi ketakutan.
“Kau dalam bahaya,” kata Pari. “Ayahku memang penyihir hebat tapi sihirnya membuatnya menjadi jahat. Ayahku telah mengajari banyak orang. Tapi ketika mereka sudah belajar dari ayahku, ayah membuat mereka tidur dan menaruh mereka dalam botol kaca di ruangan bawah tanah. Ia berencana, ketika ia sudah terlalu tua dan lelah untuk bekerja, ia akan menghidupkan mereka lagi dan memaksa mereka bekerja untuknya.”
Kian sangat ketakutan mendengar itu. Ia meminta Pari membantunya melarikan diri. Pari menjelaskan, hanya ayahnya yang dapat membuka celah di pohon kenari itu. Tapi ia punya rencana yang mungkin dapat menyelamatkan Kian. “Ayahku akan mengajarkan berbagai mantera sihir kepadamu. Berpura-puralah kamu tidak dapat mempelajari semuanya. Bila kau pura-pura bodoh dan tidak dapat mempelajari apa-apa, mungkin ia akan kesal dan melepaskanmu.
Kian mematuhi saran anak gadis O-ah-o. Selama beberapa bulan selanjutnya Kian pura-pura tidak mampu mempelajari senua ajaran penyihir itu. O-ah-o mengajarinya berubah menjadi berbagai jenis hewan, membaca pikiran orang lain, meramal masa depan... tapi tak satupun yang tampaknya  dapat dipelajari Kian. Makin keras O-ah-o mengajarinya, Kian tampak makin bodoh.
Beberapa bulan berlalu, Kian tidak dapat melakukan sihir apapun yang diajarkannya, O-ah-o akhirnya menyerah. Kian tidak ada gunanya bagi dirinya. Lebih baik ia mengusir pemuda yang bodoh itu.
“Nak, kamu sudah lama meninggalkan rumah,” kata sang penyihir. “Ibumu pasti khawatir. Mungkin lebih baik bila kau pulang dan melihat keadaan ibumu>”
Kian yang telah lama menunggu kesempatan untuk meninggalkan tempat itu, segera menyetujuinya. O-ah-o membuka celah di pohon. Kian mengucapkan selamat tinggal dan melangkah keluar.  O-ah-o berteriak, “Selamat jalan! Berbulan-bulan lamanya kau hanya menghabiskan masakan puteriku. Tak sedikitpun ajaranku dapat kauserap. Pergi dan jangan pernah kembali kemari!” Celah di pohon itu menutup kembali dengan suara berdegam.
Kian bergegas pulang ke rumahnya. Hatinya sedih melihat ibunya makin tua. Peternakannya pun tidak terurus. Hewan ternak pun sudah tidak ada lagi. “Aku senang kau pulang, nak, kata ibunya. “Tapi setelah perjalanan panjangmu mencari ilmu, ibu tidak punya makanan untukmu.”
Kian merasa bersalah telah meninggalkan ibunya. Ibunya menjadi miskin setelah ia pergi. Tapi ia tersenyum. “Jangan khawatir, bu. Aku punya rencana. Besok pagi, pergilah ke kandang. Di sana ada seekor kambing yang bagus dan sehat. Bawalah ke pasar. Juallah kambing itu seharga sepuluh keping emas, tapi jangan sampai kurang dari harga itu. Jangan lupa, lepaskan tali pengikatnya sebelum menyerahkannya kepada pembelinya dan bawalah tali  itu pulang.“
Walaupun tidak melihat puteranya pulang membawa kambing, si ibu setuju. Esok harinya, si ibu melihat kambing yang gagah di kandang yang kemarin kosong. Bulu kambing itu panjang, berkilau dan lembut. Matanya bersinar dan tanduknya besar dan kuat.
Si ibu pergi ke pasar membawa kambing itu. Banyak orang tertarik membeli kambing itu. Tapi ketika mendengar harganya, orang-orang urung membelinya.
Hari sudah hampir sore. Kambing itu belum terjual. Seorang tuan tanah kaya melihatnya dan mau membelinya sesuai harga yang diminta si ibu. Teman-temannya menasihatinya, harga kambing itu terlalu tinggi, tapi tuan tanah mengatakan bahwa ia belum pernah melihat kambing sebagus itu. Kambing itu akan menghasilkan keturunan yang baik, yang dapat dijual dengan harga tinggi pula.
Tuan tanah membayar sepuluh keping perak kepada si ibu. Ketika si ibu melepaskan tali pengikat kambing, tuan tanah terpaksa mencari tali yang lain, karena ibu tua itu bersikeras akan membawa pulang talinya. Ia kemudian berjalan pulang bersama teman-temannya sambil menuntun kambingnya.
Ketika tuan tanah sampai di tepi kota, kambing itu menyentakkan tali pengikatnya hingga lepas dan lari. Tuan tanah dibantu teman-temannya mengejarnya, tapi kambing itu menyusup ke semak berduri sehingga tidak dapat ditangkap. Kambing itu tiba-tiba berubah menjadi seekor tikus dan kembali ke pasar dan mencari si ibu yang tengah membeli bahan makanan dan kebutuhan lain. Tikus itu menyelinap ke barang-barang belanjaan ibu tua itu.
Setiba di rumah, si ibu meninggalkan belanjaannya, tidak sadar bahwa ia membawa pulang si tikus. Ketika si ibu tidak memperhatikan, tikus itu berubah menjadi seorang pemuda. Rupanya Kian berhasil mengubah dirinya menjadi kambing dan kemudian menjadi tikus berkat ajaran si penyihir.
Ibu tua itu dengan senang dan bangga menunjukkan bahan makanan yang dibelinya dari hasil penjualan kambing, tanpa menyadari bahwa kambing itu sebenarnya adalah puteranya sendiri.
Malam itu mereka makan sampai kenyang. Sebelum mereka pergi tidur, Kian meminta ibunya untuk pergi ke kandang anjing besok pagi.   Di sana akan ada seekor anjing. Kian meminta ibunya membawa anjing itu ke pasar seharga empat puluh keping perak, tidak kurang. Kian mengingatkan ibunya untuk membawa pulang kalung anjing itu.
Esok paginya, ibu tua pergi ke kandang anjing. Seperti katanya puteranya, di sana ada seekor anjing pemburu bertubuh besar. Punggungnya kuat dan kaki-kakinya panjang. Anjing itu ramah dan menurut saja ketika si ibu mengikatkan seutas tali pada kalungnya dan menuntunnya ke pasar. Orang-orang tertarik melihat anjing yang bagus itu. Mereka berusaha menawar agar si ibu mau menjual anjingnya lebih murah dari empat puluh keping perak, tapi si ibu tidak mau menurunkan harganya.
Akhirnya, seorang bangsawan mau membeli anjing itu sesuai harga yang diminya pemiliknya. Si ibu melepaskan tali pengikat dan si pembeli memasang tali lain agar anjing tidak melarikan diri.
Bangsawan itu membawa pulang anjingnya dengan bangga. Ketika mereka sudah jauh dari pasar, seekor kelinci melintas. Anjing itu menarik tali pengikatnya dan lari. Begitu terikan sang anjing sehingga sang bangsawan terjatuh. Dalam sekejap anjing itu tidak terlihat lagi.
Ketika tidak ada orang di sekitarnya, anjing berubah menjadi tikus dan menyelinap di antara barang belanjaan ibu tua dan kembali ke rumah.
Malam itu, Kian dan ibunya makan sampai kenyang dan tidur nyenyak. Mereka sudah mendapat cukup banyak uang sampai musim tanam tiba, tapi Kian ingin mendapatkan lebih banyak uang agar ibunya dapat hidup seperti bangsawan dan tidak perlu bekerja lagi.
Ketika akan pergi tidur, Kian meminta ibunya ke kandang kuda esok paginya. Kian minta ibunya menjual seekor kuda di pasar dengan harga seratus keping emas, tidak kurang. Tapi si ibu harus menjual kuda itu dengan harga tertingi.
“Ingat ya bu, jangan berikan tali pengikat kuda walaupun ada orang yang  mau menukarnya dengan sebuah kerajaan,” kata Kian.
Esok paginya, si ibu pergi ke kandang kuda dan menemukan seekor kuda jantan dengan kaki yang panjang berotot, leher yang indah dan bulu mengkilat.
“Kuda ini bagus sekali, tapi aku ragu ada orang mau membelinya seharga seratus keping emas,” kata si ibu dalam hati, tapi sesuai pesan Kian, si ibu hanya mau menjualnya dengan harga itu.
Hari itu seorang pangeran lewat di pasar dan melihat kuda istimewa itu. Ia ingin  memiliki kuda itu dan mau membayarnya sesuai harga yang diminta si ibu. Tapi sebelum pangeran dapat memberikan uangnya, muncul seorang pedagang kaya yang mau membeli kuda itu seharga lima ratus keping emas. Si ibu terkejut dengan  penawaran baru itu. Akhirnya si ibu menjual kuda itu dengan harga lima ratus keping emas kepada pedagang.
Pedagang itu melemparkan sekantung uang emas kepada si ibu. Kantung itu terlepas dari tangan si ibu. Kantung uang itu robek dan uang emas berhamburan ke tanah. Ibu tua itu sibuk mengumpulkan uangnya sehingga lupa pesan anaknya untuk mengambil tali pengikat kuda.
Pedagang melompat ke punggung kuda dan segera pergi. Ketika ibu tua itu selesai mengumpulkan uangnya, pedagang dan kudanya sudah lama pergi. Ibu itu teringat pesan anaknya, tapi ia kemudian berpikir, “Tidak apa-apa, apa artinya sepotong tali tua dibandingkan uang ini,” Ia lalu berjalan pulang membawa uangnya.
Ibu itu tidak tahu bahwa Kian puteranya terikat tali itu dan tetap berwujud kuda.
Ketika tiba di rumah, ibunya terkejut karena Kian tidak ada di rumah. Ia lebih terkejut lagi ketika membuka kantung uangnya. Semua uang emas itu telah berubah menjadi  kenari!
Sementara itu, ketika sudah keluar dari kota, kuda itu meringkik dan tiba-tiba mengangkat kaki depannya tinggi-tinggi, berusaha melemparkan penunggangnya. Tapi penunggang itu memegang tali pengikat kuda kuat-kuat dan menekankan tumitnya pada rusuk kuda dengan kasar. “Kau tidak perlu melemparkan aku,” bisiknya di telinga kuda.”
“Ini aku. O-ah-o,” lanjutnya. “Ketika mendengar seseorang menjual hewan di pasar dengan harga yang sangat tinggi, aku sudah curiga. Aku langsung mengenalimu walaupun kau berbentuk seekor kuda. Sekarang aku akan membawamu ke rumahku untuk mendapatkan pelajaran karena menipu aku!”
O-ah-o membawa kuda itu ke dalam pohon kenari dan mengikatnya di dekat rumahnya.
“Ini akibat ketamakanku karena menipu tiga orang di pasar,” kata Kian dalam hati. Ia sangat menyesal. “Sekarang aku akan dipaksa bekerja di ladang seperti layaknya hewan biasa. Dan aku tidak akan dapat berubah menjadi manusia kembali. Sihirku telah membuatku menjadi jahat seperti O-ah-o.”
O-ah-o memperingatkan Pari puterinya, “Hati-hati pada kuda ini, karena ia adalah Kian,  si penipu!” O-ah-o kemudian berkata kepada Pari, “Aku akan pergi mencari bajak agar Kian dapat segera bekerja di ladangku seperti layaknya seekor kuda. Jagalah jangan sampai ia terlepas.”
Pari sangat sedih melihat keadaan Kian. Ia membawakan makanan dan air untuk kuda itu sementara ayahnya belum kembali.
Pari melepaskan tali yang mengikat Kian untuk menyikat bulunya. Begitu tali terlepas, Kian mengucapkan matera dan berubah menjadi burung walet dan terbang ke pohon kenari. Ia mengucapkan mantera yang digunakan O-ah-o untuk membuka celah pada pohon itu. Burung walet terbang melalui celah itu.
Ketika O-ah-o tiba di depan pohon kenari, ia melihat burung walet terbang keluar melalui celah yang terbuka. Ia mengubah dirinya menjadi rajawali dan mengejar burung walet.
Walet kecil itu mengepakkan sayapnya sekuat tenaga, tapi rajawali sudah hampir menangkapnya. Kian melihat ke bawah. Ia berada di atas taman mawar sang raja. Ia melihat raja dan puterinya sedang beristirahat di sana. Kian memutuskan untuk bersembunyi di taman itu. Ia berubah menjadi bunga mawar dan bersembunyi di rumpun mawar yang ada di dekat sang puteri.
O-ah-o mengubah dirinya menjadi seorang pendeta tua. ia pergi ke gerbang taman dan mohon bertemu dengan raja. Raja mendengar ada pendeta tua di gerbang tamannya. Ia menyuruh pengawal untuk memberikan uang kepada pendeta itu.
“Hamba tidak ingin uang, Yang Mulia,” teriak O-ah-o dari balik gerbang. “Ijinkan hamba memetik bunga mawar yang berada tepat di atas kepala tuan puteri. Aku akan mendoakan kesehatan untuk tuan puteri.”
Raja yang baik hati itu mengabulkan permintaan sang pendeta. Tapi ketika tangan pendeta hampir menyentuh mawar, bunga itu berubah menjadi batu jamrud besar yang jatuh ke mahkota puteri. Raja terkejut melihat permata itu jatuh di mahkota puterinya.
Pendeta itu hendak mengambil batu jamrud itu, tapi permata itu berubah menjadi sebuah delima. Delima itu jatuh ke tanah dan merekah. Biji-bijinya yang berwarna merah berhamburan di sekeliling sandal emas sang puteri. Raja dan puterinya terpana ketika pendeta berubah menjadi ayam jantan yang dengan rakus mematuki biji delima. Dengan cepat ayam jantan memakan habis biji-biji delima. Ketika hanya tersisa sebutir, biji delima terakhir itu berubah menjadi seekor rubah, yang menerkam ayam jantan dan memakannya. Berakhirlah riwayat sang penyihir yang jahat.
Para pengawal raja yang menyaksikan semua keributan itu memasang anak panah di busur mereka untuk membunuh rubah. Kian harus melindungi dirinya agar tidak terkena anak panah, maka ia segera berubah menjadi wujud aslinya dan memohon perlindungan kepada raja, “Maafkan kelancangan hamba, Yang Mulia.Tapi tidak ada tempat lain untuk berlindung.” Kian mengisahkan  pengalamannya sejak bertemu dengan O-ah-o. Kian berjanji mengembalikan uang pemburu dan tuan tanah yang ditipunya di pasar.

Raja sangat terkesan dengan pengalaman dan kejujuran Kian. Ia setuju untuk menikahkan Kian dengan puterinya. Raja kagum dengan kemampuan sihir Kian dan mengangkatnya menjadi penyihir kerajaan dan menghadiahkan sejumlah uang untuk Kian dan ibunya yang cukup untuk hidup lebih dari berkecukupan sepanjang hidup mereka.