Bila Anak Memiliki Teman Khayalan

Dari komik Calvin and Hobbes, Hobbes si boneka macan
Hobbes, teman khayalan Calvin

Diandra, sekarang empat setengah tahun, memiliki seorang teman yang disebutnya Wan. Wan memiliki teman lain yang bernama Wawa. Selain mereka, ada yang bernama Idin yang berteman dengan Uka. Wan, Wawa dan Diandra tidak berteman dengan Idin dan Uka. Diandra bilang Wan itu perempuan, kurus dan tingginya seperti orang dewasa.


Pada suatu hari, Diandra berkunjung ke rumah tantenya. Setelah Diandra pulang baru ketahuan bahwa kunci rumah sang tante tidak ada di mana-mana. Terpaksa kunci rumah diganti demi alasan keamanan. Esok harinya, ketika sang tante menyapu garasi, ia menemukan kunci yang hilang itu duduk rapi di bawah keset. Karena penasaran tante bertanya kepada Diandra, siapa yang meletakkan kunci di situ? Wan! Padahal, tidak mungkin Wan menyembunyikan kunci, karena sebenarnya Wan itu tidak ada. Wan, Wawa, Idin, Uka, semua adalah imagenary friends (teman khayalan) Diandra.


Pernah keluarga Diandra berpikir, apakah Wan ini adalah sesosok roh halus atau semacamnya, yang hanya dilihat oleh anak kecil yang masih peka? Ternyata bukan. Wan adalah tokoh yang diciptakan oleh Diandra sendiri. Dan Diandra bukan satu-satunya anak yang mempunyai teman khayalan.  Mungkin bahkan Anda sendiri ingat pernah punya teman seperti Wan. Seberapa detil Anda mengingat teman masa kecil Anda Itu? Bentuk fisiknya, mungkin teman-temannya, keluarganya atau tempat tinggalnya? Apa saja yang anda suka lakukan bersamanya? Sungguh mengagumkan bagaimana seorang anak, biasanya balita, menghidupkan tokoh teman dari imajinasinya.

Anak-anak yang memiliki teman khayalan dulu dianggap terjadi karena mereka kesepian dan tidak banyak memiliki teman sungguhan. Mereka biasanya banyak menghabiskan waktu sendirian. Mungkin itu sebabnya orang tua sering khawatir bila anak memiliki teman khayalan terutama bila sang anak sekarang sudah masuk sekolah.

Anak-anak yang lebih besar atau remaja biasanya merahasiakan bahwa mereka memiliki teman khayalan. Masalah teman khayalan sering salah dimengerti. Penelitian tentang hal ini tidak banyak dilakukan, sehingga hanya ada sedikit informasi mengenai berapa banyak anak-anak yang memiliki teman khayalan, seperti apa teman khayalan itu dan mengapa anak memilikinya.

Penelitian baru-baru ini memberikan  jawaban yang mencengangkan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sekarang terbukti bahwa teman khayalan adalah bagian yang umum terjadi dalam perkembangan pada masa anak-anak. Di Amerika Serikat pada tahun 2004 anak-anak usia pra sekolah dan orang tua mereka mengikuti sebuah penelitian yang meneliti aspek-aspek perkembangan anak,  termasuk teman khayalan.

Anak-anak yang mengikuti penelitian itu dipantau kembali setelah mereka bersekolah yaitu ketika usia mereka tujuh tahun. Para peneliti terkejut mengatahui bahwa 65% anak-anak hingga usia tujuh memiliki atau pernah memiliki teman khayalan.

Seperti pada penelitian lain di Inggris dimana teman khayalan berupa mainan khusus diikut sertakan, 1800 anak mengisi kuesioner mengenai teman khayalan. 46% dari mereka mengungkapkan teman khayalan yang mereka miliki sekarang atau pernah mereka miliki, termasuk 9% yang berusia 12 tahun.

Munculnya teman khayalan sering dianggap sebagai tahap normal dalam perkembangan anak. Anak-anak yang memiliki teman khayalan umumnya memilki kemampuan sosial yang baik, imajinatif, menyukai cerita dan bermain pura-pura (pretend play). Mereka suka bermain bersama teman, dan pada waktu tidak ada teman mereka mengundang teman khayalan untuk bermain bersama mereka.

Anak-anak ini juga mengundang teman-teman khayalan bila mereka merasa sedih atau tidak nyaman tentang sesuatu yang terjadi atau sesuatu yang dikatakan orang lain tentang mereka.
Sebagian anak curhat tentang masalah mereka kepada teman khayalan. Yang lain bermain dengan teman khayalan sehingga pikiran mereka teralih dari masalah dan perasaan tidak bahagia terlupakan. Anak-anak yang pernah mengalami kejadian traumatik mungkin juga mencari suport dari teman khayalan. Anak-anak yang lebih besar cenderung menyembunyikan teman khayalan mereka karena menyadari bahwa orang tua mungkin akan menentang.

Dr. Karen Majors mewawancara anak-anak usia lima hingga sebelas tahun dan orang tua dari anak-anak yang lebih kecil. Semua anak-anak itu mengatakan bahwa teman khayalan penting bagi mereka dan mengapa mereka bergaul dengan teman khayalan. Kesimpulan yang diambil adalah teman khayalan umumnya merupakan bagian yang sangat positif dalam kehidupan anak. Teman khayalan memberikan rasa senang, menghibur dan menemani bermain. Mereka juga baik hati dan senang menolong, pendengar yang baik dan selalu ada bila dibutuhkan.

Teman khayalan dapat membantu perkembangan moral anak. Anak-anak dapat menimpakan kesalahan kepada teman khayalannya. Misalnya ketika ibunya bertanya, “Kok majalahnya robek?” Diandra menjawab, “Bukan Dian, ma. Tadi Wan yang tarik.” Anak anda mulai dapat membedakan yang benar dan yang salah namun belum siap untuk menanggung tanggung jawab penuh, jadi ia menyalahkan teman khayalannya.

Kadang-kadang teman khayalan tidak selalu kooperatif dan menyenangkan, namun ini justru membuat mereka lebih realistis dan menarik bagi anak-anak dan kadang-kadang membantu anak mengekspresikan perasaan mereka pada saat menghadapi masalah.

Pada ilustrasi yang kami ambil dari komik Calvin and Hobbes, anda dapat melihat bahwa Hobbes yang sebenarnya adalah sebuah boneka macan, menjelma menjadi macan besar yang dapat melakukan apa saja dalam pandangan Calvin.

Tips untuk orang tua
·         Perlakukan teman khayalan anak anda dengan respek, tanpa menarik terlalu banyak perhatian anak  kepadanya
·         Jangan larang anak bermain dengan teman khayalan. Anda bahkan boleh bergabung bila anak mengajak, namun jangan mengambil peran terlalu besar. Beri anak kesempatan untuk mengarang cerita dan belajar mengeksplorasi pikiran dan perasaannya sendiri.
·         Bila anak menyalahkan teman khayalannya, gunakan sebagai kesempatan mengajarnya. Misalnya Wan menumpahkan minuman, ibu Diandra dapat mengatakan, “Ngga apa-apa, sayang. Tapi kamu bantu Wan membersihkannya ya.”

Kapan Anda perlu khawatir?
Anda tidak perlu mengkhawatirkan kehadiran teman khayalan kecuali bila menyebabkan anak anda menghindari interaksi dengan anak-anak lain atau mengalami stres dan tidak nyaman bersama teman-teman sungguhan. Bila ini terjadi, anda mungkin memerlukan bantuan profesional. Karena teman khayalan anak anda mungkin  anak anda mengalami kecemasan terhadap kehidupan sosial yang nyata dan menggunakan teman khayalan untuk melindungi dirinya.

Sebagian anak mempertahankan teman khayalannya lebih lama dari yang anda kira. Namun ketika anak bertambah dewasa dan lebih berkembang kemampuan sosial, kognitif dan emosionalnya, mereka biasanya menyadari bahwa teman-teman ini hanya khayalan semata.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar