GAYA PENGASUHAN ANAK



Ada banyak cara mengasuh anak . Sebagian orang tua membesarkan anak dengan melanjutkan tradisi pengasuhan orang tua mereka. Sementara orang tua lain lebih mendengarkan nasihat teman. Ada juga yang rajin membaca buku parenting dan mengikuti seminar.


Tidak ada satu carapun yang mutlak benar. Namun , penelitian selama lebih dari 40 tahun menunjukkan bahwa ada praktek pengasuhan anak yang paling efektif dan kemungkinan besar menghasilkan anak-anak yang positif dan berhasil.

Dimulai dari penelitan oleh Dr. Baumrind, University of California, Berkeley, yang bertujuan mencari strategi parenting yang paling memungkinkan untuk membentuk anak yang mandiri, cakap, dan penuh kasih, muncullah 4 gaya parenting.

Ada 2 elemen penting dalam gaya parenting, yaitu derajat respon (kehangatan, suport) orang tua dan tuntutan (kontrol, monitoring, dan disiplin). Orang tua, digolongkan menurut derajat suport dan tuntutannya pada anak menjadi  4 gaya: Otoriter, Cuek, Otoritatif, Permisif.

Kedua elemen, Suport dan Tuntutan, merupakan faktor penting dalam pengasuhan anak. Namun yang lebih penting lagi, yang menentukan keberhasilan anak dalah INTERAKSI antara kedua elemen tersebut. Suport ataupun kehangatan orang tua merupakan prediktor bagus bagi perkembangan anak yang sehat, tapi menjadi lebih bagus lagi jika dibarengi dengan tuntutan ataupun disiplin yang sesuai.

Apa gaya parenting anda?

Otoriter.  Orang tua yang otoriter selalu berusaha mengontrol dan memaksakan kehendak pada anak. Mereka memiliki disipin yang kaku, dan biasanya dilakukan tanpa ekspresi kehangatan dan kasih sayang. Mereka memiliki standard perilaku yang kaku dan suka mengkritik anak jika tidak patuh. Mereka mendikte anak apa yang harus dilakukan, memaksa anak untuk patuh dan tidak memberikan pilihan bagi anak.

Orang tua otoriter biasanya tidak menerangkan pada anak alasan dibalik permintaan mereka. Jika anak mempertanyakan perintah orang tua, merka akan menjawab: “Jalankan saja, tidak usah banyak tanya,  atau kamu mau dihukum?”

Orang tua cenderung memfokuskan pada kesalahan anak ataupun perilaku yang tidak disetujui orang tua, bukan pada perilaku anak yang positif. Anak dikritik, dimaki, atau dihukum, seringkali dengan kasar, jika tidak menurut aturan. Anak dari keluarga otoriter biasanya tidak belajar untuk berpikir mandiri dan tidak berusaha memahami mengapa orang tua menuntut perilaku tertentu.

Permisif. Orang tua permisif menyerahkan kontrol sepenuhnya pada anak. Sangat sedikit, atau hampir tidak ada, aturan yang diterapkan di rumah. Kalaupun mereka menetapkan aturan biasanya tidak diterapkan secara konsisten. Mereka tidak suka diikat rutinitas. Mereka ingin anak untuk merasa bebas. Orang tua tidak menciptakan batasan, disiplin, ataupun tuntutan bagi perilaku anak. Mereka cenderung menerima anak apa adanya dan tetap hangat pada anak yang nakal sekalipun.

Orang tua permisif memberikan pilihan sebanyak mungkin pada anak, bahkan ketika anak jelas-jelas tidak mampu membuat pilihan yang bertanggung jawab. Mereka menerima saja, perilaku baik atau buruk, dan tidak berkomentar apakah perilaku tersebut berguna atau tidak. Mungkin mereka merasa tidak mampu untuk mengubah perilaku anak, atau mereka memilih untuk tidak terlibat dan menghindari pertentangan.

Cuek. Orang tua cuek mengabaikan perasaan anak. Mereka menginginkan emosi negatif anak untuk segera berakhir. Biasanya mereka mengalihkan perhatian anak untuk menghentikan emosi anak. Mereka tidak berusaha menyelesaikan masalah dengan anak dan percaya saja bahwa problem akan pergi dengan sendirinya. Orang tua cuek lebih mengkuatirkan cara mengakhiri emosi daripada memahami emosi itu. Mereka cenderung mengecilkan masalah dan mengabaikannya sehingga bisa dilupakan.

Efek dari gaya pengasuhan cuek, anak belajar bahwa perasaan mereka salah, tidak tepat dan tidak penting. Anak percaya bahwa mereka sudah salah dari sononya ataupun salah desain. Mereka kesulitan mengatur emosinya. Anak-anak tersebut belajar untuk mengabaikan perasaannya dan tidak belajar untuk mengenali dan mengatasi emosinya.

Demokratis. Orang tua yang demokratis membantu anak untuk belajar bertanggung jawab dan memikirkan konsekuensi dari perbuatannya. Orang tua melakukannya dengan cara menerangkan ekspektasi mereka dengan jelas dan sesuai dengan usia perkembangan anak. Mereka juga mengambil waktu untuk menerangkan alasan tuntutan mereka. Lebih penting lagi, orang tua memonitor perilaku anak untuk memastikan bahwa anak mengikuti aturan dan harapan orang tua.

Orang tua melakukan semua itu tidak dengan kekerasan, namun dengan penuh kehangatan dan kasih sayang. Mereka sering kali “menangkap perilaku positif anak” dan mendorong perilaku yang baik, bukannya memfokuskan  pada perilaku buruk. Misalnya orang tua meminta anak untuk mengembalikan mainannya karena: “supaya orang lain tidak tersandung dan agar mainan tidak rusak terinjak.”

Orang tua juga memberikan pilihan pada anak:”Mau mandi dulu atau mengerjakan PR dulu?” Tanggung jawab dilatih sesuai usia anak, mulai dari tanggung jawab pribadi seperti mandi sendiri sampai tugas membantu keluarga. Orang tua membimbing perilaku anak dengan mengajar bukan dengan hukuman. Orang tua demokratis juga tegas, disiplin dan konsisten dalam mentaati aturan yang mereka terapkan.

Gaya pengasuhan mana yang anda terapkan selama ini? Mungkin anda berada di tengah-tengah. Pikirkan apa yang anda harapkan untuk dipelajari anak anda? Penelitian menunjukkan bahwa hasil yang paling positif bagi anak muncul ketika orang tua menerapkan gaya demokratis. Anak yang diasuh oleh orang tua permisif cenderung menjadi agresif, sedangkan anak orang tua otoriter cenderung penurut dan memiliki harga diri rendah. Anak orang tua cuek memiliki prestasi rendah dan minder. Tak ada satupun gaya pengasuhan yang jalan jika tidak dibarengi ikatan kasih sayang dengan anak anda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar